Makanan “Super”

Naila

HARI bersuasana dingin selalu mengundang banyak santapan. Umumnya dapat dipastikan kenikmatannya melebihi hari-hari saat matahari terasa menyengat. Pilihan-pilihan hidangan “terpaksa” berkuah. Sebab, tenggorokan dan perut menginginkan kehangatan. Satu jenis santapan biasa tersajikan kala itu yang memantik perut merengek meminta jatah, disusul air liur menetes. 

Entah ada kekuatan magis apa di dalam santapan itu. Yang jelas sudah menjadi keajaiban ketika sedang atau selesai dimasak oleh seseorang yang berada jauh pun tahu hidangan apa itu tanpa perlu melihatnya. Hanya karena secara tidak sengaja mencium aromanya, selang beberapa saat pikiran kita memunculkan sebuah gagasan: “Ada yang makan mi instan tapi tidak ngajak-ngajak.”

Mulanya memang berasal dari sepintas bau yang lewat. Lalu, merembet ke bagian tubuh lainnya. Sekali suap seketika membuat ketagihan. Ingin makan lagi dan lagi, mencoba semua varian rasa yang ada. Hingga, banyak orang pasti ingin menyantapnya. 

Kelebihan-kelebihan dalam mi instan senantiasa digaungkan. Iklan di majalah Femina, 7 Juli 1988, ikut pula mendukung. Begini salah satu halamannya turut memamerkan: “Indomie membawa sekaligus 3 manfaaat lebih untuk anda sekeluarga: gizi lebih tinggi, vitamin dan mineralnya lebih kaya, serta rasanya lebih lezat dibanding mi instant lainnya.” Lembaran itu meyakinkan kepada organ dalam tubuh kita untuk tidak apa-apa menelan mi instan sebanyak yang diinginkan. Sebab, kali ini gizi serta mineral yang terkandung di dalamnya lebih tinggi dan kaya. Selain kelezatan tiada banding, mi instan betul-betul unggul dalam hal penghematan finansial. Goceng sudah dapat, naik sedikit bisa tambah telur. Mi instan makanan superlah! 

Tetapi, di balik itu semua kita tahu jika mi instan bukan santapan yang baik untuk dicerna tubuh. Tercatat dalam buku berjudul Eating Clean: 20 Langkah Mudah Membiasakan Makan Sehat susunan Inge Tumiwa-Bachrens: “Makanan cepat saji mengandung banyak lemak. Sayangnya, jenis lemak yang salah, yaitu lemak tidak sehat yang dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi tubuh manusia.. Makanan cepat saji juga tinggi kandungan karbohidratnya, namun lagi-lagi sayangnya jenis karbohidrat yang salah, yaitu karbohidrat sederhana yang kosong nutrisi.” 

Kesehatan tentu akan terus tergerus bila kita melaksanakan apa yang dikata iklan-iklan “menyesatkan” itu. Yang pada kenyataannya ajakan “gizi lebih tinggi” ditemukan kosong nutrisi. Ini bukan perkara siapa yang dapat bertahan hidup lebih lama, tetapi tentang seberapa layak kita menjadi manusia yang pandai merawat fisik yang telah Tuhan berikan.


Naila, remaja suka menulis, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s