Perkataan dan Jajan Pasar

Uun Nurcahyanti

JAJAN pasar mengasuh bahasa di pasar tradisional. Kegembiraan turut belanja ke pasar bukan hanya karena jajanan.
Hari masih sangat pagi kala beragam jajanan tersaji menunggu pembeli di Pasar Kembang, Solo. Seluruhnya memiliki nama.

Simbahku adalah manusia unik yang bisa sangat merepotkan bila berurusan dengan jajanan. Kedatangan simbah selalu kami sambut antusias. Cerita zaman kumpeni dan Jepang tak pernah membuat jemu. Keseruan semakin bertambah saat simbah mulai mengajak jalan-jalan ke Pasar Kembang, Solo. 

Apa pasal? Simbahku selalu menanyakan nama jajanan yang hendak dibeli atau dicicipi. Dan ajaib, semua jajan pasar memiliki nama yang saling berbeda, membentuk khasanah kosakata tersendiri. Sejak itu aku tertarik untuk  ikut mengamati dan menjelajahi dunia nama jajan pasar bila diajak berbelanja.

Roti goreng adalah nama jajanan yang akrab di telinga kita hari ini. Dijual di pasar maupun kedai gerobak yang memenuhi sore di tepi-tepi jalan. Roti goreng mengartikan berbagai bentuk dan rasa dari varian jajanan ini. Dalam khasanah jajanan pasar di masa kecilku, roti goreng yang manis disebut gembukan. Bentuknya kotak layaknya bantal sofa. Gembukan berbentuk bantal ini seperti roti  goreng pada umumnya, dengan rasa manis khas di bagian atas. Ini jajan pasar favoritku. Gembukan dikenal kaum milenial dan viral dengan nama odading.

Roti goreng dengan rasa gurih berbentuk berbeda, yaitu sedikit memanjang seperti guling  yang ditumpuk sehingga bisa disobek. Roti goreng model ini biasanya dimakan dengan kuah pedas atau sambal, disebut janggelut. Saat ini lebih populer dengan istilah cakue.

Roti goreng juga memiliki isian. Ada yang berupa kacang hijau berbentuk sedikit pipih. Namanya sering dijadikan guyonan karena terdengar saru, yaitu pikbo. Kepanjangan dari “tempik kebo” atau kelamin kerbau betina. Sementara bila isian berupa pisang cacah, balutan tepung dibuat pipih dan membungkus irisan pisang dengan model lonjong agak besar. Nama yang kukenali dari panganan ini juga saru untuk dilisankan, yaitu “peli jaran”, atau kelamin kuda jantan. Nama yang aduhai, ya?

Selain kacang hijau, gula merah juga kerap dijadikan isian jajanan. Salah satu panganan yang berisi gula jawa adalah tape goreng. Kami menamainya rondo royal. Rondo adalah janda. Penamaan ini, kata simbahku, mengacu pada bahan yang dipakai yaitu tapai. Tapai dibuat dengan metode peragian: dari singkong rebus yang difermentasi. Artinya, bisa dikatakan singkong tersebut dibuat  kadaluwarsa, melewati batas masa santap secara normal, dan kata rondo dianggap pas  digunakan untuk simbolisasi tapai. Nama panganan bisa berhistori sosio kultural. Tape yang sudah berasa manis ini diberi isian gula jawa  yang juga manis gurih lalu digoreng dengan tepung. Dalam istilah Jawa ‘dikemuli glepung’. Diselimuti tepung. Jadi terasa benar royalnya, berlebih-lebihan rasa manisnya.

Nama panganan bisa berhistori sosio kultural. Tape yang sudah berasa manis ini diberi isian gula jawa yang juga manis gurih lalu digoreng dengan tepung. Dalam istilah JAwa “dikemuli glepung”. Diselimuti tepung. Jadi terasa benar royalnya, berlebih-lebihan rasa manisnya.

Gula jawa juga menjadi isian jajanan dari singkong yang tak dibuat tapai dulu. Singkong cukup diparut, diisi gula jawa lalu digoreng. Panganan ini bernama klenyem. Model lain pengolahan singkong goreng isi gula jawa adalah dengan merebus singkong terlebih dahulu. Setelah matang, singkong dihaluskan, diisi gula jawa, dibentuk lonjong, lalu digoreng berbalur tepung tipis saja. Namanya jemblem. Di beberapa pasar lain, jemblem kadang tanpa isian gula jawa. Metode ini digunakan juga untuk ubi jalar. Makanan kecil dari rebusan ubi jalar yang dihaluskan lantas digoreng dikenal dengan nama timus.

Isi panganan tak hanya memberi berkah nama, namun juga bentuk khas. Ini terutama terjadi pada beragam gorengan berkulit yang terbuat dari tepung terigu. Nama terasa baru dan berbaju kota, bahkan impor. Nama tak lagi menunjukkan rasa Jawa dan desa. Pastel merupakan nama makanan kecil dengan isian rogut yang gurih, yaitu olahan wortel dengan mentega dan telur berbumbu merica serta bawang putih. Bentuk pastel setengah lingkaran seperti busur panah dengan pilinan khas di pinggirannya. Rogut biasanya ditemani irisan tipis telur ayam. Jajanan mahal dan mewah di masa kecilku. Resoles adalah nama panganan berisi makaroni dan ayam cacah, kadang dicampur wortel halus. Biasanya kulitnya lebih tebal dan agak bervolume. Resoles biasanya dibalur tepung roti diluarnya karena bentuknya silinder mirip dengan sosis goreng. Sementara sosis goreng berisi olahan ayam cacah dengan rasa manis gurih. Penganan berbentuk serupa adalah lumpia. Bedanya, lumpia sedikit lebih kecil dari sosis goreng.

Lumpia adalah nama panganan khas Semarang dengan isian utama rebung dengan campuran ayam atau udang. Dulu penjual lumpia hanya kujumpai di pintu masuk swalayan Sami Luwes di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Lumpia disajikan dengan saus bawang yang rasanya sangat khas. Jajan berkulit tepung ini sebenarnya bukan jajan pasar karena habitat aslinya adalah toko panganan dan pasar modern, yang dulu disebut departemen store. Namun, kreativitas peracik jajan pasar memungkinkan makanan bergengsi ini masuk ke pasar tradisional. Tentu saja ragam isian tak lagi mengikuti pakem sesuai dengan nama awal panganan. Resoles bisa berisi kecambah, pastel berisi bihun, lumpia berisi wortel dan daun bawang. Suka-suka peraciknya. Hanya bentuk jajanan yang dipertahankan agar tetap sah dengan nama lama yang sudah dikenali pembeli.

Pasar bukan sekadar tempat ramai tempat membeli bahan pangan serta penganan saja. Pasar adalah kamus pangan(an).


Uun Nurcahyanti, penulis tinggal di Pare, Kediri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s