Lagu: Rumah dan Sekolah

Bandung Mawardi

KEBERANIAN bocah-bocah dipengaruhi lagu. Di rumah atau sekolah, bocah bersenandung meski tak merdu sudah menandai keberanian. Ia ingin seperti guru atau teman, bisa bersenandung. Orangtua memberi tepuk tangan dan pujian. Ketergesaan pun diumumkan bila si bocah berbakat. Di depan televisi atau gawai, bocah-bocah terus bersenandung meski sering ada “salah” dan “kengawuran”.

Bait Daun Takjub (5 tahun) biasa mbengok-mbengok di depan televisi. Ia mungkin merasa bersuara merdu: “Bersama kita melindungi bumi….” Kalimat itu terus diulang. Lagu tak pernah lengkap. Oh, Bait sedang menonton film kegemaran. Bapak bisa mengikuti: “Bersama Bait melindungi bumi…” Bapak juga tak pernah tahu lagu utuh. 

Pada suatu tahun, Sabda Embun Bening (9 tahun) menjadi pemilik sore. Pada setiap adegan menggerakkan sapu, bapak biasa mendengar: “Sayang, apa kabar denganmu, di sini kumerindukan kamu…” Tuhan, apa sedang terjadi dengan anak wedok? Ia telah menjadi umat sinetron. Konon, ia harus menonton agar bisa turut bercerita bersama teman-teman dan para ponakan. Bapak pun ikut-ikutan bersenandung ketimbang marah-marah mengetahui sinetron telah menguasai sore. Sabda pasti ngece bapak bila nekat mengucap: “Sayang, apa kabar denganmu…” 

Abad Doa Abjad (12 tahun) sambil mengurusi menthog dan pitik kadang-kadang bersenandung bahasa Inggris. Bapak mengaku tobat, tak bisa. Di kamar mandi, ia pun berani koar-koar dengan bahasa Inggris. Penghinaan untuk bapak sebagai pembenci bahasa Inggris dan Sabda mengaku kesulitan berbahasa Inggris. 

Di depan mesin jahit, Bu Ririn pun bersenandung: tak pernah lengkap, tak pernah rampung. Ia termasuk pelit. Ia bakal berpahala bila lagu utuh tapi malah menghentikan di permulaan. Situasi berbeda bila ia mengajarkan lagu-lagu buatan sendiri atau mengganti lirik dari lagu sudah ada kepada bocah-bocah. Ia tampak sumringah

Konon, bocah-bocah memang bergembira dengan bersenandung. Lagu-lagu mengantarkan mereka ke pengertian-pengertian sederhana tentang keluarga, kebersihan, persahabatan, keindahan alam, dan lain-lain. Pada masa awal suka menembang, mereka pun lekas diminta untuk mengerti Indonesia melalui lagu-lagu wajib atau nasional. Mereka mudah menghapalkan tapi pengertian-pengertian terasa berat. Negara-bangsa terlalu cepat datang. Tambahan lagi lagu-lagu bertema agama atau Tuhan. Bocah-bocah seperti sedang diajak fanatik atau mencipta perbedaan-perbedaan sulit terpahamkan.

Kini, sekolah-sekolah cap pemerintah atau partikelir (cap umum dan cap agama) memiliki selera lagu beragam. Di SD, bocah-bocah diajari pelbagai lagu. Pulang ke rumah, orangtua kadang kaget dan bingung mendengar mulut si bocah bersenandung “ini” dan “itu”. Sekian lagu bisa diterima. Sekian lagu sudah mengandung ideologi dan fanatik.

Indonesia pernah memiliki masa saat pemerintah mengajak para seniman dan pakar pendidikan mengadakan dan mengumpulkan lagu-lagu pantas diajarkan di pendidikan dasar. Kerja belum sempurna itu menghasilkan buku berjudul Njanjian Untuk Sekolah Rakjat (1960) terbitan Balai Pustaka. Penjelasan dari panitia: “Karena terbatasnja waktu jang diberikan kepada panitia untuk melaksanakan tugas jang tak ringan ini, maka bagi kami tidaklah mungkin dalam tempoh jang singkat dapat menghimpun, menelaah dan memilih semua lagu-lagu jang telah ada dengan sesempurna-sempurnanja. Dengan demikian, maka terbitnja buku ini tidaklah sekali-sekali mengandung arti mengurangi nilai lagu-lagu jang tidak termuat di dalamnja.” 

Di situ, ada lagu berjudul “Katja Piring” gubahan Pak Dal. Lagu mengajak bocah mengenali tanaman: Putih bersih kulihat warnamu/ Ditengah hidjau sembunji/ Harum wangi semerbak baumu/ Katja piring di taman sunji// Aku petik kau dengan daunmu/ Kubawa masuk kerumahku/ Putih hidjau menghias kamarku/ Katja piring dikau bungaku. Sederhana tapi mengajak bocah-bocah mengalami keindahan. Lagu-lagu indah belum mengarahkan bocah-bocah mengerti atau berimajinasi asmara. 

Ada pula lagu mengajar “kejantanan” bagi para bocah lelaki. Lagu berjudul “Pergi Perang-Perangan” gubahan Pak Tono. Lagu mungkin menimbulkan heroisme. Lagu memerlukan imajinasi perang, imajinasi digemari bocah-bocah: Kupanggul senapanku, senapan bambu/ Dengan topi kertasku pergilah aku/ Aku pergi kemedan, medan perang// Setelah aku sampai dimedan perang/ Segera aku mulai berperang/ Aku menembak musuh tar suaranja. Lagu mungkin menakutkan bagi orang-orang belum setuju bila bocah-bocah dihinggapi imajinasi kekerasan dan kematian berlakon perang. Pada masa 1960-an, heroisme memang dipesankan pemerintah agar bocah-bocah memiliki kemauan meneladani para pendahulu berkorban di medang perang. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s