Masyaallah, Pete Bakar!

Setyaningsih

AKU tidak makan pare! Meski orang-orang bilang uenak—disantap bersama ayam goreng, dicampur oseng usus, bersanding dengan siomay, ataupun dibuat kripik. Rasa pahit dalam kadar serendah-rendahnya masih belum dimaklumi oleh lidahku. Juga, kepahitan hidup tidak perlu ditambah pahitnya pare. Owh!

Aku sangat berterima kasih pada pencipta gado-gado (semoga ia masuk ke surga yang mengalirkan sungai es teh) karena tidak menaruh pare di tengah warga sayuran. Dari gado-gadolah, aku belajar mencintai sayur dengan mumpuni. Aku menonton ibu dan kakakku menyantap gado-gado. Ajaib! Bagaimana bisa potongan wortel, kentang, kacang panjang, kubis, tempe, tahu, telur, dan kerupuk merah dibungkus saus kacang gurih disantap dalam satu suapan? Aku mencintai sayuran (tanpa pare) dari penasaran. Nasihat guru, buku pelajaran, petugas Puskesmas, bahkan negara mental!

Sebagian anak bertumbuh dengan mengibarkan perang suci melawan sayuran. Bahkan gambar sayuran yang artistik dan tampak menyegarkan pada dinding resto cepat saji di Manahan (Solo), tidak akan membuat anak-anak segera berdamai dengan sayuran. Kami menjual ayam, bukan sayuran! 

Anak-anak berkompromi dengan sayur sejak belia dianggap wah. Majalah Bobo, 13 April 1985, memuat dua halaman tentang wortel berjudul “Si Akar Jingga”. Anak tidak digoda makan wortel, tapi berkenalan. Pada masa Yunani kuno, wortel dipakai sebagai obat alih-alih bahan makanan. Paman Gembul dijadikan maskot. Bobo menulis: “Di Eropa dan Amerika, wortel dimakan sebagai makanan tambahan seperti buah, atau sebagai hiasan meja makan agar dapat menimbulkan selera. Minuman sari wortel sama terkenalnya dengan pelbagai jenis minuman sari buah lainnya. Di Jerman, wortel digunakan sebagai pengganti kopi dan pemanis makanan. Gizi minuman sari wortel lebih banyak.” Sari wortel terdengar menjanjikan “aman” diseruput daripada potongan wortel dalam sup atau gudangan. Bobo menyertakan gambar sajian olahan wortel. Eh, bukan makanan Indonesia, tapi makanan Jepang. Siapa doyan?

Pengetahuan Bobo ini bertepatan dengan propaganda makan “empat sehat, lima sempurna”. Sayuran memang tidak ada di urutan pertama. Negara pernah menerbitkan buku seri flora Indonesia-Kebesaran Ilahi di Alam Semesta untuk bacaan anak kelas 4 SD, salah satunya berjudul Sayur-sayuran (1984). Masyaallah, sayuran adalah berkah Tuhan. Buku disusun oleh Marah Maradjo dengan koordinator ahli lulusan IPB, Saleh Widodo, memuat: labu siam, buncis, kacang panjang, labu air, tomat, kubis, dan pete. Anak-anak diajak mengenali bentuk dan ciri morfologis, sebaran geografis, penamaan, dan cara menanam melalui teks dan foto. Negara melalui buku ini membawa misi di luar masalah biologis makan—rasa cinta kepada alam flora. 

Aku masih belum kehabisan kagum pada kutipan Umar Kayam (Mangan Ora Mangan Kumpul, 1991). Begini Bu Prasodjo bilang: “Makan di sini ya? Aku baru habis ramban terong, kacang panjang, dan sedikit dedaunan, Nanti tak masakkan sayur asem, tak bakarin pete, tak sambelin yang pedes dengan trasi Juwana, tak gorengin ikan mujair. Mau enggak?” Pembaca mana yang tidak ngiler sejak di pikiran. Istilah ramban bagi orang Jawa begitu digdaya bagi kondisi perut dan kebudayaannya.

Dari novel Kokokan Mencari Arumbawangi (2020) garapan Cyntha Hariadi, Arum membuat keterhubungan dengan tumbuhan. Karena tidak dilahirkan dari rahim seorang perempuan, Arum membayangkan diri sebagai bibit yang diterbangkan angin, lantas singgah di suatu tanah untuk berupaya tumbuh. Perasaan keterasingan tentang identitas diri dan kegelisahan sehari-hari ia cerminkan melalui tetumbuhan (juga binatang): “Misal, kalau bibit tomat lama tidak muncul menyeruak tanah, Arumbawangi akan murung. Ia merasa bersalah sebab banyak menyimpan kegelisahan tapi tidak berani mengungkapkannya. Atau, ulat mengerubungi dan menyerang tanaman kangkung, ia panik sekali. Ia berpikir ia adalah penyebab ulat datang, atau ia adalah ulat sebagai cerminan kemarahan dirinya sendiri yang datang dan pergi.”

Keberadaan dan upaya penyesuaian diri seperti hidup sayuran. Terkadang, ada kemarahan yang sulit reda seperti rasa dan warna cabai. Tomat menawarkan hal baru meski tampak mencurigakan. Daun bawang yang nyegrak bisa adaptif di banyak santapan. Atau mungkin menjadi daun adas yang bergulat di sebaskom gudangan tanpa menenggelamkan keistimewaan yang lain.  


Setyaningsih, kritiskus sastra, tinggal di Boyolali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s