Bocah dan Sejarah

Bandung Mawardi

OKTOBER berlalu dengan hujan-hujan. Bulan itu sepi. Sekian peringatan hari bersejarah tercantum di kalender tapi Indonesia sepi-sepi saja. Pihak sekolah belum mau mengadakan acara-acara besar mengajak para murid sedikit mengingat atau mengerti tokoh dan peristiwa silam. Sejarah-sejarah selama Oktober kemarin masih ada tapi kurang cerita.

Bapak iseng-iseng menguji pengetahuan Abad (SMP) dan Sabda (MI). Mereka menjawab asal-asalan mengenai Hari Santri dan Sumpah Pemuda. Dua hari diperingati dengan tema buatan pemerintah tapi dua bocah itu menganggap belum penting. Mereka cuma mesam-mesem saja. Sekian tahun belajar di sekolah belum ada panggilan sejarah menjadikan mereka mengerti bab-bab tentang Indonesia. Di rumah urusan sejarah mudah tergantikan menonton film atau sinetron. Sejarah masih jauh. Sejarah belum diinginkan. Abad dan Sabda belum ada keinginan membuka buku-buku berselera sejarah sudah tersedia di rumah. Sabda mungkin sempat penasaran dengan buku-buku Benny-Mice agak mengingatkan Indonesia masa 1990-an. Di situ, ada sejarah 1998.

Hari demi hari, bapak kurang sungguh-sungguh berbagi omongan atau sejarah di rumah. Ia kewalahan menandai hari-hari bersejarah di Indonesia. Jumlah hari peringatan “berlebihan”. Semua-semua ingin ditetapkan sejarah, diperingati oleh pemerintah, komunitas, atau pihak-pihak berkepentingan. Indonesia mungkin negara paling “boros” dalam kemauan menjadikan hari-hari bersejarah. “Boros” menghasilkan tema dan pesan tapi “ngirit” dalam pengisahan. Bapak di rumah itu lelah memikirkan sejarah di Indonesia. Ia masih bingung untuk mengajak bocah-bocah berjalan di sejarah.

Pada masa 1950-an, pemerintah ingin bocah-bocah mengetahui sejarah. Para pengarang, pendidik, dan ahli diminta rajin dan cepat membuat buku-buku pelajaran sejarah. Puluhan penerbit mengadakan buku-buku tipis dan sederhana demi dipelajari murid-murid di sekolah. Sejarah tak boleh terlalu jauh. kepentingan mengajarkan sejarah setelah penciptaan sejarah besar pada 1945 disertai salah dan ragu. Murid-murid masa 1950-an diminta senang dulu mengetahui sejarah dan turut dalam sejarah terbentuk berbarengan saat Indonesia belum terlalu tegak.

Sejarah untuk bocah. Masalah itu tak mudah saat bibliografi sejarah masih bersumber dari buku-buku berbahasa Belanda dan sekian bahasa asing. Para penulis buku sejarah salah tingkah untuk menguatkan citarasa Indonesia. Kepustakaan sedikit seperti mengesankan sejarah di Indonesia belum meriah. Pembuatan buku pun memerlukan ilustrasi dan foto. Ongkos percetakan buku kadang menjadi mahal. Pencarian foto-foto terpenting dalam sejarah juga sulit. Pada masa 1950-an, sejarah terajarkan untuk bocah-bocah dalam keterbatasan dan keinginan harus “cepat”.

Pada 1956, terbit buku berjudul Saran-Saran Tentang Mengadjarkan Sedjarah susunan CP Hill. Buku diadakan oleh Perpustakaan Perguruan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Buku menjadi panduan bagi para guru dan pihak-pihak ingin mengajak bocah-bocah mengerti sejarah. Ikhtiar ingin menimbulkan senang, bukan meriang.

Hill memberi saran: “Masa lalu jang mudah diterima anak-anak mungkin masa lalu jang paling primitif dan paling djauh – masa-masa prasedjarah. Hampir semua anak menundjukkan perhatian jang spontan terhadap penghidupan manusia-manusia pertama, sebab mereka tjepat dapat menerima dengan chjalnja pengertian jang terang tentang bagaimanakah hidup.” Saran itu agak terbenarkan bila bocah-bocah sekarang membuka buku mengenai manusia primitif atau menonton film-film dari masa terlalu jauh. Mereka tergoda berimajinasi dan mengajukan seribu penasaran.

Saran-saran belum berkaitan dengan sejarah di Indonesia. Bocah-bocah di Indonesia selama di sekolah sering mendapat pengumuman untuk peringatan hari-hari bersejarah. Setiap tahun itu berulang dan jarang mengesankan. Peringatan sejarah mungkin dipahami adalah lomba atau upacara bendera saja. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s