Saya, Gara, Bahasa Jawa

Agita Y

SEBENARNYA, saya suka mengajarkan bahasa Inggris kepada anak saya, Gara. Namun, dia merasa tidak nyaman saat mendengarnya. Sejak kecil, dia akan minta agar saluran televisi diganti jika acara yang ditayangkan menggunakan bahasa Inggris. Entah, mengapa dia tak nyaman. Padahal, lagu-lagu anak yang saya nyanyikan atau putarkan banyak yang berbahasa Inggris. Bangga rasanya jika sekecil itu bisa berbahasa asing karena saya sendiri waktu kecil belajar bahasa Inggris sejak kelas 1 SD. Memang keinginan belajar bahasa Inggris saya cukup besar waktu itu tidak seperti Gara. Maka, saya pun memilih tidak memaksa Gara harus mahir berbahasa Inggris, biar lebih alami saja. Lagipula, sekarang banyak kegiatan memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris saya sendiri hampir punah karena tidak digunakan. 

Kadang-kadang jika ada yang tidak dimengerti atau ingin tahu padanan kata dalam bahasa Inggris dan Indonesia, Gara akan bertanya pada saya. Maka, saat itulah saya bisa sedikit-sedikit mengajarkannya. Sehari-hari di rumah, saya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa biasa, bukan yang krama atau halus kecuali dengan yang tetangga yang lebih tua. Sama seperti di sekolah Gara, yang digunakan hanya bahasa Indonesia dan kadang bahasa Jawa.

Bahasa Jawa dulu diajarkan sebagai mata pelajaran khusus di sekolah sejak SD, disebut muatan lokal. Banyak anak tidak suka di kelas saya. Bahasa Jawa dirasa sulit karena dalam keseharian anak-anak lebih memakai bahasa Indonesia. Penyebab kesulitan, selain jarang dipakai, juga karena adanya tingkatan-tingkatan atau unggah-ungguh dalam berbicara. Bahasa untuk berbicara kepada orang yang lebih tua akan berbeda dengan bahasa untuk teman seumuran dan lain sebagainya.

Saat saya membaca tulisan di sebuah buku, ternyata penggunaan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya sangat dipengaruhi pemerintah dan birokrasi. Berikut ini salah satu kutipannya: “Pendeknya, modernitas dikhususkan untuk bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa asing, bukan untuk bahasa daerah. Bahasa Jawa–seperti juga bahasa-bahasa daerah lain–hidup dalam ketergantungan. Kiblatnya yang utama adalah pemerintah dan birokrasi, dan tugasnya yang utama adalah meminta dukungan dan perlindungan–kerap kali dengan nada merengek-rengek–atau berkeluh kisah tentang kikirnya dan piciknya pemerintah dalam hal pemeliharaan bahasa daerah.” 

Dengan berbekal bahasa Jawa pula saya pernah merasakan berada di atas panggung yang besar, sebuah kompetisi daerah yang menjadikan pemenangnya sebagai duta pariwisata. Saya berhasil memenangkannya waktu itu, namun penguasaan bahasa Jawa masih terbatas, sehingga menimbulkan rasa gugup saat mengisi sebuah acara di televisi. Apa daya karena saya tak terbiasa di rumah menggunakannya. Inilah yang menjadi refleksi saya. Dan mungkin penting untuk semua menyadari bahwa jika sebuah bahasa tak digunakan, secara tak disadari lama-kelamaan akan hilang atau punah, seperti tulisan Ajip Rosidi dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Kita (2018): “Banyak bahasa ibu di Indonesia yang sekarang sudah punah karena tidak ada lagi komunitas yang menggunakannya.”

Namun mau mengedepankan semangat menggunakan bahasa daerah pun tidak mudah juga. Pada praktiknya sulit. Saya sendiri bingung bagaimana mengajari anak saya bahasa Jawa yang baik yang halus. Apa membeli buku pelajaran? Saya sendiri tidak punya ilmunya. Bagaimana cara mengajarkannya? Apa kursus bahasa Jawa? Jelas anak tidak tertarik. Yang saya lakukan sementara selain bercakap-cakap sesekali dengan bahasa Jawa, saya juga menunjukkan cara berkomunikasi dengan tetangga di desa. Minimal saya sudah menjelaskan bahasa wajib unggah-ungguh seperti kula nuwun, mangga, dan nyuwun pangapunten. Lalu untuk pengetahuan tambahan, saya mengajak anak menonton film berbahasa Jawa dan bermain kartu dengan kosakata bahasa Jawa.

Minimal saya sudah menjelaskan bahasa wajib unggah-ungguh seperti kula nuwun, mangga, dan nyuwun pangapunten. Lalu, untuk pengetahuan tambahan saya mengajak anak menonton film berbahasa Jawa dan bermain kartu dengan kosakata bahasa Jawa.

Bermain kartu ini tak sengaja saya dapatkan idenya saat melihat sebuah unggahan di media sosial. Ada rubrik baru di situs www.kratonjogja.id berjudul “Tamanan”. Rubrik ini bisa diakses umum dan dimanfaatkan untuk anak-anak, sekolah atau keluarga bermain dan belajar bahasa Jawa, dengan media yag lengkap baik visual maupun audionya. Disebutkan di unggahan terbaru situs tersebut demikian: “Keraton Yogyakarta konsisten menghadirkan seri kartu bergambar dengan memuat informasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Harapannya, anak-anak usia dini mulai mengenal bahasa daerah. Orang tua juga makin menyadari pentingnya melestarikan kekayaan budaya tak benda yang berwujud bahasa dan budaya Jawa.” 

Kartu-kartu dalam bentuk digital tersebut bisa juga dicetak dengan media kertas sehingga bisa digunakan berulang-ulang. Versi audio digunakan sebagai panduan cara mengucapkannya dengan benar. Sebab “e” dalam bahasa Jawa (misalnya) memiliki 3 bentuk cara membacanya. “E” pada kata kewan akan berbeda dengan “e” pada kata ketan, berbeda pula “e” pada kata kelingan. Karena info-infonya menarik dan cukup bermanfaat, saya pun memencet tombol langganan artikel daring dari situs tersebut untuk mendapat info terbaru via e-mail. Saya pernah mengakses satu seri kartu hewan, saya ajak anak saya membaca bersama. Ya mau, ya bisa menirukan, tapi setelah selesai lalu apa, wong sehari-hari ya tidak digunakan. Jadi ini masih sebatas pengetahuan saja. Paling tidak, anak saya tidak lupa begitu saja bahasa Jawa sebagai bahasa daerahnya.

Saya mencatat pengamatan saya suatu hari saat anak saya Gara jajan kue leker di depan rumah. Saya mengamatinya dari jendela. Gara sering malu untuk berkomunikasi dengan orang lain yang tak dikenal seperti para penjual makanan keliling itu.

Nganggo gedhang ora?” tanya penjual.

“……” Gara diam.

Gedhang ngerti ora?”

“….” Gara masih diam, lalu dijawil kawannya yang berkata, “Pakai pisang nggak?” Teman Gara ini membantu menjelaskan. Mungkin dipikirnya Gara tidak tahu artinya gedhang.

Saat leker sudah jadi dan dibawa pulang dengan piring, saya bertanya pada Gara mengapa dia tak langsung menjawab pertanyaan si penjual. Gara bilang dia tahu gedhang tapi malu mau menjawab. Dia malu karena tak pernah menggunakan kata itu, terasa aneh dan kikuk menyebut atau mendengarnya. Namun, Gara bilang sudah menjawab sebenarnya kalau tidak ingin pakai pisang hanya saja suaranya terlalu lirih karena malu. Saya yang melihatnya dari jendela rumah rasanya gemes banget. Separah itukah sampai bingung dan malu menggunakan bahasa Jawa? Yang saya khawatirkan kalau teman-teman Gara menganggapnya nggaya karena berbahasa Indonesia.

Namun kini tak terasa sudah 2 tahun kami tinggal di desa ini. Gara banyak belajar menggunakan bahasa Jawa. Lumayan kosakatanya bertambah dan sering menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan. Nah, yang nyebahi adalah bahasa-bahasa tidak baik atau terdengar kasar juga turut diucapkan. Misuh, itu istilah yang lebih gampang. Kata bajigur dan asem sering mewarnai keseharian kala bermain. Saya risih mendengarnya. Pernah saya tegur dia dan menanyakan apa artinya. Dia juga bahkan pernah bertanya bajingan itu artinya apa. Ya, saya jelaskan saja sesuai asal katanya namun juga pesan agar tidak diucapkan sembarangan.


Agita Y., pedagang mi ayam dan penulis, tinggal di Jogjakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s