Tergiur Ilustrasi

Lyly Freshty

BARANGKALI kita sudah meresapi nasihat klise supaya “jangan menilai isi buku dari sampulnya”. Untung woro-woro “jangan membeli buku karena sampulnya” tidak ada. Jika ada, tak akan lagi ada cerita tentang kita yang akhirnya memutuskan membeli buku hanya karena terpikat gambar kulit muka buku. Dari sudut pandang pasar, kalau orang langsung membeli begitu melihat tampilan luar buku melalui sampulnya, itu artinya ilustrasi dalam rancangan visual sampul buku benar-benar menjual sehingga mampu mengundang selera pembeli dalam hal ini pembaca buku.

Pesona ilustrasi pada buku memang mencipta kesan tersendiri. Terutama gambar sampul mewakili wajah buku, tak dipungkiri bisa jadi pembuat jatuh hati pada buku pada pandangan pertama. Ini bukan alasan mengada-ngada. Banyak cerita mengaku terpikat ilustrasi, selain judul buku incaran dan nama baik penulis, saat memutuskan untuk pada akhirnya meminang sebuah buku. Impulsif membeli karena ilustrasi sampul yang cantik maupun artistik, sementara urusan isi bisa dinilai nanti. Syukur-syukur, isi buku sudah sesuai ekspektasi sebelum jatuh hati pada sampulnya. Anda atau siapa, barangkali salah satu yang pernah mengalaminya?

Saya sendiri termasuk ribet urusan tampilan visual sampul buku, terutama terkait buku cerita. Buku-buku cerita, terkhusus novel-novel, dengan gambar muka berupa foto dari film akan langsung tercoret dari keranjang belanja. Kecuali sudah sangat ingin membaca dan ternyata belum ada pilihan buku bergambar sampul lainnya, dengan berat hati buku pun terbeli. Ada sedikit rasa seperti dipaksa berjodoh dengan sesuatu yang tidak kita harapkan. Tapi tak apalah, masih lebih berat kawin paksa sama seseorang daripada sama buku.

Jadi, jika masih bisa menunggu, sedapat mungkin saya bertahan untuk tidak membeli buku dengan cover film. Bagi saya, membeli buku artinya tak hanya membaca, melainkan sepaket juga dengan menyimpannya. Alasan ekonomis turut mendukung dan membenarkan keputusan pikiran. Sebagai bukan kolektor buku yang memiliki tujuan dan anggaran untuk menyimpan pelbagai buku dalam edisi sampul yang bermacam-macam, sebisa mungkin eksemplar buku yang diperoleh merupakan buku dengan sampul paling bagus dalam kacamata selera saya. Mencukupkan diri dengan satu eksemplar buku yang paling oke sekaligus sesuai anggaran kantong. Dan, itu bukan untuk buku bersampul foto film.

Menonton kisah buku terangkat ke layar lebar saja acap menuai kecewa. Sepotong foto dari film sebagai gambar sampul buku barangkali laksana mengungkit-ungkit perasaan kecewa itu atau perasaan tidak terima buku berganti rupa jadi film? Jatuhlah nilai buku di mata saya hanya karena perkara sampul dengan foto pemeran pelbagai tokoh film yang terpampang serupa poster film. Imajinasi langsung mandeg rasanya. Selera membaca buku ikut merosot tajam. Apalagi kalau kamu tipikal yang suka membaca ulang buku-buku seperti saya, bisa-bisa buku bersampul aktor-aktris film itu malah membikin malas membaca ulang. Bersebab itu, novel dengan wajah-wajah para pemain film di sampul buku, telah berhasil mendikte imajinasi terhadap tokoh-tokoh imajiner dalam buku menjadi serupa wajah di film itu. Tampilan visual yang diharapkan melambungkan imajinasi malah sebaliknya mendangkalkan kapasitas khayali pembaca dan kebebasan pribadi dalam mencipta kesan personal.

“Ah, bisa beli lagi kalau nanti bertemu buku berjudul serupa dengan sampul yang bukan foto film,” demikian hati bertekad menenangkan perasaan kecewa saat harus membeli varian buku satu-satunya yang tersedia dan kadang yang terjangkau untuk dibeli memang hanya itu. Maka dobelan novel, yang satunya bersampul foto film dan lainnya yang bukan, lazim termiliki dalam rak buku saya. Buku bersampul foto film itu akan menanti nasib dipinjamkan dengan cara digilir atau dipindahtangankan pada pihak-pihak lain yang membutuhkan bacaan namun tidak terlalu memusingkan perkara gambar sampul film atau bukan. 

Untuk kalangan yang belum berminat dengan buku apalagi membacanya, keberadaan buku dengan cover film barangkali justru jadi daya tarik tersendiri. Apalagi, filmnya telah terlebih dulu populer sehingga bisa mendorong orang untuk membaca bukunya. Buku pun turut terangkat pamornya. Perkara ilustrasi sampul buku ini memang seleratif dan subjektif. Industri pasar buku jelas lebih tahu tentang ini. Keberadaan buku bersampul film barangkali sudah melalui uji psikologis pembeli dan pasar yang lebih luas ketimbang mempertimbangkan subjektivitas sempit orang-orang tertentu seperti saya yang emoh dengan buku bergambar sampul foto film.

Persoalan gambar sampul ini memang menjadi berurusan dengan kesan personal. Setelah menuai dobelan buku karena terlanjur memiliki novel bersampul film, hasrat untuk memiliki dan atau membaca buku edisi sampul tertentu juga bisa menjadi biang kerok membeli buku secara impulsif sebab tergiur sampulnya. Kamu apa pernah mengalaminya juga?

Kejadian begini biasa terjadi pada buku-buku laris terkini, buku-buku klasik yang tak lekang zaman sebab cocok untuk pembaca di segala masa, buku-buku lawas maupun langka, yang sudah mengalami beberapa kali cetak ulang dalam tampilan sampul yang berbeda-beda. Buku-buku edisi perdana tentu selalu istimewa dan terus diburu jauh setelah bukunya memiliki banyak edisi dengan banyak wajah. Juga buku-buku edisi khusus. Namanya khusus musti edisi terbatas dan layak koleksi sebab pasti tak cetak ulang lagi. Berikutnya, buku-buku lama dengan ilustrasi yang lebih khas, lebih berkarakter, lebih nyeni, lebih adem di mata dengan warna hitam-putih saja, dan lebih-lebih lainnya ketimbang misalnya buku-buku terbitan baru yang warna-warni bikin sakit kepala atau goresannya terlihat pasaran. Intinya, selalu ada alasan untuk membeli buku dengan edisi dan cetakan tertentu hanya karena gambar sampulnya yang berbeda dan memiliki daya tarik tersendiri dibanding edisi lainnya.

Saya contohnya, membeli lagi buku Si Djamin dan Si Djohan (Merari Siregar, 1971) edisi lawas setelah memiliki lebih dulu buku yang sama dengan ejaan baru Si Jamin dan Si Johan (Merari Siregar, 2008). Hak terbit keduanya masih ada pada Balai Pustaka. Hanya menurut selera pribadi saya saat menilai buku yang lawas, ilustrasi sampulnya lebih ekspresif, lebih hidup, lebih orisinil, dan goresan tangan mencirikan kekhasan dan kekuatan karakter ilustratornya. Terkesan jiwa sang ilustrator turut hadir seutuhnya dalam gambar itu. Tak ada sentuhan mesin murni buah karya tangan seniman gambar. Ilustrasi berupa karya tangan yang belum tersentuh perangkat digital terasa mempunyai nilai tambah di era digital ini. Berbeda dengan ilustrasi edisi terbaru, penampakan dan rancangannya menyeragami gambar sampul pada umumnya dengan goresan ala kadarnya tanpa kekhasan. Kesan saya serupa saat memandang gambar-gambar muka buku-buku besutan proyek inpres pemerintah dengan logo dalam kotak persegi kecil bertuliskan: “Buku ini milik negara, tidak diperdagangkan.”

Kejadian serupa terulang lagi dan lagi. Kali ini mata saya tertambat pada gambar sampul buku-buku klasik terbitan Puffin Classics. Sudah ada buku-buku klasik terjemahan, saya juga sudah membeli buku-buku klasik dalam bahasa Inggris, tapi saya masih juga membeli judul-judul serupa berbahasa Inggris edisi tertentu dari penerbit tertentu, salah satunya dari Puffin Classics itu. Mulanya satu buku, dua buku, tiga, empat, dan seterusnya menyusul judul-judul lainnya menambah lengkap buku-buku edisi khusus tertentu dengan gambar dan rancangan sampul senada untuk semua judulnya. Saya melakukan hal serupa dengan buku-buku seri kenangan Nh Dini karena menyukai gambar sampulnya seperti lukisan rupa,  sekaligus terkhusus sebagai cetakan awal (Pustaka Jaya, 1981). Pengalaman serupa terjadi pada beberapa judul buku lainnya dengan pertimbangan yang kurang lebih sama. Selain menyukai kisah novelnya, saya akui membeli juga hanya karena terpikat ilustrasi berujung legitimasi untuk mengoleksi. Sihir visual itu! Tak habis-habis cerita perkara gambar di muka buku. Oh, saya juga membeli buku-buku karena ilustratornya memang ternama dan berdedikasi dalam bidang keahliannya. Menyebut sedikit diantaranya seperti buku Chicken Soup for The Soul terilustrasi oleh Kim Dong Hwa, pelbagai edisi buku Winnie The Pooh diilustrasi oleh E. H. Shepard selain karena termasuk salah satu buku favorit saya sepanjang masa, buku-buku anak bergambar oleh Richard Scarry, Beatrix Potter, Arnold Lobel, dan masih banyak lagi. Ternyata untuk alasan-alasan tertentu, saya memang terpikat ilustrasi, terutama kalau perkara isi sudah tidak diragukan lagi.

Siasat membaca dahulu pelbagai ulasan dan testimoni terkait isi buku perlu dilakukan supaya sedikit tobat dan lebih berkeinsafan memandang gambar pada sampul sebelum membeli buku seutuhnya tanpa hanya tergoda sampul semata. Kesan-kesan personal tentu sangat beragam, namun membaca sekian ulasan terperoleh kekayaan sudut pandang yang menorehkan kesan lebih objektif bagi kita ketimbang hanya sekadar mentah-mentah tergiur ilustrasi. Mengurangi kunjungan ke toko buku juga selalu manjur mengerem kecenderungan impulsif dalam membeli cuma berdasar alasan sampul. Saat di toko buku, tentu mata lebih asyik masyuk memperhatikan buku-buku klimis yang memang sengaja terpajang mengiming-imingi calon pembaca untuk membeli daripada menelisik ulasan buku via gawai. Sinopsis kadang membantu walau tak selalu, malah kadang memperkuat konfirmasi pikiran supaya segera membeli saja. Jika hendak ke toko buku, minimal sudah berbekal ulasan buku. Selebihnya niatkan cuci mata saja. Coba sendiri kalau bisa!

Pengaruh gambar sampul berbeda dengan ilustrasi isi dalam saat menilai buku. Ilustrasi isi lebih terikat dengan sajian gagasan dan teks dalam buku secara keseluruhan. Menimbang ilustrasi isi buku mau tidak mau harus mencermati untaian aksara dan jalinan ide di dalamnya. Apapun bentuk dan jenis bukunya, bukankah ilustrasi isi itu selayaknya perpanjangan tangan dari ide dan teks dari buku? Ilustrasi memang penting, tapi bukan menjadi yang terpenting dari suatu buku. Ide termuat dalam jalinan teks cerita adalah pusat dari buku. Ilustrasi sepatutnya berselaras dengan ide dan makna yang ingin disuguhkan dalam tulisan. Semuanya terangkum satu dalam buku. 

Ide termuat dalam jalinan teks cerita adalah pusat dari buku. Ilustrasi sepatutnya berselaras dengan ide dan makna yang ingin disuguhkan dalam tulisan. Semuanya terangkum satu dalam buku.

Terkhusus ilustrasi novel dan cerita anak-anak, ilustrasi memegang peranan penting justru untuk menghidupkan kisah dalam imaji mental secara visual. Untuk tujuan itu, berharap ilustrasi sebagai perantara visual pada imajinasi akan dapat menguatkan imajinasi itu sendiri sehingga akal dapat mencerna gagasan termaksud dalam tulisan. Ilustrasi dan teks sebaiknya tersaji dengan ide yang melatarbelakanginya. Ilustrasi yang terlalu mendominasi dan ingin tampil sendiri akan terlihat lepas dari gagasan utuhnya seolah-olah bersaing berebut perhatian dan penerimaan pembaca. 

Pembaca rentan terdistraksi dari memaknai gagasan suatu cerita dengan dominasi ilustrasi. Kadung terlena dengan kemanjaan visual menyeret pemaknaan sesuai sajian gambar. Ilustrasi menampilkan ceritanya sendiri membuat pembaca tidak fokus mencerap makna cerita secara keseluruhan. Kalau begini, terkesan buku mengandalkan ilustrasi.

Dalam konteks industri, buku terkesan menjadi jualan ilustrasi semata. Apalagi, jika ilustrasi ada dalam tiap halaman dari sampul depan hingga halaman akhir dengan sedikit tempelan teks yang sering terjumpai pada buku-buku cerita anak bergambar masa kini. Buku cerita jadi ajang pamer ilustrasi. Kalau gagasan cerita kalah menawan dengan ilustrasinya hadirlah buku-buku bergambar bagus tapi miskin ide berkualitas. Harga buku pun tak terelakkan menjadi mahal. Buku berilustrasi penuh warna menjadi hanya terjangkau sekalangan orang yang berdaya beli. Orang-orang awam semakin jauh dari buku-buku. Buku-buku cerita bergambar menjadi buku-buku gambar bercerita yang harganya terus melangit mirip koleksi lukisan penuh warna.

Ilustrasi betul sebagai media membaca juga, justru perlu menguatkan pembacaan teks. Seperti dikatakan simpulan Setyaningsih (2019) dalam esai “(Politik) Ilustrasi Bacaan Anak”: “Membaca pertama sangat bisa terjadi lewat mata yang menghayati ilustrasi. Peranan ilustrasi tidak lebih tinggi atau rendah dengan teks. Ia menjadi perangkat instingtual yang kuat menaut apa yang tertekskan.” Ilustrasi dan teks bersatu sebagai buku, saling menghidupi gagasan yang ingin disampaikan bagi pembacanya.

Khusus buku-buku tertentu memang ada yang tidak terlalu bertumpu pada kekuatan jalinan ide dan teks dalam buku. Kekuatannya ada pada tampilan visual foto maupun ilustrasi. Buku-buku yang memang ingin menyuguhkan kekayaan visual. Tersebutlah buku-buku bergambar tanpa teks untuk menstimulasi visual dan verbal anak, buku-buku informasi dan aktivitas edukasi, buku foto dan desain grafis, buku kumpulan gambaran maupun lukisan, kamus bergambar, ensiklopedia, dokumentasi sejarah, geografis dan antropologis, buku-buku panduan dan tutorial segala bidang, dan sejenisnya, yang memang ingin menceritakan dan menampilkan kekuatan gambar. Buku-buku terlahir untuk menyuguhkan kekayaan sudut pandang dalam visual. Gambar, foto, ilustrasi, menjadi isi dan bobot dari teks dan gagasan itu sendiri.

Bagaimanapun, selama ilustrasi mewujud termaksud untuk menguatkan penyampaian pesan dan makna suatu buku, keberadaannya selalu mendapat tempat khusus di hati pembaca dan penikmatnya. Selalu ada kesan yang lebih terungkap lewat gambar dibanding sederet untaian kata-kata asalkan tidak melenceng dari gagasan utamanya. Justru untuk itulah ilustrasi hadir beriringan bersama tulisan dalam ikatan hubungan yang serasi.


Lyly Freshty, penulis tinggal di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s