Dekat di Telinga, Lekat di Hati

Yulia Loekito

Ayah baru pulang dari kantor. Yang pertama-tama diperhatikannya ialah radio transistor tidak ada di tempat biasa, di atas bupet. Tadi pagi memang radio itu rusak. Sekarang ayah bermaksud membetulkannya. Ayah memandang ke sekeliling ruangan itu, tapi tak kelihatan juga radio itu. (Widyawati DH, Rahasia Ibu, 1983)

Kresek … kresek … kresek … 

JARI-JARI tangan orang pernah sering bergerak memutar kenop bundar untuk menggerakkan kawat penangkap gelombang. Kalau gelombang suara belum tertangkap, jari-jari itu akan mulai menggerak-gerakkan antena perak, ke atas ke bawah, ke kiri ke kanan, bahkan ke segala arah. Oh! Kalau suara lagu atau penyiar sudah terdengar jernih, leganya setengah mati. Seneng!

Jari-jari dan telinga-telinga anak-anak hidup di masa kini barangkali kebanyakan tak punya pengalaman serupa. Walau radio tetap mengudara hingga hari ini, tapi alat penangkap gelombangnya sudah berubah. Jarang kita temui radio transistor seperti dalam cerita pendek berjudul “Radio yang Rusak” termuat  dalam buku Rahasia Ibu gubahan Widyawati DH ini. 

Dalam cerita, ayah sedang bingung mencari radio transistor yang raib. Empat anak berlagak tak tahu-menahu. Mereka punya rahasia! Radio itu jadi pusat perhatian dan bahan obrolan keluarga. Iya, biasanya satu radio cukup untuk dipakai bersama dalam satu rumah. Berbeda dengan telepon pintar, rasa-rasanya masing-masing anggota keluarga seperti punya keharusan memiliki. Sulit berbagi, karena memang alat dirancang untuk pemakaian individual. 

Di rumah, radio bisa bertempat di ruang tamu, di dapur, atau di kamar. Dari radio kita bisa mendengar lagu-lagu, sandiwara, atau kesengsem dengan suara penyair yang empuk dan enak didengar. Imajinasi bisa berlari bebas ke sana kemari, menafsir suara-suara didengar dari kotak kecil berantena. Kita juga bisa bernyanyi bersama mengikuti lagu-lagu kesayangan diputarkan oleh penyiar favorit, atau tertunduk tegang bersama saat cerita sandiwara radio bertema horor. 

Selain sebagai hiburan, radio juga saluran berita penting. Orang-orang tua suka mendengar perkembangan berita dalam negeri atau luar negeri lewat radio. Peristiwa-peristiwa mendengar berita di radio terekam di buku-buku juga film-film. Iseng, kita buka komik Malfalda garapan Quino dari Argentina. Ah! Ada juga adegan Mafalda, si bocah perempuan lucu ciptaannya—yang bisa berkomentar tentang apa saja, dari pendidikan sampai politik—dan radio. Dalam komik, tampak Mafalda sedang duduk manis mendengarkan berita di radio. Terdengar berita: “Pemerintah mematok harga tertinggi untuk sembako.” Di panel berikutnya, Mafalda berkomentar: “Kapan sih itu punya arti?” Radio punya peran penting dalam kritik-kritik politik dan sosial pula. 

Dalam cerita Widyawati DH, radio itu rusak. Ayah bermaksud membetulkannya. Tapi, radio malah raib. Oh! Di akhir cerita, terungkap rahasia dari keempat anak yang berlagak tak tahu-menahu. Ternyata, radio sudah dibawa ke tempat reparasi pakai uang hasil iuran anak-anak dan ibu. Hore! Ayah lega dan seisi rumah senang, radio bisa didengarkan lagi. 

Walau teknologi sudah kian maju, kecepatannya pun kilat, tapi rupanya radio mendapat tempat di telinga dan hati pendengar. Walau kita tak lagi memutar kenop atau memutar-mutar antena tapi menekan tombol atau layar sentuh, ternyata orang-orang masih “butuh” mendengar. Peristiwa mendengar berbeda dengan menonton. Cara lain untuk mendengar pun berkembang, selain radio muncul pula aplikasi alat pemutar lagu dan podcast seperti spotify. Oh! Suara-suara itu memang dekat di telinga, lekat di hati, sebelum gambar-gambar bergerak. Sepertinya anak-anak juga memerlukan pengalaman itu. 


Yulia Loekito, ibu suka menulis di Kaum Senin, Jogjakarta  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s