Ruang Anak Bajang (5)

Jurnal tujuh-harian perjalanan Anak Bajang Mengayun Bulan oleh Sindhunata di harian KOMPAS

Tujuh-episode kelima:

Sokawati melanjutkan ceritanya, bahwa setelah pertengkarannya dengan sang suami, masing-masing memberi nama pada putra kembar mereka. Swandagni memberi nama Sumantri pada si tampan, dan Sukrosono adalah nama dari Sokawati untuk anak raksasanya. Sokawati mengasuh dan menyusui Sumantri, seolah-olah mengasuh sepasang kembarnya. Ia percaya Sukrosono sintas sepanjang saudaranya selamat. Ia berpesan pada Sumantri agar menyayangi adiknya dan tidak malu akan wujud raksasanya. Setelah menyapih Sumantri, perasaan bersalah menderanya lagi. Suaminya, yang tak tega melihatnya, akhirnya mengakui kesalahannya. Menurut Sokawati, dosa mereka baru akan terampuni apabila kedua putra mereka bertemu. Untuk itu ia rela menjemput Sukrosono, bahkan dari alam kematiannya. Dengan perasaan bersalah dan tekad berjumpa Sukrosono, ia pun meninggalkan dunia. Benar saja, di alam penantian, ia mendapat restu para dewa untuk turun ke bumi menemui putranya. Kilas balik ini yang membuka cerita di bagian awal. Sukrosono memperkenalkan ibunya pada induk macan yang mengasuh dan menyusuinya seperti anak sendiri, bersama tiga anaknya yang lain. Dari induk macan juga ia tahu bagaimana ia dulu di hutan ditemukan olehnya dan dibawa ke sarangnya. Sokawati bercerita bagaimana ia makan pisang sekaligus buah dan kulitnya meskipun sepat, seolah-olah buah itu adalah Sumantri, dan kulitnya adalah Sukrosono. Dengan memakan keduanya berarti ia menerima semua putranya. Ia berpesan agar Sukrosono pergi menemui ayah dan kakaknya. Sukrosono juga mesti ke Gunung Taranggana Sekar untuk menemukan sesuatu yang akan membantu kakaknya kelak. Setelah itu, Sokawati kembali ke alam penantian, dan Sukrosono pun merana. Namun, melihat ketulusan keluarga hutan menghiburnya, ia senang dan bersemangat memulai pengembaraan. Seisi hutan mengantar keberangkatannya dengan meriah dan bekal pelajaran hidup. Kerelaan mereka, kendati sedih, membesarkan hati Sukrosono meninggalkan Jatirasa.

Sukrosono berangkat ke arah matahari terbit sesuai pesan ibunya. Dengan kemampuannya berbahasa binatang, ia mendapat pelajaran demi pelajaran sepanjang perjalanan. Yang pertama adalah tentang perasaan khawatir. Seekor gagak mencontohkan bagaimana ia merasa sudah mencegah langit runtuh dengan upayanya menyangga langit. Padahal, tanpa usahanya ini pun langit tetap di tempatnya. Pelajaran kedua dari seekor cataka yang percaya mendung menyimpan hujan. Dengan itu ia tabah menjalani deritanya demi datangnya kekasih. Pelajaran berikutnya oleh seekor bangau yang memberinya petunjuk untuk dapat terbang meskipun tanpa sayap, hanya dengan kakinya. Untuk itu, ia mesti memahami bagaimana langit dapat terbenam ke dalam bumi.

Tema: harapan, ketabahan, penantian, pengorbanan, kekhawatiran, kemustahilan

Karakter: Sokawati, Swandagni, Sumantri, Sukrosono, induk macan, penghuni hutan Jatirasa, seekor gagak, seekor cataka, seekor bangau

Lokasi peristiwa: Kompleks pertapaan Jatisrana, hutan Jatirasa, rute pengembaraan Sukrosono

Kutipan terpilih:

“Tak ada yang bisa mengalahkan harapan. Harapan bahkan bisa mengalahkan kematian atau ketiadaan.” (Eps. 29)

Pantaskah seorang pendeta membiarkan diri dikuasai oleh nafsunya? Semuanya ini jadi pembelaan diri, yang membuat ia enggan untuk menyesal dan mengaku bersalah. (Eps. 30)

Kesedihan itu adalah daya luar biasa, yang memaksanya untuk menyesali diri dan mengakui kesalahannya. (Eps 30)

“Ternyata bukan aku yang manusia yang kelihatannya lemah lembut, tapi alam yang buas dan liar inilah yang telah mengajarkan dan memberikan cinta padamu.” (Eps. 31)

Alam mengajarinya, bagaimana ia harus memberikan diri, bukan hanya menerima dan memperoleh. (Eps. 33)

Kalau seluruh alam adalah hidupmu, siapakah yang akan sanggup mengalahkan kamu? (Eps. 33)

Serela alam melepas kepergiaannya, Sukrosono pun merasa harus serela itu dalam memberikan diri dan hidupnya. (Eps. 33)

Janganlah ia terjebak oleh kekhawatiran. Belum tentu ada yang harus dikhawatirkan. Jika ada, itu adalah buah dari kekhawatiran yang diciptakannya sendiri. (Eps. 34)

Kejernihan genangan air seperti menyedot cakrawala langit ke dalamnya, sehingga di sana terlihat burung-burung bangau itu bagaikan terbang di langit, padahal kakinya jelas-jelas menginjak tanah. (Eps. 35)

Amsal:

Langit terang, markata, zamrud kehijau-hijauan bergemerlapan turun dari awan-awan, menghujankan harapan. (Eps. 29)

Sayup-sayup terdengar suara burung cengkilung, keluar dari cengkerung malam. (Eps. 29)

Dewi Sokawati memetikinya, dan merasa, ia seperti memetiki kesedihannya lagi. (Eps. 30)

Wajahnya melayu, seperti bunga wungu, yang jatuh dari pucuk candi, karena terjauh dari sapaan sinar matahari. (Eps. 30)

Dari langit turunlah hujan bunga tujuh warna. Bunga-bunga itu kemudian menjadi tangga. Dewi Sokawati merambati tangga bunga itu. Dan Dewi Sokawati pergi untuk selamanya. (Eps. 30)

“Karena kulitnya adalah kau, Sukrosono. Sedang buahnya adalah kakakmu, Sumantri. Pantas, waktu itu aku mengunyah buah dan kulitnya dengan nikmat, walau aku merasa, kulit itu sepat dan pahit rasanya.” (Eps. 31)

Mereka tahu kesedihan bunga tarahudan, yang kendati kemanisannya tak dihinggapi kumbang-kumbang di musim hujan. (Eps. 32)

Langit berselendangkan arak-arakan awan kehitam-hitaman, dan kelam pun menyelimuti bumi sekitar tak lama kemudian. (Eps. 34)

Harapan ternyata bisa mengurai hujan, mendung pun ditembusnya dengan panah kerinduan, dan air pun deras melimpah di tengah kekeringan. (Eps. 35)

Glosari: markata (marakata), (burung) cangkilung, cengkerung, ceplok-ceplok, (bunga) tarahudan, gandasuli, parijata

Episode 29: Bagi Sokawati, anaknya yang ia buang, hidup atau mati, tetap mesti dinamai sebagai lambang harapan. Suaminya gagal paham pada cara berpikirnya, dan memberi nama hanya pada anak mereka yang tampan, Sumantri. Sedangkan Sokawati memberi nama Sukrosono pada anak yang lain. Sokawati mengasuh Sumantri sambil membayangkan yang disusuinya adalah Sukrosono, yakin bahwa Sukrosono hidup selama Sumantri hidup. Sokawati berpesan pada Sukrosono agar bertahan dalam penantiannya. Ia juga menceritakan pada Sumantri bagaimana ia mempertahankan kembarannya, dan dengan suara cengkilung bepesan agar Sumantri menyayangi adiknya, serta tidak malu beradikkan raksasa.

Episode 30: Ketenangan Sumantri saat disusuinya dianggap Sokawati sebagai penerimaan atas pesan yang ia sampaikan. Betapapun bulan dan awan seakan tak merestui. Setelah menyapih Sumantri, Sokawati kembali didera perasaan bersalah karena usai mengandung Sukrosono, ia tak mau memeliharanya. Suaminya yang tadinya menolak kesalahan itu, akhirnya terbawa oleh kesedihan istrinya, dan mengakui kesalahannya sendiri. Sokawati merasa kesalahan mereka baru akan terampuni jika Sukrosono bertemu Sumantri. Suaminya lagi-lagi gagal paham, lebih-lebih Sokawati bermaksud menjemput Sukrosono dengan kematiannya. Demikian tuturan Sokawati pada Sukrosono.

Episode 31: Sokawati bersyukur Sukrosono mampu bertahan hidup. Sukrosono bahagia mengetahui dirinya bernama dan berjumpa sang ibu. Ia memperkenalkan ibunya pada induk macan yang mengasuh dan menyusuinya di hutan. Setelah mengerti bahasa binatang, induk macan memberitahunya bagaimana ia ditemukannya di hutan lalu dibawa ke sarangnya untuk disusui bersama ketiga anak bayinya. Sukrosono pun menjadi bagian hutan. Sokawati bercerita bagaimana ia makan buah pisang sekulit-kulitnya saat mengidam. Rasa manis buah melambangkan Sumantri dan kulitnya yang sepat adalah Sukrosono. Dengan menelan semua, ia menerima keduanya dan menolak untuk membuang yang berwujud raksasa.

Episode 32: Sukrosono senang mengetahui punya kakak kandung. Ibunya berpesan agar ia pergi menemui kakaknya dan tak berpisah lagi. Namun, sebelumnya Sukrosono mesti berbuat baik sepanjang pengembaraannya mencari kakak dan ayahnya, dan setelah bertemu mereka, ia masih harus ke Gunung Taranggana Sekar. Di situlah ia akan menemukan sesuatu untuk membantu kakaknya kelak. Usai menyampaikan pesannya, Sokawati kembali ke langit ke alam penantian, dan ditangisi Sukrosono. Sukrosono yang berduka dihibur oleh seisi hutan. Ia berusaha menikmati penghiburan itu.

Episode 33: Setelah Sukrosono terhibur, justru seisi hutan ganti bersedih karena akan dia tinggalkan untuk menemukan keluarganya yang masih ada. Para binatang dan tumbuhan membekalinya dengan pelbagai ilmu mempertahankan hidup di alam. Sukrosono merasakan bagaimana mereka semua mengisinya dengan daya hidup tak habis-habis, dan berterima kasih. Dengan arak-arakan meriah mereka mengantarnya hingga ke tepi hutan. Merasakan kerelaan induk macan saat melepasnya, ia berangkat dengan cinta.  

Episode 34: Sukrosono berangkat menuju arah matahari terbit mengikuti pesan ibunya. Meninggalkan hutan Jatirasa bagaikan menyambut kebebasan dan melupakan kegelapan. Pelajaran pertama didapatnya dari seekor gagak tentang perasaan khawatir. Gagak mengira dirinya telah mencegah langit runtuh dengan daya upayanya. Padahal langit toh baik-baik saja kendati ia hentikan ikhtiarnya. Pelajaran kedua dari seekor cataka tentang harapan. Cataka itu rela menjalani kesedihan di balik mendung demi datangnya kekasih (hujan).

Episode 35: Sukrosono sadar, betapapun berat, ia bertahan hidup di hutan karena di dalam mendung tersimpan hujan. Harapanlah yang membuatnya kuat. Turunnya hujan kemudian menggugah perasaannya untuk bergembira melanjutkan perjalanan, hingga berjumpa sekawanan bangau terbang. Ia mengandaikan punya sayap agar bisa terbang. Seekor bangau mengajarinya terbang dengan kaki. Petunjuk pertama adalah bayangan bangau yang sedang bermain di tengah genangan air hujan. Saat mengepakkan sayapnya, dalam bayangan itu mereka bagaikan terbang kendati kakinya menginjak bumi. Bangau itu memberitahu, ia juga bisa terbang dengan kakinya, setelah memahami bagaimana langit terbenam di bumi.


Dian Vita Ellyati, penyuka sastra, tinggal di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s