Sumbangsih: Lagu dan Puisi

Yulia Loekito

Sekolah ini lain dari yang lain. Maria dan Suprapto senang menyanyi, tetapi di antara sekian nyanyian yang paling dipentingkan adalah lagu Indonesia Raya. Demi Tuhan, sebelumnya anak-anak timor tidak mengenal lagu ini. Di sekolah-sekolah gubernemen dan sekolah Belanda, nyanyian ini haram. Tetapi Maria dan suaminya tidak peduli. Kata-katanya bukan bahasa Belanda, melainkan bahasa Indonesia. Mereka menanamkan kepada anak-anak asuhan mereka, bahwa mereka adalah bangsa Indoesia yang dijajah, dan anak-anak harus mempunyai cita-cita kemerdekaan. (Sumbangsihku Bagi Pertiwi, Lasmidjah Hardi [penyusun], 1985)

DI bangku sekolah, murid-murid mengenal pahlawan-pahlawan. Nama-nama besar sering disebut dalam buku pelajaran atau soal-soal ujian. Pahlawan perempuan yang sering disebut: R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, atau Christina Martha Tiahahu. Murid-murid hampir pasti tak mengenal Ny. Maria Giri. Kecuali anak-anak yang pernah bersekolah dan menjadi murid Maria dan Suprapto di “sekolah liar”. Mereka beserta keluarga mereka jika pengalaman itu dikisahkan. Salah satunya adalah Gerson Poyk. 

Begini Gerson Poyk menulis di bagian akhir cerita tentang Ny. Maria Giri dalam buku Sumbangsihku bagi Pertiwi: “Ah, Tante Maria dan Oom Supraptolah yang pertama mengibarkan merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya, di Timor, pada tahun 1929 …” Gerson Poyk menulis banyak buku dan artikel yang dikenal banyak orang. Namun, tulisan singkat yang disusunnya tentang Ibu Maria Giri barangkali tak banyak diketahui. Murid-murid di sekolah masa kini tak banyak tahu ada banyak perempuan di masa silam berjuang melalui kegiatan seolah-olah sederhana. Jalan yang ditempuh Maria Giri dan Suprapto adalah lagu dan bendera. 

Jauh berbeda dengan hari ini, masa 1920-an, menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil membawa bendera merah putih kecil berjalan-jalan itu bertaruh nyawa. Suami Maria Giri sampai harus masuk bui menanggung akibatnya. Selama Suprapto di dalam bui, Maria Giri melalui jalan yang penuh duri. Dengan bayi  dalam kandungan, kadang ia harus makan sisa ransum suaminya dari penjara. Namun, tak surut daya upaya mereka terus berjuang walau tanpa bintang tanda jasa atau kelimpahan materi. Di situ, kita menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan. 

Dengan bayi dalam kandungan, kadang ia harus makan sisa ransum suaminya dari penjara. Namun, tak surut daya upaya mereka terus berjuang walau tanpa bintang tanda jasa atau kelimpahan materi. Di situ, kita menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan.

Hal-hal kecil itu juga kita temui dalam kisah Ny. S. Bintang Soedibjo. Hari ini kita kenal sebagai Ibu Soed. Petikan dari buku: “Saya bukan ahli politik. Saya hanya seorang yang mencintai tanah air Indonesia dan musik.” Ibu Soed tidak pernah mengangkat senjata atau berada di garis depan medan pertempuran. Ibu Soed mengisi jiwa dan pikiran anak-anak dengan keindahan alam, hewan kesayangan, orang tua, kawan, nusa, bangsa, Tuhan lewat lagu-lagu. Lagi-lagi, menyanyi bukan hal mudah di masa itu. 

Kita simak: “Yang mengganggu saya adalah kenyataan bahwa lagu-lagu yang saya ajarkan semuanya lagu-lagu Belanda. Selalu lagu Belanda. Tetapi saya pikir, bagaimana mungkin kita dapat menghayati lagu-lagu Belanda jika kita tidak dapat secara visual menggambarkan bagaimana sebenarnya keadaan alam Eropa dan cara hidup bangsa Belanda di sana? … Ah, lagipula mengapa kita harus bernyanyi tentang keindahan alam negeri Belanda, tentang kehidupan mereka! Padahal bumi kita sendiri tak kurang suburnya, pemandangan alam kita tak kurang indahnya. Alangkah akan baiknya jika anak-anak kita bernyanyi tentang keindahan tanah air sendiri dengan bahasa sendiri.” Begitulah jalan perjuangan Ibu Soed telah dipilih, melalui lagu-lagu. Lagu demi lagu diciptakan untuk mengisi relung-relung hati anak-anak Indonesia. Lagu-lagu diciptakan sederhana, apik, dengan melodi yang enak didendangkan menumbuhkan benih-benih cinta tanah air tumbuh jadi tunas-tunas muda. 

Sampai hari ini, kita juga mudah trenyuh kalau mendengar atau menyanyikan lagu Tanah Airku tidak Kulupakan, bukan? Sungguh beribu sayang jika kisah Ibu Soed tak banyak dikenal orang padahal lagu-lagu ciptaannya terus berkumandang. Berkat Ibu Soed kita punya lagu anak-anak berbahasa Indonesia tentang macam-macam hal keseharian juga kebangsaan. Lagu-lagu jadi pengingat ketika anak-anak masa kini banyak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa atau ketika rasa cinta terhadap tanah yang dipijak digoda bujuk rayu dari segala arah. 

Berkat Ibu Soed kita punya lagu anak-anak berbahasa Indonesia tentang macam-macam hal keseharian juga kebangsaan.

Kalau terus ditelusur seharusnya makin panjang daftar perempuan ikut berjuang. Kita lalu mengingat S. Rukiah dan tulisan-tulisannya yang sempat menghilang pada masa 1965. Nama tak pernah diperkenalkan di bangku sekolah, kini muncul kembali bersama cerita dan puisi-puisinya. Perjuangan itu dilakukan dengan pena walau status negara merdeka telah disandang. Dalam buku Tandus, kita menemukan puisi berjudul “Pahlawan”. Kutipan: Hidup? Adakah hidup bahagia, jika dipaksa hidup menghamba?/Tidak! Runtuhkan segala—maju, walau Ajal ganas mengejap! Merdeka rupanya masih berupa status, belum lagi kesejatian. 

Perempuan dan laki-laki terus berjuang dalam situasi-situasi berbeda hingga hari ini. Tak heran, sekarang kita juga punya lagu Bendera dari Cokelat: “Merah putih teruslah kau berkibar/Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini/
Merah putih teruslah kau berkibar/Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini/Merah putih teruslah kau berkibar/Ku akan selalu menjagamu.” 
Jalan lagu dan puisi masih terus jadi pilihan perjuangan hingga hari ini. 


Yulia Loekito, penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s