Mencatat Pesan

Yuni Ananindra

ADA anak manusia yang merasa kurang beruntung karena tumbuh tanpa pesan bijak orang tua. Baginya, tidak diberi pesan-pesan berarti kurang dipedulikan sebagai anak. Ia iri kepada anak-anak lain. Di media sosial, ia sering membaca cerita inspiratif bin ajaib yang menurut pengakuan penulisnya dilatari oleh kepatuhan terhadap nasihat orangtua. Sementara, anak yang merasa kurang beruntung ini oleh orangtuanya hanya diberi pesan brengsek bernada perintah untuk jadi orang kaya seperti anak tetangga. 

Setiap orang berhak menyampaikan pesan, baik ia presiden, guru,  pialang saham, tukang sayur,  atau copet sekalipun. Rendra menuliskan  puisi  berjudul “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya”: Cintamu padaku tak pernah kusangsikan./ Tapi cinta cuma nomor dua./ Nomor satu carilah keselamatan./ Hati kita mesti iklas/ berjuang untuk masa depan anakmu./ Janganlah tanggung-tanggung menipu lelakimu./ Kuraslah hartanya./ Supaya hidupmu nanti sentosa. Itu hanya penggalan saja. Copet ciptaan Rendra itu banyak omong dan menghasilkan pesan yang dituliskan dalam puluhan baris. 

Kesamaan pesan bisa diterima secara berbeda oleh para penerima. Kondisi atau pengetahuan awal penerima pesan adalah salah satu faktornya. Dalam pergaulan, kita barangkali pernah mengenal orang mudah terbawa perasaan alias baper. Ia gampang menangis, kerap menunjukkan rasa bersalah, atau mampu menangkap detail yang tak tertangkap orang pada umumnya. Dalam psikologi, orang ini disebut highly sensitive person (HSP) atau orang yang punya sensitivitas tinggi. Emosi dan pikiran HSP berada di wilayah kedalaman sehingga mereka rawan terkena depresi dan gangguan mental lainnya. Pesan-pesan dari kondisi sekitar bisa terserap dengan mudah dan sering tanpa kendali karena mereka punya sensor yang sangat sensitif. Akibat serbuan itu, mereka rentan kelelahan. Sebagaimana sakit tubuh, lelah adalah pesan juga.

Teknologi menggiring manusia untuk menerima banyak pesan. Ia ingin agar manusia terkoneksi dengan hal yang lebih luas dan lebih banyak. Ketika membuka media sosial kita kerap ditawari daftar-daftar orang yang mungkin dikenal, berita yang sedang populer, atau postingan dari akun yang tak kita ikuti. Hal itu merusak kenyamanan pengguna yang lebih menginginkan privasi dan pembatasan diri terhadap paparan informasi yang terlalu banyak. Media sosial menggeser pola interaksi sesama manusia. Kini, media sosial kerap hanya dipakai sebagai ajang mencari kepopuleran. Tentu saja ingin populer bukanlah dosa. Tapi terkadang, para pencari kepopuleran menggunakan cara-cara yang jauh dari elegan. Pemburu kepopuleran hanya latah tak berdasar. Rubuh-rubuh gedhang kalau kata orang Jawa.

Media sosial menggeser pola interaksi sesama manusia. Kini, media sosial kerap hanya dipakai sebagai ajang mencari kepopuleran. Tentu saja ingin populer bukanlah dosa. Tapi terkadang, para pencari kepopuleran menggunakan cara-cara yang jauh dari elegan. Pemburu kepopuleran hanya latah tak berdasar. Rubuh-rubuh gedhang kalau kata orang Jawa.

Sebelum media sosial tumbuh masif, televisi adalah media yang begitu disayang. Entah apa yang terjadi sehingga pada suatu saat masyarakat begitu berharap kepada televisi; berharap televisi memberikan siaran mendidik. Sementara, sekolah-sekolah sebagai institusi pendidikan resmi malah diamanahi pesan-pesan yang sering tak relevan dengan kehidupan. Menyontek adalah salah satu produk sekolah. Dulu buku catatan itu bisa jadi sumber sontekan. Zaman berganti dan sontekan ikut menyesuaikan diri. Sekian tahun lalu,  sebagian anak SMA sudah berpengalaman memfotokopi cetakan slide presentasi  yang diperkecil untuk jadi bahan sontekan. Di film-film luar negeri, sering ada adegan murid menyontek menggunakan alat-alat canggih. Catatan-catatan masih dianggap penting hingga sekarang. Ketika pandemi dan belajar tak bisa di sekolah, guru menugasi murid untuk mencatat. Mencatat diasumsikan sebagai bagian dari belajar.

Marie Kondo—pakar beres-beres asal Jepang—punya bayak klien yang bermasalah dengan catatan. Dalam buku The Life-Changing Magic of Tidying Up (2018), ia pernah menuliskan pengalamannya bertemu perempuan 30 tahun yang bekerja untuk perusahaan periklanan: “Begitu memasuki apartemennya, saya merasa bagaikan berada di sebuah kantor. Mata saya tertumbuk ke deret demi deret kotak arsip dengan label judul yang tercetak rapi. ‘Semua ini bahan kuliah seminar yang pernah saya ikuti,’ katanya kepada saya. Sebagai maniak seminar—menurut pengakuannya sendiri—perempuan itu telah menyimpan dan mengarsipkan bahan kuliah dari semua seminar yang pernah dia hadiri.” 

Koleksi bahan seminar terbanyak yang pernah dijumpai Marie Kondo berjumlah 199 arsip. Dengan enteng ia menyuruh kliennya untuk membuang itu semua. Menurut Marie Kondo, nilai sebuah seminar bermula dari kehadiran, dan pada akhirnya bisa didapatkan dengan mempraktikkan isi seminar begitu seminar usai, bukan dari fotokopi atau diktat seminar. Dan sebagian besar orang yang menyimpan dengan dalih akan mempelajari bahan-bahan itu lagi, terbukti memang tak pernah melakukannya. 

Indonesia memiliki Agustinus Wibowo sebagai penulis perjalanan. Pencatat dan penulis adalah identitas beririsan. Ia mencatat perjalanannya keliling dunia, tapi sekaligus merupakan catatan diri; atau boleh saja dikatakan sebaliknya: “Setelah perjalanan panjang ini, bagiku ‘eksotisme’ menjadi kata yang sangat absurd. Mereka bukan kebanggaan kita, mereka bukan objek, bukanlah target kemenangan.” Agustinus Wibowo hanya satu. Kita tak mampu menjadi duplikat Agustinus Wibowo. Tapi kita masih bisa meniru cara kerja Agustinus Wibowo dalam mencatat apa-apa yang telah dijalani dan terlalui.


Yuni Ananindra, penulis tinggal di Jogjakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s