Oh, Bakpao!

Indri K

HUJAN deras. Kudus basah. Seorang lelaki muda kerempeng berkulit gelap memakai topi dan jas hujan terus mengayuh gerobaknya menerjang guyuran hujan. Uap dari gerobaknya terlihat semakin mengebul. Lagu khas didendangkan menggema di lorong jalan, “Bakpao Mega Jaya enak rasanya, halal lho!”.  Berharap ada penghuni rumah menengok sejenak keluar dan membeli barang satu atau dua bakpao yang dia jajakan. 

Sebut saja penjaja bakpao itu, Darwoto. Dia masih berusia 31 tahun, namun sudah berkeliling selama 6 tahun dengan gerobak yang bukan miliknya. Bakpao yang dijajakan juga bukan bakpao buatannya, bukan juga diproduksi di kota Kudus.  Melainkan buatan perusahaan di Semarang yang kemudian dikirim ke Kudus dalam bentuk bakpao siap saji yang sudah diplastiki satu per satu.  Bakpao yang dijual Darwoto tersedia dalam empat pilihan rasa: ayam, kacang ijo, coklat, dan selai stroberi. Sebagai penanda diberi setitik warna yang berbeda, misal biru untuk stroberi dan merah untuk ayam. Supaya menarik dan terlihat bersih, bakpao berplastik ditata dalam kotak kaca gerobak.  Setiap hari, sekitar 150-200 buah bakpao menjadi tanggung jawabnya untuk dijual. Gerobaknya dilengkapi tabung LPG 3 kg untuk memanaskan kukusan jika ada pelanggan yang membeli untuk menjaga keempukan bakpao menjelang disantap. Sore berhujan saat yang tepat menikmati bakpao hangat-hangat.

Harga sebuah bakpao saat ini dibandrol 3.000 rupiah, harga sama rata,  baik yang isian daging ayam maupun bukan ayam. Jika berkaitan hitung-hitungan ekonomi, isi ayam paling menguntungkan pembeli. Harga terhitung bersaing dan lebih murah dibanding yang dijual di bakery. Ukurannya lumayan besar, isian banyak, terlebih lagi kita tidak perlu meninggalkan rumah untuk mendapatkannya. 

Para penjaja bakpao tidak dipasang target, mereka bebas menjualkan berapa pun. Namun mereka pun tidak mendapatkan gaji. Penghasilan mereka berdasar komisi semata, sebesar 30% dari total penjualan. Bila mau dihitung kasar, anggap saja Darwoto berhasil menjual 100 buah bakpao dalam sehari, maka dia akan mendapatkan 90.000 rupiah sebagai upahnya. Jam bekerjanya bisa dimulai pukul 10 pagi hingga lewat maghrib, atau jika bakpao sudah habis maka dia boleh mengakhiri pekerjaannya hari itu. Dengan rata-rata bekerja selama 30 hari dalam sebulan, maka dia bisa memperoleh total 2.700.000 rupiah, yang terbilang lebih tinggi dari upah minimum di Kudus. 

Dalam menjual, Darwoto memakai strategi agar ayuhan sepedanya tidak sia-sia. Dia berkeliling bukan pada jam makan. Karena percuma melewati rumah saat para penghuninya sudah berperut kenyang, tidak akan tergoda bakpao. Dia akan berkeliling mulai pukul 10 pagi  dan pukul 2 siang. Pada sore menjelang jam-jam pulang kantor, sekitar pukul 4 – 5, dia akan ngetem  di alun-alun. Meski gerobak terhenti, lagu di gerobak disuarakan terus-menerus tanpa jeda. Pengendara motor berlalu lalang mendengar alunan nada khas. Mereka akan menepikan motornya, berhenti sejenak membeli bakpao sebagai kudapan untuk keluarga atau pun sekedar mengganjal perut. Sopir angkot dan ojol juga terbiasa membeli bakpao sebagai bentuk pengiritan waktu dan uang. Melahap satu bakpao jauh lebih cepat dan murah dibanding mendulang sepiring nasi sayur.

Kata-kata dari lagu gerobak bakpao  “enak dan halal lho”  sudah terdoktrin di banyak orang. Membuat orang yang mendengar tergoda untuk membeli dan membayangkan kehangatannya. Penekanan kata “halal” pada lagu  penjual bakpao, tentu saja tidak terlepas dari perjalanan panjang bakpao di Indonesia.

Kita membaca pada majalah Selera edisi Januari 1985. Kita membaca sebuah artikel berjudul “Bakpao, Makanan yang Mudah Beradaptasi”. Artikel memuat asal nama bakpao: “Bakpao berasal dari bahasa Cina, bak = daging babi dan pao = roti. Memang seperti itulah dahulu, ia merupakan jenis roti kukus yang di dalamnya berisi cacahan daging babi.” 

Nama bakpao memang berasalnya dari bahasa Cina Hokkian. Namun pengertian tadi tidak benar seutuhnya.  Kata ‘ba’ (sudah salah kaprah ditulis dan dibaca ‘bak’) artinya daging, tidak dikhususkan sebagai daging babi, namun berlaku untuk semua jenis daging termasuk sapi dan ayam. Bisa maklum, karena pada dasarnya, orang Cina dulu memasak daging babi sebagai olahan makanan berdaging. Namun kesalahan sudah telanjur, dan orang Indonesia latah mengartikan ‘bak’ = daging babi,  termasuk restoran-restoran menjual masakan Cina.  Selain bakpao kita akrab dengan nama-nama makanan lain yang memiliki kata ‘bak’.  Bakso, bakwan, bakcang, hingga bakpia. Konon, daftar makanan mengandung kata ‘bak’ memang berdaging babi karena dikenalkan oleh orang Cina. 

Namun seiring waktu,  perkawinan campur terjadi antara pendatang Cina dan pribumi yang mana melahirkan kaum peranakan di Indonesia. Makin bercampur-campurlah ras dan suku membuat jenis-jenis makanan tadi juga berangsur-angsur mengalami perubahan pemakaian jenis daging demi menghalalkan yang disajikan di meja makan. Bakso yang sekarang lebih didominasi oleh bakso sapi dan juga tersedia dalam pilihan daging udang, ayam, ikan. Bakwan yang sekarang lebih dikenal sebagai gorengan sayur daripada gorengan bulatan daging. Bakpia juga lebih terkenal dengan isian kacang hijaunya. Bakpao tidak lagi menggunakan isian daging babi saja, berganti isian dengan yang halal. 

Bakwan yang sekarang lebih dikenal sebagai gorengan sayur daripada gorengan bulatan daging. Bakpia juga lebih terkenal dengan isian kacang hijaunya. Bakpao tidak lagi menggunakan isian daging babi saja, berganti isian dengan yang halal.

Nama bakpao tetap diabadikan untuk setiap bentuk roti kukus dengan isi di dalamnya. Beraneka macam jenis roti dan kudapan baru banyak bermunculan. Kita masih saja melihat bakpao tidak tergerus jaman. Bakpao yang berbahan dasar terigu yang diragikan dan diisi itu tetap saja bertahan dan dijajakan keliling. Dulu, penjaja bakpao hanya menggunakan gerobak dorong ataupun wadah yang dipikul. Untuk isiannya hanya terbatas pada kacang hijau. 

Buku-buku resep membuat bakpao juga terus diterbitkan, turut melestarikan ragam bakpao. Salah satunya kita menemukan buku Aneka Variasi Bakpao disusun oleh Diah Surjani (Agromedia Pustaka, 2012): “Seiring dengan perkembangan seni kuliner dan teknologi pangan. Kini isi dan bentuk bakpao lebih bervariasi.” Bakpao memikat dengan warna dan bentuk-bentuk seperti bunga, binatang hingga karakter kartun. Kreativitas dalam isian bakpao lebih mencengangkan. Di buku dijumpai bakpao dengan isi yang nyaris tidak ditemui di pasaran seperti bakpao isi rendang, bakpao isi daging bolognaise, bakpao ayam kungpao, bakpao jagung, bakpao isi unti (kelapa parut) hingga bakpao isi kare ayam. Kulit bakpao yang tawar  memang dapat dipadukan dengan segala rasa isian, baik yang manis maupun asin. 

Orang awam tidak terbiasa dengan bakpao aneka bentuk dan warna. Bahkan ditemui bakpao berbentuk burger dan hotdog. Mereka tidak akan menyebut roti sejenis itu sebagai bakpao, meski tetap diproses secara dikukus. Bakpao bagaikan kehilangan integritas jika tidak berpenampilan bulat, mentul-mentul dan putih memplak. Bakpao disukai karena penampilan luarnya yang sederhana, namun isian di dalamnya terus beradaptasi.  Bakpao yang terlihat seperti itu lebih bisa dipahami dan dinikmati oleh segala lapisan dan usia.


Indri K., Penulis tinggal di Kudus  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s