Puisi Mengubah Dunia

Ratna Hayati

SAAT masih SD, aku langganan menjadi peserta lomba membaca puisi dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu, dengan puisi andalan gubahan Chairil Anwar berjudul “Aku” atau “Krawang-Bekasi”. Hampir semua peserta membaca dengan gaya dan nada yang sama. Setiap tahun, dalam perayaaan tujuh belas agustusan, kita seakan selalu membutuhkan Chairil Anwar dan puisi-puisinya. Sayangnya, aku tak pernah menang mungkin cara membacaku kurang bersemangat dan menghentak-hentak. 

Dulu, aku tahunya puisi itu harus selalu dibawakan dengan gaya dan nada yang berlebihan agar dianggap puisi.  Setidaknya itu ilmu yang kuserap dari guru SD-ku. Aku tak pernah menganggap puisi sebagai suatu hal yang istimewa hanya sebatas materi untuk bisa memenangkan perlombaan saat perayaan agustusan saja, tak lebih dari itu. 

Saat SMP, aku nyaris tak punya pengalaman berkesan bersama puisi. Baru saat SMA, aku mengenal nama Wiji Thukul, satu nama yang menarik karena kisahnya. Aku sempat heran, bagaimana bisa seseorang “dihilangkan” secara paksa hanya gara-gara puisi. Bagaimana puisi bisa memiliki daya sekuat itu dan menjadi semacam “ancaman” bagi penguasa. Saat datang ke sebuah acara mengenang hilangnya beliau yang belum terungkap sampai saat ini hatiku begitu bergetar, dan baru sadar betapa luar biasanya kekuatan sebuah puisi dalam menggerakkan perlawanan.

Bagaimana puisi bisa memiliki daya sekuat itu dan menjadi semacam “ancaman” bagi penguasa. Saat datang ke sebuah acara mengenang hilangnya beliau yang belum terungkap sampai saat ini, hatiku begitu bergetar, dan baru sadar betapa luar biasanya kekuatan sebuah puisi dalam menggerakkan perlawanan.

Puisi yang merupakan karya sastra  yang biasa diungkapkan dengan bahasa yang padat, menekankan pemakaian kata konotatif yang penuh dengan perbandingan, asosiasi, perlambang, kiasan, dan sering bermakna ganda (ambigu) memang merupakan “alat perlawanan” yang cukup efektif melawan apapun termasuk penguasa tiran, kolonialisme, dan aneka bentuk kezaliman lainnya. Chairil Anwar, contohnya, dia bukanlah sastrawan yang hanya merenung di balik meja lalu menuliskan pusi. Chairil tegas melawan kolonialisme. Sebuah kutipan populer yang menandakan semangat itu terambil dari puisinya: “sekali berarti sudah itu mati.” Chairil menjadi legenda sastra Indonesia walau usinya sangat pendek hanya 27 tahun. Tapi, dalam usianya yang pendek itu Chairil mampu menggelorakan semangat perlawanan lewat puisi-puisinya, perlawanan terhadap status quo yang membelenggu. Puisi-puisinya merupakan bahasa pemberontakan.

Lain Chairil, lain juga Wiji Thukul. Penyair asal Solo ini juga fenomenal dan berumur pendek. Puisi-puisinya mampu membuat penguasa meradang karena dianggap menggerakkan kebencian pada Orde Baru dan berujung pada “penghilangan secara paksa” sosok Wiji Thukul. Sampai hari ini belum diketahui pasti apakah beliau masih hidup ataukah sudah meninggal, masih merupakan misteri dan menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa ini. “Hanya ada satu kata: lawan!” adalah kalimat Thukul dari sajak berjudul “Peringatan”.

Kedahsyatan kekuatan kata-kata lewat puisi juga terekam dalam sebuah film Amerika produksi 1989 berjudul “Dead Poets Society”, yang dibintangi oleh Robin Williams. Konon, banyak orang jadi suka puisi setelah menonton film yang bercerita tentang seorang pengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah khusus laki-laki pada tahun 1950 yang memberi inspirasi muridnya untuk membuat perubahan dalam hidupnya dan mengajak mereka tertarik puisi. 

Puisi yang kuat tentu akan mampu dirasakan maknanya oleh pembaca atau pendengar melalui kepekaan batin dan daya kritis pembacanya. Pada dasarnya makna merupakan unsur tersembunyi di balik sesuatu yang diamati secara visual. Seorang penyair tentu membutuhkan waktu kontemplasi yang panjang sehingga mampu menghasilkan puisi yang maknanya mampu sampai ke telinga pendengarnya, melalui proses corat-coret mengganti diksi demi diksi agar pas sesuai dengan makna yang ingin diungkapkan sang penyair. Pemilihan diksi menjadi hal yang sangat penting agar maksud yang disampaikan dalam untaian kata-kata yang padat itu bisa sampai dengan baik ke pembacanya. Bahkan, mampu menggugah perasaan dan semangat dari pembaca dan pendengar untuk berjuang seperti saat mendengar petilan kata-kata dari puisi Chairil Anwar, Wiji Thukul dan penyair lainnya.

Dalam salah satu kurikulumnya, Charlotte Mason memasukkan pelajaran puisi sebagai bagian dari sajian ide yang sebaiknya diterima anak sejak dini. Maka, anak-anak sejak usia dini mulai akrab dengan puisi-puisi gubahan Manda Welang, L.K Ara, Enyd Bliton, Christina Rossetti, Robert Louis Stevenson atau Rukiah, yang banyak mengungkapkan kekaguman seputar alam semesta ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Anak-anak diajak dekat, kagum dan mencintai alam lewat puisi. Penyair begitu mahir meramu kata-kata yang berima dengan pilihan diksi yang indah secara tidak langsung memperkaya kosa kata anak sekaligus membawa anak berimajinasi mengenai indahnya alam semesta, ajaibnya dunia peri, kasih ibu, pergantian musim, ciri-ciri hewan dan tumbuhan atau betapa riangnya dunia anak-anak. 

Setelah belajar mendengar dan menikmati puisi lalu anak-anak ini pun menjadi bisa dan terbiasa menuliskan puisinya sendiri sebagai ungkapan perasaannya, seperti anakku Bella (9 tahun) yang menuliskan puisi berjudul “Paket” sebagai ungkapan kekesalannya setiap hari menerima paket belanjaan bapak dan ibunya. Atau, puisi tentang kucing yang mengungkapkan kesukaannya pada binatang lucu ini. Begitu pula Chaca, yang menuliskan puisi untuk sahabatnya, bercerita tentang persahabatan mereka. Sungguh luar biasa memang kekuatan kata-kata ini, tanpa perlu panjang lebar seperti prosa tapi mampu mengungkapkan banyak rasa dengan sangat baik.

Saat ini puisi juga banyak digunakan untuk mengungkapkan kritik sosial atau sindiran-sindiran terhadap kehidupan sosial atau cara orang beragama. Seperti aku lihat dalam puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo. Salah satunya berjudul “Jalan Tuhan”, yang aku maknai sebagai kritik terhadap cara orang memandang agama dan tren membela agama yang sedang marak akhir-akhir ini. Medium puisi bisa begitu menohok tanpa membuat siapapun merasa diserang secara frontal. Mungkin, malah bisa membuat banyak pihak menjadi berkontemplasi ikut berefleksi dan merenung. Jangan lupa, puisi cinta juga akan selalu menjadi sajian laris manis dan laku tak lekang dimakan zaman. Selalu laris bahkan bisa menjadi novel dan film layar lebar seperti “Hujan di Bulan Juni” gubahan Sapardi Djoko Damono.

Aku bukan penikmat puisi, bahkan kadang aku terlalu gagap memaknai sebuah puisi, bingung tak mampu menangkap apa yang ingin disampaikan sang penyair. Namun, seiring berjalannya waktu dan menemani anak-anak belajar membuatku semakin sadar terhadap kekuatan kata-kata. Betapa dahsyat kekuatan sebuah puisi ikut berperan dalam roda zaman.


Ratna Hayati, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s