Keluarga dan Waktu

Fairly Freshty

Aku sedih .. duduk sendiri .. 

Mama pergi .. Papa pergi … 

Lirik lagu anak-anak berjudul Aku Sedih gubahan Joan Tanamal ini terdengar sangat nelangsa. Apalagi ketika yang menyanyikannya adalah anak kecil. Heran sekali, adik-adikku kok menyukainya. Bahkan, tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Sisa liriknya bahkan lebih menyedihkan: si mama dan papa pulang juga akhirnya membawakan anaknya itu mainan boneka baru. Si anak senang akan ditemani si boneka baru sehingga tidak kesepian lagi. Adik-adikku semakin terbahak mendengar kesimpulan akhir ini. Malah adikku yang pertama sempat komentar: “Kok aneh banget dia sendirian di rumah temennya cuma boneka!” Lantas, aku menertawakan kebodohannya karena tak tahu bahwa inilah kenyataan yang dihadapi oleh anak-anak zaman sekarang. 

 Beberapa hari kemudian, adikku yang pertama ini pulang ke rumah sehabis dari tempat kawannya dengan cerita kalau si kawan itu mainannya banyak pol, sampai-sampai serasa penuh ruang duduknya. Hampir semuanya merupakan mainan keluaran terbaru, modern, dan bagus. Yang paling mengherankan adikku, kebanyakan mainan itu adalah mainan-mainan berbaterai yang mahal dan hanya bisa kami kagumi di rak pajangan toko mainan. 

Namun, dia bercerita apabila teman-temannya ini, meski mainannya banyak dan bagus-bagus, orangtuanya nyaris tak pernah berhubungan dengan mereka. Orangtuanya memang berangkat kerja naik motor pagi-pagi sekali, dan pulangnya pun malam-malam. Anak-anak kawan adikku itu berarti sendirian di rumah hampir seharian hanya “ditemani” oleh mainan-mainan dan gawai. Yang meskipun canggih, bukan jiwa yang utuh dan hidup. Anak-anak yang malang!

Kembali lagi ke lagu Aku Sedih dari Tanamal yang tadi. Mari dengarkan bait terakhirnya: Terima kasih … Mama dan Papa … Kini kupunya, teman boneka. Anak ditinggal di rumah seharian, tapi diberi ragam benda mati yang bagus dan (anggapannya) menyenangkan dan menghibur sembari menunggu si orangtua pulang.

Isu ini sudah diulik-ulik oleh Michael Ende, seorang penulis Jerman, dalam bukunya yang keren: Momo

“Kamu belum puas juga?” si antagonis, seorang Tuan Kelabu, berseru pada karakter utama dan pahlawan buku ini, Momo si gadis kecil. 

“Kalian anak-anak zaman sekarang memang banyak menuntut! Coba katakan pada saya, apa yang masih kurang dari boneka ini?” 

“Sepertinya, boneka ini tidak bisa disayangi.” jawab Momo. 

“Itu tidak penting,” kata si Tuan Kelabu. 

“Tapi aku sayang teman-temanku,” kata Momo. 

Berani sekali melawan si Tuan Kelabu. Padahal, dia adalah antagonis yang sangat mengerikan. Para komplotan Tuan Kelabu mengambil waktu para manusia di dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Setiap orang dipaksa untuk bekerja, bergerak, dan intinya melakukan segala hal dengan cepat. Secepat-cepatnya supaya tak ada waktu yang dibuang untuk hal-hal yang tidak berguna. Bersantai, bermain-main, istirahat, dan rileks sejenak merupakan hal-hal yang nomor satu diberantas oleh para Tuan Kelabu. 

Para komplotan Tuan Kelabu mengambil waktu para manusia di dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Setiap orang dipaksa untuk bergerak, dan intinya melakukan segala hal dengan cepat. Secepat-cepatnya supaya tak ada waktu yang dibuang untuk hal-hal yang tak berguna.

Nah, para orangtua dan orang dewasa lainnyalah yang paling termakan kata-kata dan kampanye konyol para Tuan Kelabu. Sehingga, mau tak mau, karena waktu semakin sempit mereka bekerja lebih cepat dan sering. Anak-anak mereka menjadi telantar. Dan kelak, para anak-anak yang telantar ini diambil alih oleh para Tuan Kelabu ini sendiri, diubah menjadi anak-anak yang tak pernah dibiarkan bersantai dan bermain-main. Mereka, berbeda dengan Momo yang keras kepala dan pemberani, tak bisa menolak. Apalagi karena memang orangtua mereka sudah tak pernah menemani mereka lagi di rumah.

Orang-orang gampang saja menertawakan dan menganggap novel dan lagu itu khayalan belaka. Wajar saja. Momo pertama kali diterbitkan tahun 1973. Lagu berjudul Aku Sedih pertama didendangkan dalam album lagu anak-anak Si Kodok & Goyang-Goyang yang rilis tahun 1977. Pada zaman itu mungkin para orangtua belum sibuk-sibuk amat. 

Konon, pada tahun 1970an, para ibu sangat sedikit yang berani bekerja kantoran atau bekerja ke tempat-tempat lain selain di rumahnya sendiri atau sekadar membantu di kediaman tetangga-tetangga. Dengan demikian, anak-anak kecil pulang dari sekolah setidaknya ada yang menyambut, tidak kesepian lagi.


One thought on “Keluarga dan Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s