Kota Tanpa Pohon

Setyaningsih

DI bawah matahari yang menyengat, bayangan dari pohon untuk meneduhi diri adalah kelegaan. Di waktu sering singkat itulah, kota selalu menyadari bahwa mereka membutuhkan pohon meski yang dibangun justru jalan layang atau trotoar. Kota yang membangun cenderung akan menebang apa pun yang tumbuh (alami).

Sisipan “Gazetta” di majalah Kawanku, 22-28 Oktober 1982, mengangkat masalah lingkungan hidup dan pembangunan. Melalui 14 alinea, pembaca anak dibawa menghadapi kenyataan pembangunan yang sering dibangun di atas bekas lahan hidup bagi pohon-pohon. Laporan ditulis Cahya Sadar ini jelas serius! Anak-anak mungkin tidak bisa menikmati membaca tulisan ini sembari ngemil Chiki atau minum es Moni

Pohon yang bagi mereka memediasi banyak permainan, keusilan, dan keasyikan, masuk dalam silang sengkarut pembangunan (kota). Cerap: “Wajah Jakarta sekarang ini memang sudah lain bila dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Perkembangan pembangunan yang pesat, jalan-jalan yang lebar dan rindangnya pepohonan di hampir setiap jalan raya. Banyaknya pertamanan kota dan pohon-pohon itu selain membuat sejuk juga bisa menyaring udara kotor menjadi bersih. Tetapi bagaimana dengan penebangan pohon-pohon sepanjang jalan Cawang-Grogol?”

Sepuluh tahun lalu, tampaknya Indonesia sudah membangun, tapi belum gencar-gencar amat. Pada masa 1980-an, pembangunan semakin ingin menggusur hal-hal di luar manusia. Orang-orang mulai berpindah ke kota meski sebagian besar penduduk hidup di desa-desa. Jakarta ibarat kiblat yang didandani demi melihat dan menilai Indonesia. Kemungkinan tidak hanya pohon-pohon di beberapa titik jalan raya, nama-nama tempat (kampung) di Jakarta yang memang mengandung unsur pepohonan pun perlu direboisasi. 

Menjaga kehijauan penting, jalan layang juga penting. Arief Ardja Mugiarto BAP, Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertamanan DKI Jakarta pun mengaku sedih dan menangis dalam hati. Namun, ia ternyata cukup santuy di zamannya dengan mengatakan bahwa penebangan pohon di Grogol “bukanlah merupakan suatu krisis pelestarian alam yang terbilang mengkhawatirkan, apalagi jika dibandingkan dengan jumlah pepohonan di Jakarta ini yang cukup banyak, yakni sekitar 750.000 pohon.” Oh, warga pohon masih aman. Yok, optimis Indonesia tidak krisis oksigen yok!

Pemerhati masalah lingkungan sekaligus Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup era Soeharto, Emil Salim (1986), pernah melontarkan pernyataan: “… dapatkah fungsi lingkungan alam diambil alih oleh lingkungan buatan manusia. Jika hutan berfungsi memberi kebersihan udara bagi manusia maka pembangunan lingkungan buatan manusia harus tetap mengusahakan agar fungsi hutan yang diubah ini bisa dilaksanakan oleh pohon-pohon yang sengaja ditumbuhkan di pinggir jalan atau taman-taman tengah kota.” Perancangan tata ruang kota tanpa mengabaikan lingkungan hidup berarti usaha mengubah alam tanpa kerusakan.

Namun, adakah pembangunan tanpa konsekuensi yang sering mengarah pada perubahan dan kerusakan? Jargon “kota ramah anak”, “smart city”, “kota hijau”, atau “kota pintar” biasanya terutama ingin mengarah pada kelanggengan manusia, belum nasib para pohon yang dianggap mengganggu dan bahkan mengancam nyawa. Janji ekologis selalu kalah dari janji sekolah gratis, akses kesehatan yang mudah, pemberantasan korupsi, perumahan, dan lain-lain. 

Lantas, orang-orang bisa melakukan tindakan konyol seperti dalam puisi “Di Café” (2017) garapan Avianti Armand: Di mejaku secangkir teh tersedu./ Teh itu sepanas matahari./ Aku mengenakan kacamata hitam untuk menahannya./ Seandainya di luar ada sebatang pohon peneduh,/ tentu aku bisa pulang. Di sebuah kafe yang pasti ber-AC dan antisumuk, aku masih saja membutuhkan kacamata. Ia mengangankan pohon di tengah ruang modern yang memanipulasi bentuk-bentuk keteduhan. Harganya terlalu mahal: secangkir minuman, parkir, pajak tempat, gengsi, dan halusinasi alam.

Ah, masalah ini jadi terlampau serius kan jadinya. Mari, menek wit jambu saja!


Setyaningsih, kritikus sastra, tinggal di Boyolali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s