Rujak

Anwar M

DALAM sebuah kelas, tersaji rujak dari berbagai daerah di Nusantara. Dari sepiring rujak, cita rasa menguar aneka rupa. Membincangkan makanan membuat perut terasa lapar. Beberapa kali menelan ludah karena membayangkan segar dan nikmatnya apa yang sedang dibincang. Obral malam itu memperkaya pengalaman dan pengetahuanku yang hanya sebatas rujak buah. 

Teman-teman dari Jawa dan Madura bercerita tentang aneka rupa jenis dan bahan baku. Mulai dari cingur, petis, dan macam-macam sayuran. Selintas membawaku pada gado-gado atau pecel. Hanya itu yang bisa kubayangkan karena belum pernah melihat wujud dari rujak yang mereka bincangkan. Aku hanya mengenali rujak sebagai buah yang diiris kemudian disiram kuah kacang gula merah. Ada sensasi kecut, manis, dan pedas. Kecut dan segar dari buah, manis gula merah, dan pedas cabe.

Makan rujak, awalnya sangat erat dengan tradisi kumpul bersama. Di kampungku, sejauh yang pernah kulihat dan alami, merujak lebih banyak dilakukan perempuan di bale-bale depan rumah atau di kolong rumah panggung. Rujak sering menjadi hidangan yang dinikmati sambil ngobrol atau bergosip. Sensasi segar membuat obrolan semakin menarik.

Rujak tidak ujug-ujug langsung hadir dan tersaji. Ada proses kerja dan bersama di dalamnya: mulai dari memetik buah, mengulek sambal, hingga menikmatinya. Proses sangat kaya, hangat, dan merekat. Hal tersebut sedikit berubah ketika aku pindah ke kota untuk kuliah. Kudapati penjual rujak menjajakan dagangannya bergerobak. Aneka buah bersatu dalam kotak kaca transparan yang tinggal pilih, tinggal beli. Semua bisa dilakukan sendiri, hampir tanpa usaha, ketika uang ada di kantong. 

Rujak tidak ujug-ujug langsung hadir dan tersaji. Ada proses kerja dan bersama di dalamnya: mulai dari memetik buah, mengulek sambal, hingga menikmatinya. Prosesnya sangat kaya, hangat, dan merekat.

Nikmatilah rujak dengan aneka buah! Tanpa harus bersusah-susah menikmati proses untuk mengolahnya, rujak bisa dinikmati sendiri, tanpa harus melibatkan orang lain. Dari kotak kaca buah, kudapati bengkoang, sesuatu yang kuingat pernah ditanam oleh tetanggaku yang tak kutahu untuk apa. Bengkoang kudapati dalam iklan pemutih dan lotion, ternyata bengkoang bisa dimakan. Persentuhanku dengan rujak di kota, menambah pengetahuanku bahwa rujak bisa menggunakan buah apa saja, termasuk apel, yang bagi kami masyarakat desa merupakan buah dengan strata tinggi, karena dulunya kerap jadi oleh-oleh dari kota.  

Aku menemukan rujak sebagai makanan khas Singapura dalam buku Resep Dapur Esensi. Di buku itu menyajikan aneka rupa sajian kuliner yang disebut khas Singapura. Kutemukan dua makanan yang tak asing: rujak dan bubur ayam. Di luar itu, makanan yang lain dari gambar dan nama yang kulihat, bernuansa Chinese, Melayu, dan India. 

Mungkin kita tak perlu membandingkan dari asal usul yang ada untuk mendapatkan klaim atas rujak. Toh, rujak bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja. Aku tidak merasa bahwa perang perlu dilangsungkan untuk mendapat klaim siapa yang berhak atas apa. 


Anwar M., lelaki suka menulis dan makan di mana saja dan kapan saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s