Buku Lagi, Buku Lagi!

Joko Priyono

MULANYA, orang-orang tak akan terlepas dalam lingkaran pertemanan dan lingkungan secara keseluruhan dalam fase memahami seluk-beluk akan buku. Tak sedikit pula mereka menemui singgungan buku dengan motif asal. Asal beli buku dengan berbagai judul, penulis, dan penerbitnya sering terjadi. Ia tak akan memperkarakan apa yang terjadi di belakangnya itu. Alih-alih menimbulkan sebuah kecurigaan.

Kita sadar, tiap zaman, buku adalah perkara panjang dengan beragam dinamika dan gejolaknya. Buku-buku yang kemudian sampai pada ranah publik atau dalam hal ini pembaca tak sebatas kerja daur produksi-ditribusi-konsumsi. Melainkan dari itu, ada sebuah sistem kompleks melatarbelakanginya. Tiap orang dengan level kesadaran ihwal buku memiliki ingatan demi ingatan terhadap tokoh, penerbit, hingga tempat tertentu yang menjadi proses pergumulan terhadap buku.

Teringat tulisan Alfons Taryadi berjudul “Penerbitan Buku Indonesia Menghadapi Abad ke-21”dalam bunga rampai Buku dalam Indonesia Baru (1999). Sebuah situasi pernah terjadi. Misal, ia gambarkan dalam kalimat berikut: “Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia sampai kini telah menyebabkan produksi buku di Indonesia merosot tajam, dengan perkiraan tingkat penuruan sampai 40%. Menurut laporan PP. IKAPI dalam kongres XIV September 1998, sekitar 90% anggotanya berhenti produksi atau mengurangi prosuksi secara drastis. Hal ini disebabkan oleh kenaikan bahan-bahan baku.”

Derajat persebaran buku tentu saja berimplikasi pada pengetahuan yang berkembang. Itu memberikan arti, minimnya buku akan sangat memberikan kenyataan akan ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan. 

Hanya saja, mungkin ekspektasi hanyalah ekspektasi. Ada peristiwa bersejarah yang melibatkan kehadiran negara. Ingatan demi ingatan itu misalnya kita dapatkan dalam sebuah warta berjudul “Vonis Buat Penjual Buku Terlarang” di majalah Panji Masyarakat, 21 September – 1 Oktober 1989. Kita mendapat penjelasan: “Akhirnya, palu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta diketukkan dua hari berturut, Kamis dan Jum’at, 7 dan 8 Agustus lalu. Bambang Subono, mahasiswa Fisipol UGM, diganjar 7 tahun karena terbukti menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian serta ideologi terlarang melalui penjualan buku-buku Pramudya Ananta Toer dan diskusi. Sedang Bambang Isti Nugroho, ketua Kelompok Diskusi Studi Sosial Palagan Yogyakarta (KSSPY) dijatuhi pidana 8 tahun karena dianggap terbukti menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian serta ideologi terlarang melalui serangkaian diskusi yang dilakukan Palagan.”

Buku menjadi barang sensitif. Banyak orang mudah mencurigai akan kehadiran buku, utamanya terkait dengan persebaran ideologi, kritik, dan daya pengaruh di kalangan publik. Saking waswasnya itu lembaga-lembaga tertentu atas kepentingan negara memperlakukan dan menerapkan atas apa yang dinamakan sensor. Buku yang tak lulus sensor tak diizinkan terbit dan sampai pada tangan pembaca di ruang publik. Perlakuan tersebut agaknya menjadi sebuah dilema, di satu sisi buku mendorong atas apa yang dinamakan dengan perkembangan intelektual, di sisi lain justru sikap anti-intelektualitas yang muncul.

Di kasus lain, kita juga paham sederet kasus yang menjadikan buku menjadi penyebab dalam urusan pengadilan. Kita membaca sebuah warta di majalah Tempo edisi 16 November 1998. Dalam berita berjudul “Buku yang Dianggap Mencemarkan itu kita mendapatkan informasi akan digugatnya Bondan Winarno” sebesar Rp 1 triliun dan dituntutnya George Aditjondro oleh Probosutedjo. Masing-masing karena buku yang ditulis dan ada kelompok tertentu yang tidak menerimanya. Bondan Winarno dengan bukunya, Bre-X, Sebongkah Emas di Kaki Pelangi dan George Aditjondro dengan buku Dari Soeharto ke Habibie: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari.

Orang-orang memiliki kepedulian terhadap buku tidak kehabisan cara. Saat negara membentuk sebuah lembaga dengan tujuan penyensoran, menentukan layak dan tidak terbitnya sebuah buku, kesadaran itu muncul dengan terbentuknya jejaring penerbit independen. Di beberapa kota besar, mulai Yogyakarta, Bandung, hingga Malang agaknya dapat terlihat hingga sejauh ini. Buku-buku secara wacana pengetahuan tidak menjadi arus utama bagi penerbit-penerbit besar. Pada akhirnya harus diakomodir dengan membentuk jaringan kolektif. Kelompok mahasiswa mungkin perlu berterima kasih atas kehadirannya.

Orang-orang memiliki kepedulian terhadap buku tidak kehabisan cara. Saat negara membentuk sebuah lembaga dengan tujuan penyensoran, menentukan layak atau tidak terbitnya sebuah buku, kesadaran itu muncul dengan terbitnya jejaring penerbit independen.

Buku sampai saat ini harus diakui tak mengikat kesadaran berbagai pihak. Kampus dengan berbagai namanya acapkali abai terhadap itu. Kebanyakan dari mereka memilih pada zona nyaman, menghamba pada kekuasaan, dan tak mungkin mengritik sebuah sistem. Keberadaan penerbit-penerbit di kampu hanyalah sebuah formalitas. Tak ada daya untuk menghasilkan buku-buku dengan kualitas secara wacana pengetahuan dan mengikuti perkembangan zaman  

Buku kemudian menjadi barang mahal. Bukan secara harga, namun secara kehormatan dan martabat. Ia adalah cerita dan ingatan masa lalu akan masa-masa menakutkan dan sejatinya konyol. Orang-orang tak sudi menengok karena ketakutan demi ketakutan yang muncul. Mereka memilih cara lain dengan dalih mencari dan menemui kebahagiaan dalam menjalankan hidup. 


Joko Priyono, penulis bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta, tinggal di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s