Yang Bekerja di Desa

Muhammad Safroni

Terima kasih kepada

Cak Sukardi

Petani pepaya dari Sawahan

TULISAN pendek disuguhkan di lembar awal sebelum daftar isi. Sepertinya novel ini terinspirasi dari salah seorang petani pepaya di Sawahan. Ucapan sederhana, namun penting. Secara tidak langsung, tulisan ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengingat jasa orang lain.

Novel berjudul Demi Ayah Tercinta gubahan Marjadi HS. Sasaran novel ini pembaca anak-anak. Diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta, 1983. Pada periode 1980-an, PT Gramedia banyak menerbitkan novel anak. Sebagai kekhasan ada tambahan logo di ujung kiri atas terdapat siluet kancil. 

Beberapa novel terbitannya memiliki layout yang senada. Komposisi bagian atas kiri berupa logo siluet kancil dan sebelah kanan ujung logo PT Gramedia. Di tengah atas terdapat tulisan pengarang, di bawahnya judul novel. Berlatar belakang blok warna. Blok warna tersebut senada dengan sampul belakang. Di bawah tulisan terdapat gambar ilustrasi. Pada novel Demi Ayah Tercinta, ilustrasi digarap oleh Adheek.

Novel berawal berlatar di Desa Sawahan, Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur. Suguhan suasana desa muncul di sepanjang cerita. Suasana yang digambarkan waktu itu: terang bulan. Seperti biasa, anak desa bermain bersama teman-teman sebaya mereka di luar rumah di bawah sinar bulan. Waktu dihabiskan dengan bersuka cita bermain berbagai macam permainan ala kampung. 

Marjadi HS nampak dengan sengaja menggambarkan kenyamanan hidup di kampung ketimbang di perkotaan. Demi Ayah Tercinta di bagian awal secara gamblang membandingkan suasana di Turen yang merupakan kota-kecamatan dengan Desa Sawahan. 

Bulan hanya satu. Bulan yang selalu dilihatnya di Kota Turen, juga bulan yang dilihatnya di Desa Sawahan. Tampak berbeda, karena dilihat di tempat berbeda pula. Turen hanya sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tetapi, di sana telah banyak gedung tinggi dan kendaraan hilir-mudik. Terang benderang oleh lampu listrik. Maka, bulan pun kelihatan pucat. Purnama tidak bisa lagi menebarkan sinarnya yang keperakan. Nyala lampu listrik membuat sinar perak dari bulan menjadi pudar.

Pada novel Marjadi HS lainnya berjudul Ketika Wabah Berjangkit diterbitkan oleh penerbit yang sama dan tahun terbit yang sama. Di bagian awal novel juga menggambarkan suasana desa yang nyaman. Suasana yang tidak didapatkan saat tinggal di kota.

Sungguh mengharukan. Begini ramah orang desa. Mudah akrab. Suka bertegur sapa dan saling menolong. Berbeda dengan keadaan ketika Pino tinggal di kota besar. Orang-orang kota besar umumnya tak acuh. Mereka telah sibuk seharian dalam urusan masing-masing. Tak sempat lagi saling bertandang dan beramah tamah.

Pada era 1970-an dan 1980-an, masyarakat berbondong-bondong hijrah dari desa ke kota-urbanisasi. Mereka memiliki dalih mengadu nasib. Berharap keberuntungan didapat saat tinggal di kota. Kota dirasa lebih menjanjikan. Mereka memiliki impian kuat menjadi orang kaya di kota. Marjadi HS dengan sengaja menggambarkan hidup di desa lebih nyaman dibanding hidup di kota yang terbaca dalam novel Demi Ayah Tercinta.

Apakah dirimu pernah mengalami semasa kecil berlari bersama bulan? “Bulan itu selalu mengikutiku”, kalimat ini acapkali muncul dari anak-anak yang sedang berlarian di bawah sinar bulan. Terang bulan membawa kebahagian semua anak. Mereka bernyanyi, berlari, jitungan (perang-perangan), dan lain sebagainya. Salah satu lagu yang dinyanyikan masih tetap diingat sampai saat ini.

Yo pra konco dolanan neng njaba

Padhang mbulan, padhange-kaya rina

Rembulane seng ngawe-awe

Ngelingake ojo pada turu sore.

Di dalam bahasa Indonesia lagu itu berarti:

Mari teman-teman bermain di halaman

Terang bulan bagaikan siang

Bulan memanggil-manggil

mengigatkan kita jangan tidur sesore ini.

Lagu berbahasa Jawa, tetapi tetap populer. Kehidupan desa dihadirkan dengan hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak berkumpul dan bermain. Sangat berbeda dengan suasana saat ini. Sebagian besar anak-anak bermain di rumah. Mereka disibukkan dengan bermain telepon pintar, lebih asyik jika dibandingkan bermain lari-larian bersama teman-teman yang lain. Selain itu, televisi dengan berbagai macam pilihan saluran menjanjikan banyak pengalaman di depan layar kaca.

Sangat berbeda cerita yang disuguhkan Marjadi HS dalam novel ini. Kepemilikan televisi bukanlah awal dari kebahagian. Perlu diketahui sebelumnya. Pada masa 1980-an televisi menjadi barang mewah. Tidak semua orang sanggup membeli seperti sekarang ini. Di setiap desa yang memiliki televisi hanya beberapa orang saja. 

Dika, nama tokoh utama dalam novel. Bocah kecil ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Jika mendengar kata televisi, Dika selalu diam.  Seperti yang ditanyakan Bowo, saudara Dika dari desa Sawahan.

“Senang ya, punya pesawat televisi?”

Dika tak menjawab. Memang senang kalau di rumah ada pesawat televisi. Bisa menonton film kartun, bisa juga mempelajari ilmu pengetahuan yang belum diajarkan di sekolah. Tetapi setiap mengingat pesawat televisi itu, Dika menjadi sedih.

Kesedihan Dika sangat beralasan. Karena televisi yang di rumah dibeli dari hasil  Asuransi Jasa Raharja, yang didapatkan karena ayahnya kecelakaan. Ayah Dika harus kehilangan sebelah kakinya karena kecelakaan. Setiap hari ayah Dika hanya menonton televisi dan acapkali marah-marah tanpa sebab ke semua keluarga.

Keceriaan, tanggung jawab, kehangatan seorang ayah sirna bersama sebelah kakinya yang buntung. Trauma melanda berkepanjangan. Suasana dalam keluarga Dika mendadak menjadi suram. 

Trauma memang tidak mudah disembuhkan. Di dalam kamus kita menemukan pengertian trauma merupakan keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Sehingga, proses penyembuhannya pun membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Variasinya berbeda-beda, sesuai dengan besar kecilnya penyebab trauma itu terjadi.

Trauma ini menghantui ayah Dika. Dengan kebuntungan sebelah kakinya, dia merasa menjadi orang yang tidak berguna. Menjadi pemarah, jika keinginannya tidak segera dituruti dan semua orang di sekitar akan menjadi sasaran.

Novel terbagi menjadi delapan bab. Bab 1-5 memberikan penjelasan tentang proses menanam pohon pepaya. Desa Sawahan merupakan salah satu tempat yang dikenal memiliki hasil buah pepaya berkualitas baik. Saat panen, pepaya dikirim ke beberapa kota sekitar. Surabaya, Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya.

Dengan kegigihan dan ketekunan Dika dengan dibantu teman-temannya akhirnya mereka bisa memanfaatkan lahan di belakang rumah untuk menanam pohon pepaya. Proses penanaman dilakukan sesuai dengan arahan dari yang berpengalaman. Di novel ini tokoh yang menjadi teladan petani pepaya bernama Mbah Kardi. Pembaca menduga,  Mbah Kardi ini adalah sosok orang yang di munculkan di awal buku: Cak Sukardi.

Suatu ketika, kesadaran ayah Dika muncul setelah melihat jerih payah Dika saat bekerja keras menanam pepaya di halaman belakang rumah. 

“Aku malu mengaku sebagai ayahnya. Aku tidak lebih pintar darinya.  Aku kalah. Bulan-bulan yang lalu hanya menghabiskan dengan duduk  merenungi nasib malang. Sampai Pak Darmanto pun menertawakan aku. Pak Darmanto orang baik dan sangat sopan. tetapi sekarang dia begitu sering mengejekku. Bahkan menghinaku! Ya, aku tak berharga lagi….”

Paragraf ini yang mengawali proses kesadaran ayah Dika. Dia sudah sadar, memulai menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah. Dengan bekerja keras untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, meskipun dengan badan yang sudah tidak lengkap lagi.


Muhammad Safroni, pengamat bacaan an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s