Yang Sakit Bergelar Raja

Lyly Fresty

Demi mengamalkan slogan don’t judge a book by its cover, buku ini terbeli beberapa bulan lalu. Dibaca sampai khatam oleh bocah tujuh tahun di rumah. Tergoda terutama karena judul pada sampul yang mengundang sekali: Siapa Mau Jadi Raja. Penulisan judul tanpa tanda tanya sudah seolah menanyai langsung calon pembacanya. 

Buku bekas seharga sepuluh ribu rupiah saja, sikap nothing to lose mudah saja menguasai diri. Kalau-kalau buku nanti berakhir sebagai sampah, tidak bermutu dan tidak pantas mendapat tempat duduk terhormat dalam rak buku, aku mbatin: “Ah, biarlah, nothing to lose.”. Terlepas bukunya bakal berharga atau tidak, pengalaman membacanya sendiri akan selalu berharga.

Tak bisa dahulu membaca keseluruhan isi, gambar sampul termasuk yang menggoda untuk menguatkan pikiran membeli dengan tanpa beban dan pikir-pikir panjang. Menatap gambar sampulnya bisa dipastikan buku ini ditulis tentang anak-anak dan untuk anak-anak. Gairah terhadap bacaan anak lokal terkhusus yang lama-lama selalu menggebu mengingat bacaan anak terkini sering mengecewakan. Pada sampul tergambar beberapa karakter imut berperawakan buntat, bermata jenaka, bersenyum jahil, berkaki dua dengan gerak tubuh layaknya manusia. Manusia berbentuk bola-bola mini. Mudah mengenali satu di antaranya sebagai raja dengan hiasan mahkota di kepala. 

Namun, siapakah lainnya? Jika menilik judulnya, apakah karakter raja itu sedang mencari raja pengganti yang pantas? Demikian terpikir. Sepertinya buku akan bercerita berkisar raja dalam imajinasi kanak-kanak. Siapa mau jadi raja? Betul, anak-anaklah yang selalu antusias ingin menjadi raja maupun pangeran jika laki-laki atau ratu maupun putri jika perempuan. Gambar sampul yang menarik.

Menekuri sinopsis biasanya sedikit membantu juga membayangkan intisari ide yang menyimpul keseluruhan cerita. Sinopsis berperan bagaikan lubang ajaib tempat boleh mengintip isi buku. Jika menarik bisa membawa khayalan kita menembus buku tersegel atau buku yang tak boleh dibaca isinya sebelum terbeli. Sayangnya, buku ini tidak bersinopsis, kecuali penjelasan singkat tentang harapan hadirnya buku: “Saya ingin mengajak anak-anak kita untuk tetap mampu tertawa dalam saat senang maupun ketika sakit. Itu terbaca tentang cerita anak-anaknya berjudul Siapa Mau Jadi Raja ini yang digubah Hamid Jabbar, diterbitkan Balai Pustaka, cetakan keenam pada 2007. Penulis melanjutkan: “Buku ini revisi dari buku cerita anak-anaknya berjudul Raja Berak Menangis yang pernah terbit di Padang tahun 1978.” Kita bisa menduga buku bermaksud sebagai penghiburan bagi anak-anak, terutama bila sedang sakit.

Kaget sedikit dengan penjelasan kalau buku ini merupakan revisi dari buku berjudul berbeda. Judul lamanya secara lugas memilih diksi “berak. Padahal pandangan awam menganggap itu sebagai kotoran, sesuatu yang menjijikkan, tidak patut diumbar. Mengherankan diksi itu malah tersorot sebagai judul. Satu hal, penulisnya berusaha ingin tampil terang-terangan kalau buku ada menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan limbah biologis manusia itu. Karena tersebut ada hubungannya dengan sakit, maka terbayanglah cerita tentang sakit perut berujung “berak” tadi. Andai buku ini masih mempertahankan judul aslinya, saya akan secara tidak adil langsung menghakiminya sebagai buku tak layak beli lalu tak layak baca. Sudahlah berdiksi jorok, lantas apa mutu mau diharap dari ceritanya?

Namun, niat tidak menghakimi dan alasan terpikat ilustrasi sudah kadung maju duluan daripada perkara diksi jorok pada judul lama. Ada memori saya juga yang mengingatkan soal bersikap netral saja pada sesuatu yang terlanjur dianggap bagian jorok dari seorang manusia ini. Zaman sekolah menengah dulu, pernah teman sekelas jadi sasaran lemparan asbak kaca oleh guru biologi kami. Gara-garanya, dia kelepasan kentut saat guru itu sedang asyik-asyiknya menjelaskan pelajaran dari belakang mejanya. Aku juga langsung saja menyebut kentut saja supaya lugas seperti pilihan kata buku ini. Rupanya, kentut bau membahana itu membuat guru kami tersinggung berat. Untung tak ada manusia sungguhan terkena lemparannya, asbak pun herannya tak pecah sama sekali. Kenyataan yang lucu sebetulnya. Tapi siapa berani tertawa jika guru sedang bertensi tinggi dengan mata melotot yang makin mencolot karena kecewa asbak tak bertemu sasaran yang tepat bahkan tak gempil sedikitpun? 

Semua menahan diri dalam ketegangan sampai guru kami mengemasi barangnya dan keluar kelas. Pecahlah tawa semua orang seketika. Singkat cerita, guru biologi mengadu pada wali kelas kami yang mengatakan guru itu mau mogok mengajar di kelas kami. Menurut penceritaan wali kelas, dia sempat menanggapi kemarahan guru itu dengan guyonan: “Bu, Ibu kan guru biologi? Kentut itu sesuatu yang biologis, kan? Tandanya seseorang sehat, kan? Kentut apa iya bisa ditahan-tahan supaya keluar dengan sopan di tempat khusus yang benar? Anaknya paling nggak sengaja kelepasan.” Akhir cerita, guru biologi itu absen mengajar di kelas kami selama beberapa minggu karena masih terbawa perasaan terhinakan dengan suara kentut ditengah dia bercuap-cuap pelajaran panjang lebar di hadapan siswa tempo hari. Menyandang status sebagai guru yang paham biologi ternyata tak serta merta menggeser pandangan miringnya terhadap “kentut”. 

Pengalaman ini sedikitnya menetralkan pandangan saya terhadap hadirnya diksi “berak”. Walau batin saya tetap berkata lega: “Ah, untung sekarang judulnya Siapa Mau Jadi Raja bukan Raja Berak Menangis.” Dalam bayangan saya, judul lama bisa-bisa menjadikan buku ini langsung masuk dalam kategori tak dilirik oleh khalayak karena judulnya saja sudah “jorok”.

Demikian terjadi pengabaian pada diksi “berak” saat membeli. Sebab, kata “berak” akan bercerita tentang sakit perut. Seperti pengantar penulis pada pembuka buku: “Anak-anak, ini cerita untukmu. Cerita tentang seorang kawanmu Zulbadri, begitu nama kawanmu itu, tidak bercita-cita ingin menjadi Raja. Tetapi karena kerakusannya makan buah-buahan, ia pun sempat menjadi ‘Raja’ yang diserang sakit perut dan mimpi macam-macam. Pengalamannya lucu. Ia mengajak kamu tertawa, menangis dan juga berkelahi bersama angan-angannya selama sakit, kamu juga akan punya pengalaman macam-macam, seperti Zulbadri.”

Buku berkisah pengalaman seorang anak terkena mencret parah berujung muntah berak. Dari awal hingga akhir akan ada anak yang berceloteh seperti apa rasanya menjadi raja, tepatnya Raja Buang Air Besar. Jika berekspektasi buku ini padat informasi dan edukasi seputar sakit perut dan nasihat penanganannya, sebaiknya tidak usah membaca. Bukunya mengandung hal tersebut. Fokusnya bukan itu, melainkan cerita kehidupan saat seorang anak mengalami hari-hari tak enak menanggung sakit perut, dari awal mula sakit hingga sembuh dari sakitnya.

Jika berekspektasi buku ini padat informasi dan edukasi seputar sakit perut dan nasihat penanganannya, sebaiknya tidak usah membacanya. Bukunya mengandung hal tersebut. Fokusnya bukan itu, melainkan cerita kehidupan saat seorang anak mengalami hari-hari tak enak menanggung sakit perut, dari awal mula sakit hingga sembuh dari sakitnya.

Bisakah terbayang seperti apa rasanya sakit luar biasa, tapi masih dianggap sakit kecil tak apa-apa sampai badan lemas baru orang percaya? Bagaimana rasanya diajak berobat ke dukun dan dipaksa meminum ramuan aneh sebagai obat? Pernahkah merasa takut ke dokter karena terbayang sakitnya bakal ditusuk jarum suntik, harus minum obat dan makan bubur encer yang tak enak sama sekali, bosan luar biasa sehingga pikiran ke mana-mana? Apa pernah mengalami sakit tak tertahankan sampai berhalusinasi dan mengigau tanpa alur? 

Jika kamu orangtua, pernahkah mendapati anak-anak mengalami seperti itu? Terangkum dalam buku ini cerita semua itu yang mengingatkan kita pada pengalaman serupa. Kisah buku ini banyak mengungkap sisi psikologis seorang anak yang sedang sakit payah sampai terbaring di rumah sakit hingga akhirnya bersemangat untuk lekas sembuh. Sebaiknya pula jangan berharap cerita yang menyentuh dan penuh haru, sebab gaya berceritanya justru teramat lucu sampai-sampai membuat turut sakit perut juga. Sakit perut yang tidak sakit dan tidak sampai membuat kita jadi raja buang air besar seperti sakit muntah berak yang dialami anak dalam buku ini.

Buku terdiri dari lima bab singkat dalam 58 halaman ini penuh ocehan anak saja. Bagian awal cerita langsung berupa pengakuan tokoh utama: “Saya bukan raja. Bukan pula anak raja. Saya hanya orang biasa saja. Saya bukanlah orang dewasa. Saya masih anak kecil. Umur saya tujuh tahun… Nama saya Zulbadri. Saya sering dipanggil dengan nama ‘Ijun’. Kalau besok kita bertemu panggillah saya ‘Ijun’. Walaupun saya bukanlah raja. Bukan pula anak raja. Saya hanyalah seorang anak kampung.” Si Ijun, tokoh utama buku ini, sudah mantap menyatakan tak ingin jadi raja. Lalu, cerita pun mengalir mundur ke belakang sebagai penjelasan pengakuan itu.

Boros menggunakan kata “saya”, cerita mengalir lancar dari sudut pandang orang pertama, tokoh anak bernama Ijun. Keberadaan kata “saya” hampir pada tiap kalimat semula agak mengganggu, namun lama-lama, membacanya jadi seperti sedang mendengarkan seorang anak bercerita langsung tentang diri dan pengalamannya. Hal ini diperkuat dengan narasi bertutur spontan dan lompat-lompat layaknya anak-anak yang kalau omong memang jatuhnya terbawa ngalor-ngidul. Baru saja memperkenalkan diri, keluarga, rumah, ia lalu sudah sampai mendeskripsi lingkungan alam sekitar kampung, kota, dan provinsi tempat tinggalnya, berikut hal-hal lain yang tidak terlalu berhubungan dengan inti cerita, sampai tiba-tiba dia mengundang pembaca datang berkunjung ke kampungnya yang indah terutama ketika musim buah-buahan tiba. Pada titik bercerita tentang musim buah-buahan inilah kisah sesungguhnya mulai. Saat dia mengajak pembaca menikmati musim buah sekaligus mewanti-wanti supaya hati-hati dengan buah-buahan kalau tak mau punya pengalaman yang membuat menangis seperti yang pernah ia alami.

Uraian kisah Ijun berlangsung seturut curahan hati perihal sakit perutnya sehabis melahap rakus buah durian, rambutan, manggis sekaligus dalam jumlah yang sangat banyak saban hari saat musim buah-buahan. Pengakuan kerakusan Ijun terwakili oleh satu halaman penuh berilustrasi besar dengan goresan pensil hitam putih yang ekspresif bertajuk: “Saya adalah seorang yang rakus.”

Diceritakan, perutnya kenyang puas sampai tak perlu makan nasi seharian. Hingga suatu sore, perutnya buncit terasa melilit. Dengan perut terpilin-pilin, sakitnya sampai membuat menangis. Ia bayangkan durian, rambutan, manggis sedang berkelahi di dalam perutnya. Perut ia andaikan sedang perang di medan pertempuran yang tak terelakkan dan membuat air mata jatuh berguguran. Ia menyampaikan kekesalannya pada Ibunya yang alih-alih memberi perhatian malah mengomeli Ijun habis-habisan. “Rasakanlah, rakus makan buah-buahan,” cibir ibu Ijun. 

Sialnya, kata Ijun, tak puas mendongkol dan menyalahkan Ijun yang serakah makan buah, ibunya tambah melayangkan cubitan-cubitan kecil yang bikin ia makin meringis kesakitan. Perut sudah mulas masih kena hamburan kecerewetan Ibu pastinya membuat sakit bertambah-tambah. Ijun bercerita sakit perutnya sungguh tak tertahankan sampai ia bolak-balik harus buang air besar. Mencretnya selama berhari-hari hingga berceceran di celana dan membuat hilang nafsu makan juga badan lemas. Saat itu, ia hanya bisa mengeluh, merengek, menangis. Hatinya bertambah sedih, kesal, dan malu tatkala saudara laki-lakinya yang sudah besar-besar berusia jauh di atasnya itu malah mengolok-olok sakitnya ditambah memberi julukan baru penuh ledekan, raja macam-macam sampai “Raja Buang Air Besar”.

Abang-abang saya masih menertawakan saya. Mereka masih melucu.

“Raja durian namanya Ijun,” kata Bang Mahmud.

“Raja Rambutan namanya Zulbadri,” kata Bang Epi.

“Raja Manggis menangis,” kata Bang Mahmud lagi.

“Bukan, bukan…,” sela Bang Epi.

“Raja apalagi ya…?” tanya Bang Mahmud.

“Raja Rakus menangis!” teriak Bang Rpi.

Saya terdiam sambil mengusap perut saya.

“Hidup Raja Buang Air Besar!” teriak Bang Mahmud.

Membacanya terhubung kembali dengan ilustrasi lucu pada sampul buku yang menggambarkan ungkapan perasaan Ijun yang paling jujur. Lewat cerita, terbaca kekesalan Ijun yang sampai ke ubun-ubun, bercampur malu dan dendam membalas ujaran abang-abangnya, tapi apa daya badan lemah semuanya tak tersampaikan. Namun, Ijun dapat berkeluh kesah pada pembaca yang tentu tak bisa membalas langsung kata-katanya seperti abang-abangnya itu. Ijun lega bisa berbicara pikiran dan perasaannya pada pembaca. 

Dalam sakit dan badan yang semakin lemas, akal Ijun seolah melayang-layang dengan pikiran yang meracau. Ocehannya pun dituturkan makin ngalor-ngidul ke mana-mana. Ia membayangkan petir, hujan, diri yang mengejar ikan warna-warni sendirian. Setiap akan tertangkap, ikannya lari, begitu terus. Sampai akhirnya ikan tertangkap tapi tiba-tiba mengeluarkan duri yang mirip duri-durian dan durinya membuat tangan sakit, luka-luka dan berdarah-darah, dan seterusnya tak berkesudahan. Tidur dengan mimpi buruk yang kian panjang kian menakutkan sering datang bersama halusinasi pikiran di saat sakit seiring melemahnya badan. Ijun mengalami itu. Tergambar apik dalam selembar ilustrasi cerita saat Ijun terbaring tak berdaya di tempat tidur memimpikan rambutan-rambutan mengurungnya sampai ia merasa tercekik.

Omongan angan-angan Ijun sangat gamblang dan jujur. Bukankah memang sakit kerap membuat tubuh dan pikiran terparalelkan antara sadar dan tidak sadar? Menjadi terbelah seolah bukan lagi sebagai suatu kesatuan utuh. Tubuh yang lemah tak ayal payah mengendalikan pikiran sadar. Alam bawah sadar acap mengambil peran. 

Kita yang membaca boleh berkaca pada pengalaman sakit Ijun, saat alam bawah sadarnya sedang merekam kesakitan hingga kesakitan itu pun terbawa sebagai mimpi. Sampai mimpi ikut terasa sakitnya. Anak-anak apalagi, yang sering terbatas mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan kata-kata terlebih jika tak terbiasa. Sakit menjadi medium menuntut perhatian dan peluruh emosi yang tertahan. Aku sendiri jadi terkenang anakku dulu pernah juga sakit sampai mengigau. Ia meracau menyalahkan gelap sebagai selimut yang hendak membekapnya. Dia meronta-ronta dalam tidur menunjuk-nunjuk pada gelap yang katanya menatapnya tak berkedip. Dengan tubuh yang lemah, kakinya berusaha menendang-nendang selimut jauh-jauh. Setelah dibiarkan tidur dengan penerangan dan tanpa selimut, pikiran bawah sadarnya pun jadi tenang.

Ijun pun demikian, halusinasinya mengelana tersampaikan lewat pelbagai macam igauan. Mulai dari obat minum dukun yang kehitam-hitaman mirip beraknya yang berlendir-lendir, kepalanya yang melayang-layang serupa layangan di awang-awang saat kehilangan kesadaran, melihat rumah-rumah kecil sebagai korek api dan gunung-gunung tampak mirip kue serabi, teringat pula pada ibunya dan keinginan bertamasya, pada kue serabi dari ibu, lalu ia sebentar-sebentar terbangun mendapati ibu yang sedang berjaga di sampingnya dan siap-siap memintanya meminum ramuan dari dukun. Ijun jelas menolak. Wajah dan tindak tanduk dukun itu saja seperti hantu dalam penggambaran Ijun, obatnya apalagi. 

Menurut pengakuan Ijun, sebetulnya ia tak tega pada ibu yang bersikeras berusaha meminumkan obat padanya. Sekarang ibunya semakin sedih mendapati Ijun tak mau sedikit pun minum obat dan kenyataan kalau badannya semakin lemah dengan buang air besar yang menerus serta keadaan yang muntah-muntah bila diberi makan. Jika kita Ibu, pasti pernah mengalami keadaan serupa ibu Ijun baik saat anak mengalami sakit yang sama dengan Ijun maupun sakit lainnya, kan? Seperti ibu Ijun yang bingung apakah anaknya harus dibawa ke dokter sekarang juga atau masih bisa ditangguhkan dirawat di rumah. 

Diceritakan Ijun, untung ada sosok yang mengurai kebingungan ibu Ijun. Hadirlah sosok Mak Etek Ijun mewakili pihak yang sudah percaya pada bantuan dokter. Sarannya segera membawa Ijun ke rumah sakit sebelum telanjur semakin payah. Ijun sendiri segan pada Mak Eteknya yang sering menyemangatinya supaya lekas sekolah. Ijun pun menyerap keputusan harus ke rumah sakit dengan bujukan dan nasihat lemah lembut dari Mak Etek, padahal ia sendiri takur takut bertemu dokter.

Bagi pembaca dewasa, gaya bercerita buku ini yang diwakili oleh tokoh anak bernama Ijun akan terkesan lebay hendak melebih-lebihkan supaya terasa dramatis. Tapi, bukankah anak-anak memang demikian? Terlebih jika orang tua tak lekas merespon pemikiran dan perasaannya, sering terjadi mereka semakin cari dan curi perhatian lewat drama ala anak-anak. Persis anak-anak yang kerap bercerita dengan bumbu khayalan dan kisah tambahan. Aku sendiri lumayan terhibur karenanya. Membaca kisah sakitnya Ijun seolah sedang mendengar curhatan dan rengekan anak kecil pada umumnya. Teringat anak-anak yang sehabis jatuh ada luka dan sakit sedikit, bagi mereka itu justru perkara luar biasa besarnya. Apalagi, jika orang tua tak langsung mengakui perasaan sakitnya, perasaan terabaikan justru membuat anak semakin mengada-ada dengan perasaan dan pikirannya. 

Ijun adalah anak-anak yang pikirannya penuh mencari jalan pengungkapan. Terlebih saat sakit semua pikiran dan perasaan tertekan seolah membutuhkan penyaluran. Terdengarlah Ijun mencoba meraba pemahaman akan kondisinya saat di rumah sakit, tentang slang, botol infus, dan jarum suntik, tentang keheranannya pada dokter yang selalu tersenyum dan perawat yang berbaju putih-putih, tentang pembaca yang mungkin kesal atau malah turut menertawainya, tentang nasihat dari ibu dan saudara-saudara tuanya supaya begini dan begitu, juga jangan ini dan itu, tentang kenakalannya yang lalu-lalu, tentang Tuhan, tentang merasai rejeki sehat setelah mengalami sakit, tentang keinginannya untuk sehat menjadi Raja Sehat Kuat alih-alih Raja Buang Air Besar dan Raja Berak Menangis, tentang keputusannya supaya menjadi Dokter Zulbadri saja seperti tertulis di tembok rumahnya pada suatu ketika daripada menjadi raja, dan lain sebagainya. Ijun adalah anak-anak kita dengan sejuta kata-kata dan khayalan yang ingin tersampaikan.

Adakalanya Ijun menceritakan ulang petuah-petuah moralis dari orang tua dan pesan-pesan dari Ilahi dalam omongannya. Terkesan klise, tapi untunglah Ijun yang menyampaikannya dengan spontan, seolah tak disengaja pula. Sehingga, kesan menggurui agak pupus dari nada bicara Ijun ini. Ijun mewakili sosok anak yang sebisa-bisanya ingin berusaha menyerap segala perkataan moral dari orang tua dan Tuhan. Kita bukannya suka teringat tentang hal-hal baik dan Tuhan saat sakit? Aku malah tersindir dengan kenyataan ini.

Oh, saat mengikuti cerita Ijun jadi diingatkan untuk penuh perhatian tanpa harus bereaksi berlebihan dengan yang namanya sikap kanak-kanak. Anakku sendiri yang turut menyelami kisah Ijun yang sempat didapuk sesaat sebagai “Raja Buang Air Besar” ketika sakit mencret akibat kebanyakan makan buah ini langsung turut larut dalam rupa-rupa ocehan dan emosi Ijun. Rasa kasihan berbaur rasa lucu jadi satu saat menyimak omong-omong Ijun yang dramatis bercampur ngalor-ngidul. Hal ini turut membawa serta emosi dan pikiran mereka mengembara ke mana-mana bersama pengalaman Ijun.

Tetap bisa bisa tertawa kala sakit, memang satu hal yang ingin disampaikan oleh kisah buku ini. Terutama bagi anak-anak yang kerap berlebihan menanggapi sakitnya, mereka boleh bercermin pada kisah Ijun yang beroleh semangat sembuh ketika mendapati dokter yang selalu tersenyum menghadapi orang-orang sakit. Jika dokter saja tersenyum supaya anak-anak lekas sembuh, ia juga mau mencoba tersenyum untuk tujuan itu. Orangtua yang tidak ikut-ikut terbawa emosi saat anak mengeluh sakit akan dapat membantu anak mengatasi perasaan tidak nyamannya saat mengalami sakit payah.


Lyly Freshty, Penulis tinggal di Surabaya 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s