Dawet

Uun Nurcahyanti

PERSIAPAN kelahiran manusia tidak boleh menjadi tahap nihil makna rasa. Upacara selamatan tujuh bulanan atau mitoni, dalam tradisi Jawa, memiliki uborampe khas yaitu rujak dan dawet. Buah dan minuman biasanya sekadar jadi pemantas hidangan perjamuan suatu upacara. Dalam tradisi tingkeban ini, dawet menggagalkan imajinasi santapan dalam selametan. Rujak dan dawet mengawali kelahiran manusia. Upacara mesti memuat ajaran kehidupan bagi keluarga calon jabang bayi dan warga lingkungan tempat sang jabang bayi kelak bertumbuh. Dawet dan rujak menjadi simbolitas diri dan kesadaran manusia 

 Seporsi minuman dawet terdiri dari juruh gula jawa atau gula aren, cendol, dan santan. Bisa ditambahkan irisan nangka. Cendol yang berwarna hijau bercampur dengan putih santan dan warna coklat pekat dari gula jawa atau aren dibarengi aroma daun pandan dan harum nangka. Segar dan adem! 

Dawet atau cendol berbahan dasar singkong, beras maupun sagu yang ditepungkan, diuleni, lantas dibentuk dalam air mendidih. Pewarna hijau berasal dari daun pandan suji. Hijau dalam tradisi Jawa merupakan warna yang menyiratkan kesan bocah, lugu, polos. Memiliki kemudaan kental, belum memiliki banyak pengalaman. Sehingga, merasakan diri butuh belajar, butuh orang lain untuk menyertai sinau. Simbolitas diri yang belum mandiri. Adanya diri dengan kesadaran feqir, yaitu berkebutuhan untuk berkembang dan memaksimalkan potensi anugerah Tuhan. Diri butuh mencari teman, sedulur, orang-orang tua, dan guru sebagai pembimbing perjalanan hidup.

Santan berasal dari kelapa tua menandai diri manusia yang siap memproses diri hingga matang, dewasa. Diri yang siap dibedah, didedah, dipasrah untuk diambil sarinya. Menandai sebuah pribadi berkarakter ngayomi, luwes, adaptif, dan  siap mengabdi. Juruh gula kelapa atau gula aren menyiratkan puncak pemuliaan diri manusia. Gula aren atau gula kelapa berasal dari sari manggar, bunga kelapa.  Bunga secara fisiologi merupakan penanda khas siklus puncak tanaman. Sari bunga merupakan bahan utama madu, yang konon sangat berkhasiat bagi tubuh manusia maupun hewan. Gula aren atau gula kelapa melambangkan totalitas dalam mengalami kehidupan. Sementara, nangka melambangkan cahaya. Warna kuning membawa narasi ketauhidan. Sebuah tabungan kerinduan akan perjumpaan dengan Sang Cahaya Maha Cahaya lewat utusan-Nya. Dalam segelas dawet termaktub doa untuk calon jabang bayi untuk kelak tidak lupa pada sejatinya diri. Perjalananan hidup menempa manusia menjadi matang, membentuk manusia sesuai kodrat alamiahnya. 

Dalam segelas dawet termaktub doa untuk calon jabang bayi agar kelak tidak lupa pada sejatinya diri. Perjalanan hidup menempa manusia menjadi matang, membentuk manusia sesuai kodrat alamiahnya.

Dawet, secara bahasa, berarti ngudari sing ruwet. Menguraikan segala hal yang macet, mampet, bertumpuk-tumpuk, dan tertunda-tunda. Kondisi yang lumrahnya datang sebagai pahala dari kemalasan manusia. Lha, ndilalah, rasa malas acapkali dianggap wajar sebab adanya alter ego sebagai bagian dari keberadaan manusia. Sebagai dalih, manusia justru kerap memproduksi jargon dan menganggapnya kebenaran tak tersangkal bila banyak pengikutnya. Saat suatu komunitas perkauman manusia tidak lagi menggerakkan bahasa untuk mewartakan buah, biji dan kembang diri sebagai fondasi dasar peradaban kaum manusia, ruwetlah sistem keberhidupan masyarakatnya. Sebelum manusia lahir, dibabarkan ke dunia, upacara selametan dibeber dengan berbagai simbolitas sebagai doa untuk calon jabang bayi, sekaligus pepiling bagi keluarga, kerabat dan lingkungan masyarakat. Keruwetan dalam hidup tak pernah disebabkan oleh sesuatu di luar diri manusia. Untuk itu dihadirkan minuman dawet dalam upacara penyambutan calon manusia.

Upacara mitoni mengajak kerabat turut merasakan kesegaran dawet dan rujak sebagai bentuk kesiapan diri perempuan menjadi bagian dari sistem hidup bermasyarakat. Menjadi ibu mengukuhkan pembauran diri perempuan pada lingkungan tempat tinggalnya. Beragam pribadi membentuk kultur hidup masyarakat. Dinikmati bersama-sama dalam doa serta pengharapan agar ibu dan bayi yang akan dilahirkan selamat dan kelak mampu membaur dalam perkauman manusia.


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare (Kediri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s