Minumlah!

Marhamah Aljufri

KITA masih terpukau laga pebulutangkis membanggakan bangsa dan anak-anak, Susi Susanti. Namanya layak untuk selalu dikenang mengangkat nama Indonesia dengan prestasi tingkat internasional. Susi Susanti selalu teristimewakan dalam hati orang-orang. Sebab Susi, anak-anak merengek meminta raket pada bapak dan ibu. Pagi dan sore, anak-anak memegang raket ikut berlaga di gang, halaman sekolah, teras rumah. Mereka berkeringat, terbentur, jatuh, dan tertawa dengan raket di tangannya.

Susi Susanti tidak sedang “bertanding” memegang kaleng susu terpasang di majalah Kartini, 10-23 Desember 1990. Ahai! Tatapan Susi tengah tersenyum menukik pada seorang anak. Tangan kirinya menunjuk kaleng dan melirik. Anak perempuan sebelah kanan Susi tersenyum manis dan memegang segelas susu. Anak manis rambutnya berkilau pasti terawat baik. Dengan rambut berponi, anak bercerita harapan: “Kalau ingin sukses seperti Kakak, Sasti harus giat belajar, tekun berlatih, dan minum Susu Bubuk Bendera tiap hari, seperti yang Kak Susi lakukan sejak kecil.” Anak ingin sukses tirulah Susi!

Kita membaca kalimat di atas sesendok penuh susu bubuk: “Sesendok Susu Bubuk Bendera lebih lengkap vitamin A, B1, C, D, protein, mineral dan lemak susu asli dibandingkan susu bubuk lain.” Susu sedang mencoba membandingkan dirinya dengan temannya. Orang terpercayakan kalimat tanpa bisa menghitung jumlah lebih lengkap. Pembuktian terlanjur tak dihiraukan. Kalimat-kalimat diperkuat dengan pengakuan: “Tanpa bahan pengawet”. 

Iklan repot menjalin hubungan dengan prestasi. Selalu diingini itu pretasi. Jarang dijumpai orang tidak ingin prestasi. Biasa saja tidak ada diiklan. Mengukuhkan prestasi, susu bersanding dengan piring. Menu terasa enak sekali: nasi, pisang, ikan goreng, tempe goreng dan sayur menggoda liur. Slogan empat sehat lima sempurna dipatutkan dengan segelas susu. Pematutan belum kekinian. Slogan makan sehat berubah karena zaman dan penelitian.

Kita menatap gambar teringat prestasi dalam olah raga diraih dengan makan, keringat, dan tekun berlatih. Kepercayaan terlalu kuat karena berlatih. Pemandangan berlatih tertunjukkan di lapangan, halaman rumah dan gedung olah raga. Berlatih dan makanan yang sehat membuat anak gembira dan yakin. Tanpa berlatih, prestasi itu mustahil!


Marhamah Aljufri, Penulis tinggal di Pasuruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s