Bacalah! Nyaringlah!

Yunie Sutanto

Ketika anda membaca kepada anak, anda menuangkan ke dalam telinga anak (dan otaknya) semua suara, suku kata, akhiran dan campuran yang akan menjadi kata-kata yang suatu hari dia akan diminta baca dan pahami. Dan melalui cerita, anda  memasukkan ke dalam dirinya pengetahuan latar belakang yang dibutuhkan untuk memahami hal-hal yang tidak ada di lingkungannya-seperti perang, ikan paus, atau lokomotif. (Jim Trealease, The Read-Aloud Handbook, 2017)

BACKGROUND knowledge yang diterjemahkan pengetahuan latar adalah suatu pengetahuan yang termiliki hanya oleh mereka yang banyak membaca buku (di luar buku teks wajib), sering mengunjungi museum dan tempat bersejarah, sering main ke alam dan juga berkesempatan bepergian ke luar negeri. Ada pengetahuan latar yang diperoleh di luar jam sekolah yang dampaknya memperluas cakrawala berpikir. Sebab, belajar itu tak melulu terbatas di bangku sekolah. 

Belajar itu gaya hidup (seharusnya) yang dilakoni: kapan saja dan di mana saja. Pembelajaran di sekolah (sayangnya) hanya berisikan segala hal yang berurusan akademis, yakni pengetahuan dasar untuk kelulusan terkait kemampuan “calistung”. Sehingga untuk pengetahuan latar, anak-anak tak bisa berharap memperolehnya di jam sekolah. Bagi anak-anak dengan ekonomi yang terbatas, akses memperoleh pengetahuan latar lewat buku-bukulah yang paling terjangkau. 

Itulah sebabnya jika tujuan seseorang membaca hanya semata demi ujian kelulusan sekolah, betapa tidak nikmatnya kegiatan membaca itu! Tak heran, jika selepas lulus kuliah, orang-orang akan  berhenti membaca. Padahal, tugas  utama pendidikan adalah untuk menanamkan sebuah keinginan dan kegairahan belajar. Tugas pendidikan bukan untuk menghasilkan orang-orang bergelar melainkan menghasilkan orang-orang yang terus belajar. Saat kita semua tanpa terikat usia terus menjadi pembelajar mandiri, jadilah murid yang terus belajar dalam sekolah kehidupan. Hal ini termungkinan jika membaca itu menjadi gaya hidup. 

Tugas pendidikan bukan untuk menghasilkan orang-orang bergelar melainkan menghasilkan orang-orang yang terus belajar. Saat kita semua tanpa terikat usia terus menjadi pembelajar mandiri, jadilah murid yang terus belajar dalam sekolah kehidupan. Hal ini termungkinkan jika membaca itu menjadi gaya hidup.

Jauh sebelum ada aksara, cerita-cerita dituturkan dari mulut ke mulut. Tradisi mendongeng secara lisan bisa terjumpai di hampir semua budaya. Pendongeng menjadi salah satu profesi di zaman kuno. Raja-raja Eropa di Abad Pertengahan sering memanggil pendongeng ke istana untuk menghibur dengan kisah-kisah saga yang membuai imajinasi. Hingga teknologi mesin cetak hadir dan buku-buku pun bermunculan, yang memungkinkan kisah-kisah itu dicatat dan diabadikan dalam tulisan. Cerita-cerita kini tersimpan dalam bentuk tulisan, tak hanya lisan. Buku-buku menunggu dibacakan nyaring kepada telinga-telinga yang antusias mendengarkannya!

Tak semua orangtua kreatif merangkai kisah untuk mendongeng bagi buah hatinya. Tak semua orang berbakat menuturkan kisah secara lisan dengan penuh penghayatan dan intonasi yang pas, seperti layaknya pemain sandiwara radio. Bahkan, seorang dalang perlu didampingi pemusik Jawa dan seperangkat wayang dalam berkisah. Juga seorang ahli suara perut (ventriloquist) seperti Ria Enes perlu didampingi boneka saat ia berkisah. Namun kini dengan hadirnya buku-buku cerita, siapa pun bisa bercerita dengan hanya bermodalkan buku. Kata-kata yang tertulis di buku tinggal dibacakan dengan bersuara. Adakalanya buku juga disertai ilustrasi yang mendukung pembacaan. Buku-buku memungkinkan hal ini terjadi. Kita menyebut aktivitas ini membacakan nyaring. Tak perlu punya bakat khusus bersuara perut, pandai meramu cerita dan pandai mendalang.  Cukup bermodal hati yang bertekad kuat membacakan nyaring buku-buku saja. 

Indra pendengaran memang diciptakan Tuhan sebagai indra pertama yang terfungsikan pada janin dan juga merupakan indra terakhir yang berhenti berfungsi saat ajal menjemput. Mengutip Roosie Setiawan (2017), organ pendengaran terbentuk secara sempurna pada trimester ketiga dalam masa kehamilan. Oleh sebab itu, memperdengarkan suara kedua orangtua dan keluarga terdekat ketika ibu hamil sangatlah dianjurkan. Misalnya dengan cara membacakan nyaring buku/majalah, kitab suci atau bacaan lain. Tradisi membisikkin ayat-ayat suci saat bayi baru dilahirkan bisa dianggap sebagai awal dari membacakan nyaring literatur dari Kitab Suci. Ada pula keluarga yang sudah membiasakan membacakan nyaring Kitab Suci sejak dari kandungan. 

Alice Ozma dalam bukunya The Reading Promise menuliskan kenangannya membaca buku-buku bersama sang ayah. Jim Brozina, ayah Alice, berjanji akan membacakan nyaring kepada anaknya yang berusia 9 tahun setiap malam sebelum ia tidur. Alice sangat menantikan momen kebersamaan ini.Mereka  membuat kesepakatan bahwa sang ayah akan membacakan nyaring selama 1000 malam berturut-turut. Rupanya, mereka terus melakukan ritual ini selama 9 tahun, tepatnya 3218 malam, hingga Alice berusia 18 tahun! Saat di kelas 11 , tak heran jika Alice tercatat sebagai siswa dengan nilai PSAT tertinggi di kelasnya. Bayangkan betapa kayanya pengetahuan latar belakang dan kosa kata yang termiliki oleh Alice! Tanpa bimbel dan les pun Alice menjadi siswa unggul! 

Membacakan nyaring memang sudah ada dalam sejarah sejak lebih dari dua ribu tahun lalu. Dalam tradisi Ibrani, para ayah sebagai imam membacakan Taurat kepada anak-anaknya. Tradisi membacakan nyaring saat sesi makan di biara ordo Benediktus pun masih dipraktekkan hingga kini. Tradisi membacakan nyaring di pabrik-pabrik tembakau saat para pekerja melinting cerutu dilakukan di Kuba dan Amerika Serikat. Aktivitas yang bertujuan mengusir kemonotonan ini di Kuba disebut La Lectura. Saat pabik-pabrik di Amerika Serikat memilih menggantikan pembacaan nyaring dengan mendengarkan radio, tidaklah demikian di Kuba. Sampai saat ini tradisi ini tetap dilakukan di Kuba. Mengutip Jim Trelease (2017), si pembaca biasanya duduk di atas kursi tinggi atau podium di tengah ruangan dan membacakan buku dengan nyaring selama 4 jam pertama dari koran-koran lokal, novel berseri dan bahkan Shakespeare. 

Kebersamaan orangtua dan anak menjadi tantangan tersendiri di era disrupsi ini. Buku Jim Trealease seolah menjadi pengingat untuk membudayakan membacakan nyaring sejak dini sebagai kegiatan yang berpotensi mempererat keakraban orangtua dan anak. Tak usah bingung mencari topik diskusi untuk memasuki jiwa anak, lewat mendiskusikan buku yang dibaca bersama kesempatan ngobrol terbuka lebar! Anak-anak pun menjadi leluasa mengomentari dan menyatakan pendapat sebagai tanggapan atas kisah yang dibaca bersama. Tak habisnya potensi pertanyaan yang termunculkan dari benak anak-anak. 

Lewat kisah Yusuf di Kitab Suci contohnya: Mengapa saudara Yusuf iri padanya? Mengapa Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang menjualnya menjadi budak? Saat membaca kisah Theseus dalam gubahan Plutarch, terdengar celetukan penuh tanya: Aku heran mengapa Theseus yang sudah mati diterima sebagai pahlawan, tetapi saat masih hiduup ditolak mentah-mentah? Saat membaca perjumpaan Laura Ingalls dengan para Indian Amerka: Mengapa orang-orang Indian ini tidak marah ya, tempat tinggal mereka direbut para pendatang? Apa bedanya dengan kolonialisasi?  Saat membaca kisah perjuangan Amy Carmichael yang rela membaktikan dirinya bagi kaum papa di India Selatan, muncul pula pertanyaan: mengapa Ibu Amy yang sakit-sakitan malah memilih melayani orang lain? Berapa banyak diskusi dan curhat dari hati ke hati yang termungkinkan muncul dari pertanyaan-pertanyaan emas yang dilontarkan anak-anak di atas?  Rasanya tak ada batasnya!

Mengutip Sarah Mackenzie dalam The Read-Aloud Family:Reading is first and foremost for pleasure -for delight. We communicate what we believe about books by the reading atmosphere (and lack thereof) in our homes.” (Kegiatan membaca dilakukan adalah terutama demi kenikmatan membaca itu sendiri. Kita mengkomunikasikan keyakinan kita tentang pentingnya buku lewat atmosfer membaca yang ada (atau tidak ada) di rumah kita).  Mau anak gemar membaca? Sediakan medianya! Berikan fasilitasnya. Teknis membaca itu tak sepenting atmosfer membaca yang dihadirkan keluarga. Sekolah mungkin berfokus pada pentingnya mengenal huruf, bisa mengeja dan lancar membaca.

Namun setelah bisa membaca, apakah cukup berhenti di situ? Kemauan dan kegandrungan membaca yang lebih penting termiliki anak. Orangtua yang memberikan teladan suka membaca akan menularkan rasa cinta membaca pada anaknya. Sehingga anak-anak menjadi anak-anak yang mau terus membaca jauh setelah mereka lulus sekolah.  


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s