Pendidikan Seks di Rumah

Yunie Sutanto

Jika kita hendak membantu anak-anak kita membangun fondasi seksualitas yang sehat, kita perlu mengakui bahwa anak-anak akan berpikiran tentang seks, karena hal ini ada dimana-mana dalam masyarakat. Tugas anda adalah mengajarkan anak-anak anda bagaimana membedakan pesan yang baik dan buruk. (Jim Burns, Teaching Your Children Healthy Sexuality, 2008)

ANAK-ANAK zaman sekarang terbingungkan dengan beragam pesan tentang seksualitas. Di satu sisi, dunia sekuler lewat internet, film-film, lirik lagu, dan bacaan yang bermuatan seksual membombardir dengan pesan-pesan pornografi. Di sisi lain, otoritas rohani di rumah-rumah ibadah memberikan pesan keras tentang dosa berzinah dan betapa laknatnya melakukan seks di luar ikatan pernikahan. Dua kutub ekstrem ini membingungkan benak anak yang sedang mencari tahu perihal seks. Namun, ada satu suara yang sebetulnya sangat amat dibutuhkan anak-anak. Ya, siapa lagi kalau bukan suara para orangtua? Orang terbaik dan paling tepat untuk mengajarkan anak tentang seksualitas adalah orang tua! Pertanyaan timbul: Siapkah para orang tua mengedukasi anak-anaknya tentang seksualitas?

Menanamkan nilai-nilai terkait seksualitas pada anak sejak usia dini seharusnya menjadi tanggung jawab orangtua. Lantas, orang tua zaman sekarang terbingungkan dengan kesiapan diri dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya karena ketiadaan (langkanya) role model dari generasi pendahulu. Mengajarkan seksualitas kepada anak menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Orangtua lantas berharap sekolah dan guru saja yang memberikan pendidikan seksual bagi anak-anak. Orangtua memilih terima beres jikalau memungkinkan. 

Sering ditemui banyak orangtua yang rikuh dan merasa tidak nyaman pada saat hendak berbicara pendidikan seksual dengan anak mereka. Kendala mengomunikasikan perihal seksual bisa saja karena orang tua sendiri juga produk gagal di dalam area seksual. Katakanlah orangtua yang dulu hamil di luar nikah, bagaimanakah lantas ia hendak mengajar anaknya agar hidup menjaga kekudusan hingga pernikahan? Ada pula kasus orangtua yang mengalami trauma pelecehan seksual. Jika pernah menjadi korban pedofilia di masa kecil, maka akan sangat sulit mengomunikasikan perihal pendidikan seksual jika traumanya belum pulih. 

Padahal, pendidikan seksual seharusnya diperkenalkan sejak dini di rumah. Diawali pengenalan gender dan pelatihan  merawat dan menjaga kebersihan tubuh  lewat ritual mandi , serta menjaga kebersihan alat kelamin sehabis BAB dan BAK. Menyebut alat kelamin dengan sebutan yang benar juga perlu dibiasakan. Penis dan vagina. Jangan memberikan sebutan konyol untuk alat reproduksi.  Kualitas percakapan antara orangtua dan anak-anaknya sangatlah penting agar edukasi seksual berjalan lancar. Mengutip Jim Burns, anak-anak belajar paling baik ketika mereka berdiskusi-bukan waktu ibu atau ayah menggurui. Komunikasi yang sehat memungkinkan saling bertukar perasaan, bertukar pikiran dan menanamkan nilai-nilai hidup kepada anak-anak.

Mengutip Jim Burns, anak-anak belajar paling baik ketika mereka berdiskusi bukan waktu ibu atau ayah menggurui. Komunikasi yang sehat memungkinkan saling bertukar perasaan, bertukar pikiran, dan menanamkan nilai-nilai hidup kepada anak-anak.

Orangtua memiliki durasi waktu kebersamaan dengan anak yang paling panjang. Banyak kesempatan untuk berdiskusi yang termungkinkan muncul. Penting untuk memiliki komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak agar berbagai hal yang sensitif dan pribadi sekalipun dapat didiskusikan dengan nyaman. Komunikasi itu ibarat jendela untuk masuk ke dalam jiwa anak, kiranya jendela ini senantiasa terbuka bagi orang tua. Jika jendela ini tertutup, sehingga orangtua dan anak hidup dalam dunianya masing-masing, jarang ngobrol dari hati ke hati, tidak dekat secara emosional, tentunya akan lebih sulit untuk berbicara di area seksual.

Tujuan pendidikan seksual harus disadari dahulu dengan jelas. Menurut Jim Burns, bagi kebanyakan orangtua, tujuan utama pendidikan seksual adalah melakukan segala sesuatu untuk memastikan anak mereka tetap suci sampai hari pernikahan mereka. Padahal, bukan hanya sekadar menjaga diri tetap suci hingga pelaminan yang menjadi inti atas permasalahan terkait seksualitas, tetapi bagaimana agar anak memiliki integritas seksual yang berkesinambungan. Setelah menikah, bukankah godaan seksual akan terus ada? Banyak kasus pasangan berselingkuh dalam pernikahan. Belum lagi fenomena teman tapi mesra, gaya hidup free sex, dan isu LGBTQ yang banyak berpengaruh dalam gaya hidup masyarakat zaman sekarang. Lantas, jika demikian, pendidikan seksual macam apa yang dibutuhkan agar anak-anak menjadi pribadi yang berintegritas secara seksual? 

Mengutip Charlotte Mason dalam Ourselves: “Setiap hasrat ada waktunya untuk dipuaskan.” Hasrat untuk makan bisa dipuaskan saat rasa lapar muncul. Setidaknya sehari kita berkesempatan makan tiga kali agar sinyal lapar terpuaskan. Rasa mengantuk dan letih pun adalah sinyal bahwa tubuh berhasrat untuk istirahat dan tidur. Namun hasrat bereproduksi hanya bisa dipenuhi dalam ikatan pernikahan. Di luar ikatan pernikahan, kita tidak boleh sembarangan menyalurkan hasrat yang satu ini. Menjaga tubuh tetap kudus hingga pernikahan menjadi suatu pilihan yang diperjuangkan untuk bisa hidup berintegritas secara seksual. Bukankah semua hasrat itu bisa muncul dimulai dari pikiran? Menghindari memikirkan hal-hal tidak senonoh, agar tidak membangkitkan hasrat itu sebelum waktunya menjadi sebuah disiplin yang harus dilatih. Masih banyak hal-hal mulia yang bisa mengisi galeri pikiran seorang muda. Penguasaan diri dalam area pikiran ini akan didukung oleh pilihan bacaan dan tontonan, juga pilihan teman dalam pergaulan. 

Jadi, kapankah waktu yang tepat untuk memulai edukasi tentang seksualitas kepada anak? Orangtua mungkin takut salah waktu, entah itu terlalu dini saat anak sebetulnya belum siap. Ataukah, lebih fatal lagi terlambat, saat anak sudah mendapat konsep yang salah tentang seks. Konsep salah bisa ia dapatkan dari teman sebaya, internet, bacaan erotis, film biru, dan pengalaman seksual yang salah. Terlebih akses menuju pornografi yang hanya sejauh klik. Siapapun kini bisa dengan mudah tergiring kepada situs porno saat sedang menggunakan mesin pencarian, baik sengaja maupun tak sengaja. Seketat apapun sensor media yang dilakukan orang tua, kemungkinan anak zaman now terpapar konsep salah tentang seks dan pornografi sangatlah tinggi.

Pornea adalah kata Yunani untuk percabulan. Pornea juga adalah akar kata yang sama untuk kata pornografi. Perbuatan cabul memang dimulai dari benih pikiran salah yang dibiarkan terus-menurus bertumbuh lebat hingga akhirnya matang dalam bentuk tindakan nyata. Jika pikiran itu meluluk diberi asupan berupa film-film dan bacaan erotis, hasrat seksual yang bangkit seringkali akan terasa tak tahan untuk disalurkan. Inilah yang memicu remaja bermasturbasi ataukah mencoba-coba dengan lawan jenis saat ada kesempatan. Memang hanya ada satu jurus ampuh untuk melawan godaan di area ini: jurus kabur sebelum terjerat lebih kuat! Teladan Yusuf di Kitab Suci yang kabur dari godaan Tante Potifar layak ditiru 

Jadi, kapankah orang tua tahu bahwa anak sudah siap menerima pendidikan seksual? Pada saat pertanyaan anak sudah bermunculan terkait hal tersebut meski ia belum puber. Itulah saat tepat memulai percakapan terkait seksualitas. Jangan menunda dan menunggu ia puber, takut jikalau malah terlambat menyuarakan nilai-nilai dalam integritas seksual. 

“Ma, apa artinya haid?” demikian tanya seorang anak usia 6 tahun setelah mendengar sebuah iklan pembalut di televisi. 

“Ma, mengapa mama pakai bra?” 

“Ma, mengapa adik bayi bisa muncul. Dari mana asalnya?” 

Jawaban apa yang akan diberikan jika anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini? Seorang teman pun curhat saat ia menemukan bocahnya yang berusia 7 tahun sedang meniup kondom dan membuatnya menjadi balon. Anak kecil itu tak tahu benda apa gerangan yang ditemukannya di laci kamar. Ia pikir itu semacam permen karet dari bentuk kemasannya. Ia membuka kemasannya dengan lugu dan meniupnya sampai menjadi sebuah balon! 

Anak itu dengan polos bertanya pada ibunya: “Ini buat apa sih, Ma? Kubikin jadi balon nih.” 

Sang ibu pun curhat pada konselor terkait kegagapannya menjelaskan perihal “benda mirip balon” tersebut. Sang ibu kesal dengan suaminya yang ceroboh dan sembarangan meletakkan kondom di laci kamar. Padahal memang di situlah letak penyimpanannya, bukan? Si anaklah yang usil menggeledah laci kamar. Namun, bukankah kesempatan untuk berdiskusi dan menyuarakan integritas seksual jadi terbuka lebar bagi sang ibu ini? 

Buku ini bisa menjadi salah satu panduan bagi orang tua untuk menyiapkan diri memberikan pendidikan seksual bagi anak-anaknya. Tentu ada juga buku cerita bergambar untuk anak kecil seperti kisah perjalanan sperma dalam Where Willy Went garapan Nicholas Allan. Empat buah buku dalam seri Maksud Allah Menciptakan Seks garapan Stanton L Jones juga bisa mendukung pendidikan seksual yang berintegritas sejak dini di rumah. Jika anak sudah praremaja, buku Ada Apa dengan Tubuhku susunan Lynda Madaras bisa dibaca bersama anak dan didiskusikan bersama. Orangtua akan sangat terbantu dengan buku-buku ini. 

Jika anak sudah praremaja, buku Ada Apa dengan Tubuhku susunan Lynda Madaras bisa dibaca bersama anak dan didiskusikan bersama. Orangtua akan sangat terbantu dengan buku-buku ini.

Untuk area sex education, rasanya lebih baik” lebih cepat” anak tahu “konsep yang benar” dan bisa menjaga integritas seksualnya, daripada terlambat dan anak terdapati menjadi korban pedofilia ataukah korban keluguannya sendiri. Penting bagi orangtua untuk membawakan diskusi perihal seks dengan nada suara yang serius tapi santai. Yang harus dihindari adalah nada suara yang ragu, terkesan rikuh dan bahkan sambil menahan tawa saat bicara kepada anak tentang seksualitas. Anak sangat peka dengan atmosfer saat orangtua membawakannya.

Perbedaan jenis kelamin pun perlu dipertimbangkan dalam upaya membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Gary dan Marie Anne Ezzo dalam Let The Children Come Along The Middle Years (2020) mengatakan bahwa komunikasi yang sehat dan proaktif merupakan bentuk dorongan yang terbaik bagi anak-anak pra remaja dan remaja. Komunikasi adalah tindakan berbicara dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada interaksi dua arah dalam suatu komunikasi yang sehat. Beda jenis kelamin ternyata berbeda dalam kebutuhan komunikasinya. Remaja putra cenderung untuk lebih merasa nyaman dengan percakapan tidak langsung, sementara remaja putri justru sebaliknya.  Bicara dari hati ke hati alias curhat merupakan suatu kebutuhan bagi remaja putri , sehingga mengajak anak perempuan berbicara serius empat mata tentang pendidikan seksual lebih efektif jika ingin pesan itu mendarat di hati. Berbeda dengan remaja putra yang malah lebih efektif jika berbicara sembari mengerjakan tugas bersama, misalnya sambil mencuci mobil bareng.

Tugas sebagai belajar seni berbicara sehingga anak-anak mendengarkan, dan belajar seni mendengarkan sehingga anak-anak nyaman berbicara pada orangtuanya sendiri. Kiranya semangat untuk berintegritas dalam area seksualitas menjadi atmosfer yang tertanam  dalam keluarga! Kiranya anak-anak zaman sekarang bisa mendengar suara para orangtua dan mereka tak lagi terbingungkan dalam area seksual. 


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s