Ruang Anak Bajang (4)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan oleh Sindhunata di harian KOMPAS

Tujuh-episode keempat:

Swandagni ngotot menolak anaknya yang raksasa, dan hanya mau menerima bayi yang berwujud manusia. Ia menganggap bayi buruk rupa itu adalah buah dari perbuatan nafsunya yang dirangsang oleh tindakan sang istri. Betapapun istrinya beralasan siapa tahu anak mereka yang rupawan justru yang terlahir dari nafsu, bukannya cinta. Ia menutup mata akan kenikmatan yang dirasakannya, dengan mengingkari buah kenikmatan itu, sekalipun istrinya mengingatkan bahwa sebagai manusia, tak mungkin mereka melepaskan nafsu dari cinta. Sokawati berangkat dari Jatisrana untuk membuang anaknya yang berupa raksasa atas perintah suaminya, namun tidak sebelum ia mengucap sumpah akan balasan yang bakal diterima Swandagni atas kekejamannya pada putra mereka itu. Sokawati meninggalkan putra kesayangannya di batas hutan Jatisrana dengan perasaan galau karena merasa di balik wujud raksasanya, sang putra menyimpan kebaikan manusiawi. Setelah susuan terakhir, ia menyiapkan alas tidur berupa dedaunan campaka untuk putranya. Ia rangkai campaka untuk dikenakan pada leher sang putra sebagai kenang-kenangan. Oleh kilatan cahaya, kalung campaka ini berubah menjadi butiran mutiara. Setibanya di pertapaan, Sokawati tak sanggup menghalau kesedihannya, hingga kepedihan ini mengantarkannya pada kehidupan selanjutnya.

Sokawati terjebak di pangrantunan (alam penantian), tak bisa langsung memasuki surga. Dengan restu dewa, ia dibolehkan turun ke dunia untuk menemui putra yang telah dibuangnya. Anaknya kini tinggal di hutan Jatirasa dan berkeluarga dengan binatang hutan. Kisah pun berlanjut seperti disampaikan di bagian awal, ketika raksasa bajang bertemu dengan seorang perempuan cantik yang memperkenalkan diri sebagai ibunya. Ibu dan anak itu pun memuaskan rindu. Sokawati tak henti meminta maaf pada anaknya atas perbuatannya yang memalukan. Raksasa bajang baru memahami makna kerinduan yang selama itu selalu menghantuinya. Setelah keduanya mandi di pancuran telaga Sulendra, yang mengingatkan Sokawati pada kenikmatannya mandi di pancuran Jatisrana saat melakoni mitoni, Sokawati menceritakan alasannya meninggalkan sang putra. Bagaimana Swandagni hanya mau mengakui anak mereka yang berwujud manusia, juga usahanya menghibur sang istri dengan mengingatkannya untuk merawat anak yang mereka pertahankan. Hingga Swandagni bermaksud memberi nama pada sang putra, yang hanya menimbulkan kegundahan Sokawati yang juga mau memberi nama pada putra yang lain yang berwujud raksasa dan telah mereka buang.

Tema: penolakan pada nasib buruk, pengingkaran buah kenikmatan, perasaan bersalah yang menggerogoti jiwa, kerinduan yang terbalas, apakah nafsu selamanya buruk?

Karakter: Begawan Swandagni, Dewi Sokawati, sepasang bayi kembar

Lokasi peristiwa: pertapaan Jatisrana, hutan Jatirasa, telaga Sulendra, pancuran di telaga

Kutipan terpilih:

“Begawan, engkau adalah manusia yang hanya mau merasakan nikmat, tapi tak mau menerima buah dari nikmat itu, setelah tahu buah itu tidaklah sebaik seperti kau harapkan. Kau laknatkan nikmat.” (Eps. 22)

Seperti halnya dulu dia tidak bisa menolak nafsu ketika memberinya gairah dan nikmat, sekarang pun dia tidak bisa menghindar ketika nafsu membakarnya dengan rasa benci dan marah. (Eps. 22)

“Hidup adalah hidup, betapapun tak berartinya hidup itu, seperti hidupku ini. Mungkin karena itu, aku yakin, anakku akan tetap hidup, karena yang kuberikan padanya adalah hidupku sendiri.” (Eps. 24)

“Alam tak pernah membuang, malah memelihara siapa yang disingkirkan oleh manusia yang kejam.” (Eps. 26)

“Apakah nafsu itu mesti jelek dan buruk, Anakku, jika dalam dirimu yang terlahir dari nafsuku itu tersimpan kecantikanku yang tak pernah aku punyai dalam kebaikan dan kesucianku?” (Eps. 27)

Melawan kesedihan itu sama saja dengan mengingkari dirinya sendiri. Kalau ia mau meniadakan kesedihan itu sekarang, ia juga harus meniadakan kebahagiaan yang pernah ia alami. (Eps. 28)

Amsal:

Kerinduan mereka berdua menjadi dua anak panah, yang satu dari kayu pohon nagasari, yang lain dari kayu pohon kaniri. Dua panah itu melesat tinggi. Dan angkasa penantian bertebaran dengan bunga-bunga mewangi. Dua anak panah itu beradu. Suaranya menggetarkan, dan cahaya pun berkilatan. (Eps. 26)

Glosari: (burung) engkuk, (burung) cataka, (burung) cikru, campakamala, pangrantunan, (tumbuhan) tarulata

Episode 22: Swandagni kukuh menolak salah seorang putra kembarnya yang berwujud raksasa. Bahkan, ia tuduh istrinya telah tunduk pada nafsu. Sebagai pendeta, ia merasa harusnya hanya melakukan perbuatan cinta, yang suci, bukan nafsu, yang penuh noda. Ia menyangkal argumen Sokawati bahwa selama masih beraga, mustahil mereka memisahkan nafsu dari cinta. Namun, ia juga tak bisa membantah bahwa putranya yang tampan mungkin juga terlahir dari nafsu. Ia ngotot anaknya yang jelek adalah buah perbuatan tercela, sehingga harus dibuang. Menahan marah dan kecewa, Sokawati mengucap sumpah suaminya kelak akan menuai perbuatannya.

Episode 23: Sokawati keluar dari Jatisrana sambil menggendong bayi raksasanya. Kesedihannya dikawani suara cucur. Wajah anaknya yang jelek datang dan menghilang, sebagaimana kuwung. Membayangkan anaknya yang segera ditinggalkannya seorang diri di hutan belantara segera akan menemui ajal, ia sekaligus juga merasakan kuatnya daya kehidupan. Ia menyusui anaknya pada saat-saat terakhir, dan merasa bulanlah yang menyusu padanya. Ini mengingatkannya akan kenikmatan saat ia bercinta dengan suaminya, juga kala ia mandi di pancuran bambu sambil mendekap buah kelapa bergambar Dewi Ratih.

Episode 24: Sokawati tak habis-habis menciumi putranya, yang lalu menangis bahagia. Tangis bahagia si bayi menggugah engkuk dari tidur sedihnya. Sokawati percaya air susunya memberi daya hidup. Semakin dalam hutan, Sokawati semakin pedih Sokawati, bagaikan cataka yang putus asa mengharap hujan dan cikru yang bersedih. Di batas Jatisrana, bersiap meninggalkan anaknya, Sokawati terkesiap melihat anaknya tiba-tiba berubah rupawan. Namun, ketika Sokawati menimangnya lagi, kembali anaknya sebagai raksasa. Sokawati tersadar, jelek atau tampan, anak itu tetap anaknya. Setelah anaknya terlelap dengan susuan terakhir, Sokawati menyiapkan alas tidur untuknya dari daun-daun campaka.

Episode 25: Sebagai kenang-kenangan, Sokawati merangkaikan bunga campaka sebagai kalung penghias leher anaknya. Oleh kilatan cahaya, kalung bunga itu menjadi butiran mutiara. Dengan itu Sokawati meninggalkan anaknya, di luar hutan Jatisrana, dan terus mendengar tangis anaknya dari jauh yang diantarkan jati dan cemara. Setibanya di pertapaan Jatisrana, hubungan suami istri itu menjadi dingin akibat kepedihan Sokawati. Swandagni didera perasaan bersalah telah membuat istrinya berduka, namun juga merasa benar telah membuang buah dosa. Sokawati lambat laun  melayu, dan berpulang dalam keadaan nelangsa.

Episode 26: Meskipun surga sudah di depan mata, namun Sokawati belum bisa memasukinya. Ia mesti menunggu di alam pangrantunan. Oleh kebaikan para dewa, ia diperbolehkan turun ke bumi, ke hutan Jatirasa, untuk menemui anaknya yang dibuangnya di hutan. Maka, tergelarlah peristiwa sebagaimana dikisahkan pada bagian awal. Ibu dan raksasa bajang saling memuaskan rindu. Sang ibu lega melihat kalung mutiara campaka masih ada. Ia memohon ampunan putranya. Sang putra menemukan makna kerinduan yang selama ini tak dipahaminya. Kutilang dan kepodang turut meramaikan suasana di tengah kegembiraan binatang hutan.

Episode 27: Sokawati dan anaknya mandi bersama di telaga Sulendra di hutan Jatirasa. Saat telanjang, Sokawati merasakan kejujuran dirinya sebagaimana alam telanjang dalam keindahannya. Raksasa bajang mengagumi keindahan ibunya. Sokawati mandi di pancuran yang mengingatkannya saat upacara mitoni di Jatisrana. Sambil mendekap anaknya ke dadanya, ia membayangkan apakah sang putralah yang mewujud dalam buah kelapa yang mendatangkan kenikmatan baginya saat itu? Ia menyadari pada diri anaknyalah tersimpan kecantikannya, sehingga ketika anaknya ia buang, kecantikannya pun hilang.

Episode 28: Semalaman Sokawati bercerita pada anaknya tentang derita batinnya setelah diminta sang suami untuk membuangnya ke hutan. Ia merasa sangat bersalah dan mempertanyakan untuk apa lagi hidup ketika anaknya mesti mati. Suaminya menghiburnya dan memintanya mempedulikan anaknya yang masih ada, yang tampan rupawan. Sokawati makin sedih karena suaminya masih saja pilih kasih, membuatnya teringat pada anaknya yang dibuang. Derita ini harus dilaluinya, setelah kenikmatan ia rasakan. Swandagni bermaksud memberi nama anaknya yang tampan, mendorong Sokawati melakukan yang sama pada anaknya yang berwujud raksasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s