Memuliakan Tumbuhan

Yulia Loekito

Kegiatan meramban membuat kita lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Kita dapat mengetahui bahwa di antara semak-semak atau rerumputan yang biasanya kita abaikan, ternyata terdapat tumbuhan yang dapat dimakan dan bermanfaat. Dengan demikian, kita tergerak untuk menjaga lingkungan sekitar untuk tetap asri, bersih, dan tidak tercemar sehingga tumbuhan tersebut bisa tetap dikonsumsi.”  (Thobib Hasan Al Yamini dan Dyah Kartikasari, Panduan Meramban: Mengenal 87 Jenis Tumbuhan Sekitar yang Dapat Dimakan, 2020)

OBROLAN di suatu sore beberapa waktu lalu itu memang direncanakan. Obrolan tentang tanduran dengan seorang teman. Ngalor ngidul, tercetus rasa ingin tahu tentang pohon-pohon berkayu keras. Jadilah kami ngobrol tentang pohon trembesi dan lamtara. Dugaan awal, pohon besar sekadar berfungsi sebagai peneduh. Oh! Tapi, kabar berikutnya membuatku yang kurang mengenal Bumi tempatku berpijak ini tercengang. Pohon-pohon raksasa itu adalah keluarga polong-polongan, bersepupu pula dengan tanaman kembang telang yang halus bersulur-sulur itu. Tutur temanku: “Tanaman itu sebenarnya punya kerajaan dan kehidupan. Kita saja yang belum memuliakan mereka.” Oh, Gusti! Mak jleb! 

Tanaman dan pepohonan dipahami penyedia makanan dan oksigen. Seringnya mereka dianggap sebagai pelengkap hidup manusia, juga hewan. Dalam buku Panduan Meramban seperti dikutip di atas, kita juga diingatkan untuk tergerak menjaga lingkungan agar tumbuhan bisa tetap dikonsumsi. Kita merawat masih berpamrih. Tak apalah, daripada tak peduli sama sekali, seolah sayur dan buah itu tumbuh dari meja-meja warung atau pasar. 

… Kita diingatkan untuk tergerak menjaga lingkungan agar tumbuhan bisa tetap dikonsumsi. Kita merawat masih berpamrih. Tak apalah, daripada tak peduli sama sekali, seolah sayur dan buah itu tumbuh dari meja-meja warung atau pasar.

Slamet Soeseno sudah sejak lama mengabarkan tentang flora dan fauna. Tulisan-tulisan rajin dimuat di Intisari. Dalam satu tulisan berjudul Lamtorogung sebagai Ipil-Ipil di Intisari edisi Oktober 1985, Slamet Soeseno mengingatkan kita pada botok. Sayur dimasak dengan parutan kelapa muda diberi bumbu bawang putih, kencur, ketumbar, lombok, daun jeruk: dibungkus daun pisang lalu dikukus. Hmm … sungguh menerbitkan air liur. Sayur bisa apa saja: kelor, kenikir, atau bluntas, biasanya dicampur teri dan petai cina atau mlandingan. Duh, sungguh lezat! Petai cina itu yang dibahas panjang lebar. 

Kutipan: “… tapi sesudah ada laporan Owen tahun 1958 bahwa para wanita tani Sumedang yang tiap hari melahap buah petai cina muda nyata sekali rontok rambutnya …. Atas dasar ini, kita kemudian dianjurkan untuk tidak mem-botok biji petai cina lagi, tapi mem-botok biji lamtorogung saja yang kadar mimosinnya lebih rendah, kira-kira 45% (hampir separuh) dari kadar mimosin petai cina.” Masyarakat pembaca kabar mungkin lalu tergerak memberitahu tetangga dan saudara supaya jangan terlalu sering masak petai cina. Bahkan di pedesaan, orang-orang sudah tidak terlalu terbiasa meramban, masyarakat adalah masyarakat tani. Bahan pangan diperoleh dari ladang, orang jadi tidak terlalu titen  lagi dengan sekitarnya dan jarang kabar diturunkan—dari generasi ke generasi atau dari mulut ke mulut—tentang tanaman mana yang aman dimakan, yang menyehatkan, yang bisa jadi obat, yang beracun, atau tanaman mana bersaudara dengan yang mana. Lamtorogung dan petai cina itu saudara dekat. Eh, mereka juga masih saudaranya trembesi yang teduh itu, lo! 

Kita masih berdecak kagum dan mengelus dada berkehendak insaf melalui obrolan dan tulisan-tulisan tentang tanaman. Kita belum lagi melangkah keluar rumah dan mengenali serta menyapa mereka satu per satu. Kita lanjutkan saja membaca buku Panduan Meramban. Buku dihiasi dengan foto masing-masing tanaman supaya kelak kalau kita mau mencoba meramban bisa menggunakannya sebagai panduan. Satu foto di halaman awal menarik perhatian, tanaman sangat mirip stoberi. Buah tampak menggantung berwarna merah, bentuk persis stroberi, tapi kita lihat di sana ada rambut-rambut halus. Daun-daunnya pun bergerigi mirip stroberi. Tanaman bernama ucen dengan sebutan lain: kecalingan, beberetan, atau jelanggara. Disebutkan kalau ucen biasanya ditemukan di daerah dataran yang agak tinggi dengan udara yang dingin dan sejuk. Umumnya tumbuh di tepian tebing atau di bawah naungan hutan pinus. 

Daun-daun muda tumbuhan ucen bisa dimasak jadi pecel. Buahnya bisa dimakan langsung, atau dalam buku disarankan untuk diolah menjadi selai. Olahan masakan dalam buku juga menarik perhatian. Cara memasak lokal dan pengaruh Barat disebutkan silih berganti, seperti: urap-urap, omelette, dan salad—oseng-oseng, botok, atau sayur lodeh tidak disebut. 

Abhinaya Ghina Jameela mungkin belum pernah melihat ucen. Naya lebih mengenal stroberi. Bisa jadi suka makan, yang jelas pernah menanamnya. Pengalaman menanam stroberi ditulis jadi salah satu puisi dalam buku kumpulan puisinya Resep Membuat Jagat Raya (2020). Puisi berjudul “Stroberi”: Siang hari aku menanam stroberi, menanam dengan bijinya yang kecil seperti semut/ Aku menyiram tanaman itu sambil bernyanyi/ 10 hari, stroberiku sudah matang lalu aku memetik satu-persatu dari yang kecil ke yang besar./ Aku buang daunnya yang terlalu matang.” Puisi bernada suka cita, ada nyanyian juga di sana. Naya—masih anak-anak—menuangkan  keindahan dan kegembiraannya dengan tanaman dalam tulisan. Oh, senangnya! Barangkali dengan begitu tanaman sedikit demi sedikit dimuliakan.

Tanaman-tanaman itu memang suka memberi. Semakin kita petik daun atau buahnya, bahkan kita pangkas cabang-cabangnya lalu kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia akan memberi lebih banyak. Walau kita obrak-abrik tempat hidup mereka, mereka selalu punya cara untuk terus hidup. Hari ini kita punya sedikit kesadaran untuk merawat mereka dengan pamrih. Suatu saat kita mencoba berkenalan dan menyapa mereka, meramban atau sekedar mengagumi dan berterimakasih. Sedikit demi sedikit belajar memuliakan mereka, walau kadang dalam anggapan masyarakat petani, sebagian dari mereka adalah gulma merugikan. 

Yulia Loekito

Penulis tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s