Huruf dan Gambar

Indri K.

TINI teringat sesuatu, lalu dia berkirim pesan kepada Tono, suaminya, yang masih ngantor lewat aplikasi WA.

“Yah, nanti kalau pulang nitip beliin deterjen pakaian sama sabun mandi ya, sudah mau abis semua.”

Suami membalas dengan sebuah stiker bergambarkan bocah gundul memberi jempol dan bertuliskan oke!

Lalu, Tini menaruh gawainya dan kembali meneruskan memasak, dan ternyata gula sudah hampir habis. Dia kembali menulis pesan kepada Tono. 

“Yah, ternyata gulanya juga mo abis, nitip sekalian yaaaa.. tengkiu…”

Tono membalas dengan stiker aktor Korea, Lee Min Ho dengan pose hormat, bertuliskan ahsiaaaapp!!

Di hari lain, sepulang dari sekolah, anak Tini menunjukkan hasil ulangan bernilai sembilan puluh. Tini gembira dan mengabarkan hal itu pada suaminya. 

“Yah, Tino ulangan matematikanya dapet 90!”

Suami membalas dengan stiker anjing joget gembira. 

Tini kembali membalas stikernya “Ayah dah makan belum?”

Dibalas dengan stiker bergambar jempol raksasa.

“Makan apa yah?”

Tono kembali mengirim stiker bergambar paha ayam goreng. 

Kejadian berlangsung terus-terusan, Tini lama-lama bosan dengan cara suaminya membalas pesan. Meski stikernya lucu-lucu tapi tetap saja banyak stiker yang hanya diulang-ulang terutama stiker jempol dan oke! Akhirnya, Tini bergantian berpikir gambar. Jika butuh sesuatu Tini hanya akan mengirimkan foto tanpa disertai tulisan. Ketika dia butuh kecap, maka dia akan mengirimkan foto botol kecap. Ketika butuh sapu baru, dia akan mengirim foto sapu yang sudah brodol. Dan, ketika uang bulanan sudah menipis maka dia akan mengirimkan foto uang. 

Manusia kembali menjadi makhluk prasejarah, bagaikan makhluk goa yang berkomunikasi melalui gambar-gambar yang dipahat pada dinding goa. Mereka belum berbahasa, belum menemukan aksara. Gambar belum bisa dikirimkan, hanya jadi konsumsi pribadi sebagai pencatatan. Dari gambar, manusia mencipta huruf dan kata. Kita membaca bagaimana Cina mencipta aksara dalam Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda (Ernest H. Gombrich, 2016). Pada masa Cina masih tercerai berai, kaisar Ch’in Shih Huang Ti ingin mempersatukan rakyat lewat aksara yang dapat dibaca dan dimengerti walaupun si pembaca tidak mengerti bahasanya. Gambar menjadi pemecah masalah, gambar ditulis sebagai huruf berarti. Tulisan “matahari” dilambangkan dengan lingkaran kemudian diberi titik di tengah, mengalami perubahan bentuk hingga ditetapkan menjadi 日. “Selanjutnya kau ingin menulis ‘pohon’. Tinggal kaugambarkan sebatang pohon dengan beberapa garis seperti ini, 木.” Cina berpikir gambar sebagai huruf. Gambar merupakan tulisan terbaca. 

Manusia tidak mau repot menghafal banyak huruf dan gambar. Temuan huruf Cina sampai sekarang sudah sampai 40.000 lebih banyaknya, sebagian di antaranya sulit dihafalkan. Satu benda mewakili satu aksara. “Kita boleh lega juga dengan tulisan yang dikembangkan oleh orang Fenisia dengan ke-26 huruf yang kita pakai sampai sekarang.” Huruf berupa A sampai Z memberikan praktis dan memudahkan. Dunia tergoda untuk mempelajari dan memakai 26 huruf-huruf. Mereka lupa kalau bangsanya memiliki huruf berupa gambar. Memakai huruf-huruf asli dianggap ketinggalan zaman. Orang mempelajari bahasa tidak lagi menggunakan aksara asli melainkan aksara Latin.

Dunia tergoda untuk mempelajari dan memakai 26 huruf. Mereka lupa kalau bangsanya memiliki huruf berupa gambar. Memakai huruf-huruf asli dianggap ketinggalan zaman. Orang mempelajari bahasa tidak lagi menggunakan aksara asli melainkan aksara latin.

Seiring perkembangan dunia digital, gambar-gambar kembali dimunculkan lewat pesan-pesan teks. Jauh sebelum aplikasi dapat mengirimkan pesan suara dan pesan bergambar. Manusia sudah lebih dulu berekspresi melalui simbol dan lambang tersedia. Pesan terkirim lewat jalur SMS.

“Yang, kamu kok lucu :-)”   🙂 melambangkan wajah tersenyum.  

“Hiiiih… dasar kamu jelek :P”  😛 melambangkan suatu ejekan, menjulurkan lidah.

Manusia terus berekspresi lewat simbol yang ada di papan ketik seperti ekspresi di bawah yang merupakan emotikon Jepang : 

(^.^) : wajah tersenyum

(*,*) : pusing 

( ~3~) : mencium

( T ; T) : menangis

(-,-)zZzZ : tidur , mengantuk 

\(^o^)/ : senang gembira 

\(^o^)X(^o^)/ : bergandengan

Barangkali ekspresi-ekspresi dari huruf lebih mewakili perasaan daripada kata-kata berhuruf. Kita mau bercerita tentang sebuah film yang lucu, atau berbagi kesedihan, lalu mengirim pesan teks kepada teman hanya menggunakan pesan berhuruf. “Ya ampun, Lin,  filmnya lucu banget (tertawa terbahak-bahak)” atau “Hiks…hiks…si pus meninggal tadi pagi (menangis)”. Kerepotan untuk menuliskan ekspresi dipersingkat dengan simbol emotikon. Ketikan ekspresi berhuruf berubah otomatis menjadi emotikon. Saat mengetik 🙂 , layar langsung otomatis menampilkan  . Lewat emotikon, penerima terbayang ekspresi pengirim. Dunia perpesanan semakin dimarakkan dengan kehadiran ragam emotikon dan stiker beranimasi yang terkadang membuat pengirimnya lebay berekspresi dan malas menulis pesan panjang berhuruf. 

Penemuan gambar dalam pesan berhuruf bisa menjadikannya berkah bagi aksara-aksara  lama yang berupa gambar. Aksara yang tidak bisa ditampilkan dengan 26 abjad. Aksara Jawa termasuk. Sebuah artikel di Jawa Pos, 4 April 2021, berjudul “Aksara Jawa di Dunia Digital” menuliskan kepiawaian Google translator yang sudah bisa menerjemahkan bahasa apa pun ke dalam bahasa Jawa. Namun tentu saja bahasa masih berupa tulisan berhuruf Latin, bukan beraksara asli. 

Kongres Aksara Jawa melibatkan akademisi, sejarawan, budayawan, filolog, ahli bahasa, dan lain sebagainya merapatkan kebijakan terkait penggunaan aksara Jawa. “Selama ini aksara Jawa tidak tersedia dalam perangkat gawai maupun aplikasi-aplikasi keyboard karena tidak ada standar transliterasi yang baku. Jadi, kalaupun ada aplikasi yang bisa pakai aksara Jawa sekarang ini, itu terbacanya di program bukan sebagai data aksara, tapi data gambar atau image yang di-scan”. Program Microsoft Word sudah dapat mengenali aksara Jawa namun itu juga terbaca sebagai gambar berformat huruf, untuk menulis butuh mengunduh font khusus baru bisa menulis dan terbaca. Sebagai contoh, tulisan “literasi” ( litersi  ) berikut hanya dapat ditampilkan dan terbaca pada gawai dan program dengan bentuk huruf  terunduh aksara Jawa. Dari huruf kita berpikir gambar dan dari gambar kita memikirkan pesan huruf.


Indri K, penulis tinggal di Kudus  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s