Pengajaran Ibu dan Suguhan Teh

Margarita Riana

SEORANG tentara Jawa dan keluarganya tinggal di Papua pada tahun 1970, membawa serta budaya Jawa. Buku berjudul Lengking Burung Kasuari (2017) karangan Nunuk Y. Kusmiana mengisahkan kehidupan keluarga Jawa di Papua. Sesosok ibu dalam keluarga Jawa membawa aneka bumbu dapur, rempah-rempah, dan juga budaya Jawa besertanya saat memutuskan untuk pergi dan tinggal di Papua.

Ibu bertanya, apakah Tante Bahar mau dibuatkan teh manis-karena sopan-santunnya memang begitu.

Kalimat jelas menyatakan teh menjadi bagian dari penilaian sopan santun seorang wanita Jawa. Di Jawa masa 1990-an, budaya menjamu tamu dengan teh manis yang panas di dalam gelas beralaskan tatakan kecil dan ditutup dengan tutup silver juga terjadi. Ibu-ibu di Jawa sangat ketat dengan aturan penyajian minum untuk tamu. 

Kehidupanku pada masa 1990-an menunjukkan hal yang serupa. Saat ada tamu berkunjung, berlangsunglah pelatihan dari ibu untuk penyajian teh yang sopan dan pantas untuk tamu. Transfer budaya ini berlangsung beberapa kali. Bertahap mulai dari menyajikan teh hingga membuat teh sendiri.

Sikap saat menyajikan teh: dilarang membungkuk lebih baik berlutut atau jengkeng. 

“Membungkuk dapat membuat keringat jatuh di atas suguhan yang akan disajikan,” kata ibu. 

Jika tamu yang datang jauh lebih tua umurnya dari bapak dan ibu, ibu akan menyiapkan tatakan. Tatakan diletakkan terlebih dahulu di meja depan tamu yang berumur paling tua. Nah, inilah keahlian yang didapat berdasarkan pengalaman, keahlian menebak umur tamu. Setelah tatakan saatnya meletakkan gelas di atasnya. Gelas berisi teh panas manis berwarna coklat tua bening dan harus sudah bertutup. Memindahkan gelas panas ini juga butuh keahlian khusus. Tangan harus betah memegang gelas panas beberapa saat dan meletakkannya di atas tatakan tanpa menimbulkan suara.  Gelas yang tanpa pegangan diangkat dengan tangan kanan dan tangan kiri menyangga gelas. Jika yang dipakai gelas dengan pegangan, maka pegangan gelas harus diposisikan berada di depan tamu. 

Setelah ahli dalam menyajikan teh pada tamu, ibu memberikan pelatihan membuat teh. Ribet dan sangat teliti langkah-langkahnya. Saat tamu yang berkunjung datang, ibu akan menghitung jumlah tamu dan ditambah satu untuk bapak. Ibu sendiri tidak pernah menghitung dirinya sendiri. Sebelum jumlah tamu aku dapat, aku harus segera menjarang air dalam ceret.

Teh dalam kantong belum ada saat itu, jadi teh daun yang ada daun melati dalam kemasan kertaslah yang aku gunakan. Teh instan mudah didapat, cepat diseduh, dan cepat hilang juga kenikmatannya. Teh disiapkan di teko air yang sudah mendidih segera dituang. Menyeduh teh dengan air panas dari air dalam ceret yang baru saja mendidih adalah keharusan agar rasa daun teh dan bunga melati seutuhnya keluar, rasa sepet dan harum. Air dalam termos dianggap kurang panas dan tidak bisa menimbulkan rasa khas teh. 

Menyeduh teh dengan air panas dari air dalam ceret yang baru saja mendidih adalah keharusan agar rasa daun teh dan bunga melati seutuhnya keluar, rasa sepet dan harum. Air dalam termos dianggap kurang panas dan tidak bisa menimbulkan rasa khas teh.

Teh panas dengan rasa manis dan sepet harus tersaji di dalam gelas bening beralaskan tatakan dengan tutup. Teh itu harus terlihat coklat bening tanpa buih bekas mengaduk. Cara mengaduk teh juga ada caranya. Jangan sampai suara sendok saat mengaduk terdengar tamu.

Menyuguhkan teh dianggap hal yang paling tepat karena pada umumnya orang Jawa suka minum teh manis. Teh adalah minuman segala umur dan cocok disuguhkan di aneka acara. 


Margarita Riana, Ibu suka menulis, tinggal di Jogjakarta  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s