Atap, Buku, Hujan

Bhellinda I Santoso

TIGA hari setelah pulang dari rumah sakit, secara tidak sengaja suami yang sedang di halaman belakang melihat atap rumah. Ada sesuatu yang janggal.

“Mah, sinio. Liati, sini tah. Cuma pelan-pelan, wong kamu abis operasi.”

“Napa, Pah?”

“Sini tah. Liati itu bener mlorot apa ndak atape?”

Aku berjalan tertatih-tatih. Sebab, perutku membesar kayak sedang hamil walau tidak hamil. Seandainya hamil, duh senenge. Aku menghampiri suamiku di halaman belakang. 

“Iya e gentenge kok mlorot ya.”

“Modiar, Mah! Besok, aku wes balik. Trus kepiye ini rumahe? Kudu diusungi iki, Mah. Wedine nek ambrol. Bejone kok ga sampe ambrol ya, Mah.”

“Iya e, Pah. Kok ge tau saiki ya. Tak kiro plafone tok yang rusak, lha kok malah iki sak atape ya.”

“Mah, suk minta tukang ngeliatin itu atape kenapa. Apa keno rayap yo, Mah?”

Yah, kejadian yang sangat cepat. Datanglah tukang, dan bilang kalau fix atap rumah terkena rayap. Sebab keadaanku yang masih terdampak operasi, tidak memungkinkan untuk packing semua barang di rumah. Suami memutuskan untuk cuti dan balik lagi ke rumah.

Oh, Tuhan kasih alasan untuk dia balik. Sebab, anaknya ulang tahun. Jadi, suami sudah lama izin ke kantor. Pertama, WFH sambil menunggui aku operasi. Kedua, beneran cuti karena atap bocor. Sebenarnya, cuti mau diambil di akhir tahun. Tapi, kalau Tuhan berkehendak, apalah mau manusia.

Melihat barang-barang di rumah harus di-packing sungguh memakan waktu dan tenaga. Saya meminta bala bantuan teman untuk membantu proses packing. Paling banyak dan tidak selesai-selesai ialah packing buku. Yah, saya juga mulai mblenger saat membantu proses packing buku. Walah, hanya 1 rak buku saja, kenapa tidak selesai-selesai.

“Mah, iki opo, Mah, packing kok kayak gini. Nek niat ngewangi packing yo ojo ngene, packing ya di pack rapi, ndak cuma dimasuke kardus gini.”

“Lha itu ditumpuk-tumpuk lak isa.”

“Cuma nek ga simetris, nek ditumpuk lak miring iso tibo, piye tah?”

“Ya maaf, Pah, tak kira begini ya bisa.”

“Wes ah, marai mudrek, ki bukumu akihe pol sisan, ga bar-bar ket tadi aku packingi. Wes ah sok ga usah beli-beli lagi, coba pake ebook tah, Mah, ben ga selangkrahan gini.”

“Iya, Pah.” 

Aku terdiam seribu bahasa karena kalau suami sudah bilang dengan nada 3 oktaf. Lebih baik diam. Dalam hati, “Mateng kui bar ini paketan buku pada dateng.” Semoga pas suami sudah balik ke Bandung.

Selesailah perbincangan tentang packing dan me-macking barang. Sekarang, atap rumah sudah mulai diperbaiki. Tinggal kejar-kejaran dengan hujan. Wahai hujan, pleace be nice, rumahku baru dibongkar.


Bhellinda I Santoso, penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s