Tiada Bendera

Bandung Mawardi

DI kampung-kampung, bocah-bocah suka bermain bulutangkis. Mereka memiliki panutan seperti para pemain Indonesia di televisi. Siaran di televisi membuat mereka ingin berbahagia dengan bulutangkis. Di jalan atau pekarangan, bocah-bocah berteriak, tertawa, dan menangis gara-gara bermain bulutangkis. Mereka menggunakan raket belum tentu mahal. Gagal beraket, ada bocah menggunakan triplek, piring gembreng, atau tutup panci. Segala benda bisa saja digunakan bermain bulutangkis. Mereka merasa seperti bermain di lapangan tampak mata saat menonton siaran di televisi. Pada suatu masa, bocah-bocah ikut terharu dan menangis melihat para pemain Indonesia meraih medali emas dalam Olimpiade atau meraih Thomas-Uber Cup. Mereka melihat pula bendera merah putih dalam pemberian piala dan hadiah.

Pada suatu hari, bocah-bocah mungkin menonton bersama orangtua untuk final Thomas Cup diadakan di Denmark. Siaran di TVRI dengan gambar jarang bening memunculkan persekutuan penonton mendukung para pemain Indonesia. Keluarga-keluarga di depan televisi berdoa, berteriak, dan tepuk tangan.

Babak-babak agak mendebarkan. Indonesia menang! Dugaan Indonesia bakal kesulitan meladeni Tiongkok tak terbukti. Bulutangkis itu olahraga milik keluarga-keluarga di Indonesia. Bulutangkis itu memberi keringat dan hiburan. Di depan televisi, bulutangkis itu tontonan mengandung dendam, kebanggan, dan tangisan.

Bulutangkis itu memberi keringat dan hiburan. Di depan televisi, bulutangkis itu tontonan mengandung dendam, kebanggaan, dan tangisan.

Thomas Cup berhasil diraih! Bocah-bocah mungkin bermimpi kelak ingin membela Indonesia dalam Thomas-Uber Cup. Mereka ingin jutaan orang Indonesia girang. Di pertandingan-pertandingan sengit, mereka memiliki janji mau menang. Janji terindah adalah melihat bendera Indonesia berkibar. Merah-putih itu kemuliaan.

Sekiah hari lalu, bocah-bocah tak melihat bendera merah putih. Di televisi, mereka melihat bendera PBSI. Bocah pun minta keterangan dari orangtua. Geleng-geleng kepala. Peristiwa itu membingungkan. Orangtua tak mudah menjawab. Merah-putih absen bisa menjadi ingatan kecewa para bocah telanjur bermimpi membela dan memuliakan bendera dalam pelbagai pertandingan bulutangkis.

Mereka boleh malu. Bendera merah-putih tak berkibar di Denmark. Mereka mungkin lirih bersenandung lagu lama untuk penebusan. Di sekolah, mereka sudah diajarkan lagu-lagu nasional (wajib) dalam upacara dan peringatan hari-hari besar nasional. Ada lagu mudah teringat berjudul “Berkibarlah Benderaku”. Mereka tak mengetahui nama penggubah lagu. Di sekolah, guru-guru jarang mengucapkan nama Ibu Sud. Di rumah, bocah-bocah menembang “Berkibarlah Benderaku” tapi orangtua belum tergerak mencarikan keterangan atau pengisahan. Bocah cuma mengerti bendera demi nasionalisme.

Pada 1961, terbit buku berjudul Ketilang. Buku cetakan ke-9 berisi lagu-lagu gubahan Ibu Sud. Di halaman 26, dimuat lirik lagu berjudul “Berkibarlah Benderaku”. Kita mengutip utuh: Berkibarlah benderaku lambang sutji gagah perwira/ Di seluruh pantai Indonesia kau tetap pudjaan bangsa/ Siapa berani menurunkan engkau serentak rakjatmu membela/ Sang merah putih jang perwira berkibarlah selama-lamanja// Kami rakjat Indonesia bersedia setiap masa/ Mentjurahkan segala tenaga supaja kau tetap tjemerlang/ Tak gentar hatiku melawan rintangan tak gojang djiwaku berkorban/ Sang merah putih jang perwira berkibarlah selama-lamanja.

Ibu Sud memberi warisan lagu mengenai bendera. Lagu teringat saja ketimbang dirundung kecewa selama seminggu mengetahui bendera merah-putih tiada dalam Thomas Cup di Denmark. Konon, kecewa bakal bertambah panjang. Indonesia sedang bermasalah! Bocah-bocah tak mengerti dan bingung. Mereka masih ingin bermain bulutangkis tapi tiada jawaban atas impian bila kelak menang atas nama Indonesia ada pengibaran merah-putih. Di Indonesia, bocah-bocah masih mengerti bendera merah-putih tapi menanti jawaban gamblang untuk melihat merah-putih atas kemenangan-kemenangan dalam bulutangkis. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s