Gambar di Buku Cerita

Rachmawati

BEBERAPA hari yang lalu, seorang teman memperkenalkan komik kisah perjuangan Alfatih, sang penakluk Konstantinopel. Dia bercerita bahwa komik itu dibuat khusus anak-anak agar mau mengenal kisah Alfatih, yang sangat brilian dalam menaklukkan Konstantinopel. Mengenalkan kisah-kisah sejarawan dalam bentuk cerita bergambar diharapkan  memudahkan anak-anak memahami dan membuat mereka senang menikmati ceritanya. Sebab, dilengkapi dengan gambar-gambar yang berwarna cerah, diharapkan pula agar-anak anak tidak mudah bosan membacanya.

Namun, saat melihat bukunya sontak saya berpikir, ini mau mengajak anak berelasi dengan kisah sejarah atau mau mengajak anak berelasi dengan gambar-gambar? Bagaimana tidak, tujuh puluh persen buku itu dipenuhi dengan gambar-gampar Alfatih, dari kecil hingga dia dewasa dan siap untuk berperang melawan Konstantinopel. Namun, ceritanya dibuat sangat singkat, hanya terdiri dari beberapa kalimat saja. Bagaimana mungkin anak-anak bisa memahami dan mendalami kisah sejarah jika narasi dalam penjelasan kisah sejarah tersebut dibuat sangat singkat dan sangat tidak naratif. Anak-anak hanya akan fokus pada gambar-gambarnya semata, sehingga pemaknaan akan sejarahnya akan sangat berkurang, bahkan mungkin tidak tersampaikan sama sekali.

Pada hakikatnya cerita bergambar juga bisa memberi kesan pada anak, untuk memancing mereka tertarik dengan buku-buku cerita, apalagi untuk anak-anak usia dini. Namun, kita jangan sampai lupa bahwa anak-anak adalah makhluk yang juga diberkati logika alur pola pikir yang sama seperti manusia dewasa. Mereka mampu memahami sesuatu dengan baik meski tanpa dipancing dengan berbagai hal. Hanya saja, mereka belum mampu menata pikirannya dan mengolah dengan baik apa yang mereka lihat dan dengarkan. Oleh sebab itu, kemampun nalar yang baik akan tersusun jika dibiasakan menangkap ide-ide yang baik dari buku-buku yang naratif. Buku-buku yang memilki nilai sastra tinggi dikemas dengan kata-kata yang mampu menyentuh hatinya dan menggerakkan jiwanya melakukan sesuatu. Menstimulasinya dengan gambar juga bukan berarti hal yang salah, itu juga bisa dilakukan hanya jangan terlalu berlehihan. Jangan sampai kita meremehkan kemampuan berpikirnya.

Buku-buku yang memiliki nilai sastra tinggi dikemas dengan kata-kata yang mampu menyentuh hatinya dan menggerakkan jiwanya melakukan sesuatu. Menstimulasinya dengan gambar juga bukan berarti hal yang salah, itu juga bisa dilakukan hanya jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai kita meremehkan kemampuan berpikirnya.

Gambar-gambar atau ilustrasi pada buku bacaan baiknya hanya dibuat mempertegas semata maksud dari bacaan tersebut. Jika dibuat berlebihan itu hanya akan sangat memanjakan pembaca. Pembaca akan melewati beberapa kata untuk mempersingkat waktu, sehingga relasinya dengan bacaan sangat kurang. Karena dengan melihat begitu banyak gambar pada tiap bab, bahkan hampir di beberapa halaman buku, mereka merasa sudah bisa memahamai inti dari cerita tersebut. Sebab, gambar memang mampu menyampaikan pesan dengan cepat ketimbang tulisan itu sendiri.

Zaman sekarang buku-buku bergambar sangat marak di pasaran. Buku bergambar dengan jumlah kata-kata yang sangat minim menjadi salah satu starategi marketing penerbitan di zaman ini. Terutama dalam hal buku anak-anak. Penerimaan orangtua terhadap buku-buku bergambar semakin memberikan peluang kepada pihakl penerbit menerbitkan cerita-cerita bergambar.

 Tanpa orangtua sadari, mereka telah merendahkan kemampuan anak-anak mereka dengan menyediakan berbagai cerita bergambar, yang dilandasi untuk menstimulus ketertarikan anak dengan buku. Sekali lagi, yang saya maksud di sini adalah buku-buku cerita yang gambarnya lebih mendominasi isi buku ketimbang bacaan buku itu sendiri. Penerimaan orangtua ini melecehkan kemampuan alami anak. Sebab, orangtua merasa anak-anak harus diberi stimulus agar dia mau berelasi dengan buku. Padahal,  sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan karena anak-anak sudah memiliki bakat alamiah itu.

Anak-anak yang terbiasa melihat visual akan susah berelasi dengan bacaan-bacaan yang panjang. Mata dan pikirannya akan gampang lelah ketika berhadapan dengan bacaan yang panjang, karena sudah terbiasa dimudahkan menangkap sesuatu dengan visual. Dengan demikian, semakin banyak anak-anak dibiarkan berelasi dengan visual maka justru akan menghilangkan bakat alaminya untuk menagkap segala hal yang dia temui lewat bacaan-bacaan yang panjang dan naratif.

Sama seperti orang dewasa, semakin banyak berselancar di dunia maya melihat berbagai iklan visual, atau berbagai video-video akan membuatnya susah fokus pada iklan cetak. Dalam hal ini, kemampuan bacanya sangat rendah ketika melihat pesan tulis yang panjang. Terkadang, ketika terbiasa menonton film, fokus untuk membaca novel akan sangat berkurang. Sebab, membutuhkan energi yang besar untuk membaca. Sehingga, tak jarang ketika orang yang terbiasa membaca novel, lalu tiba-tiba beralih ke menonton film akan susah mengembalikan kembali daya bacaannya.


Rachmawati, penulis tinggal di Prambanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s