Naluri Ibu

Yunie Sutanto

Aku menganggap naluri keibuanku sebagai kompas yang mengarahkanku. Mengabaikannya, tak akan pernah berujung baik. Setiap kali jarum kompas ini menunjuk arah yang berlawanan dengan anjuran para ahli, aku harus mempercayai apa yang kusebut “nyali seorang ibu”. (Kristine Barnett, The Spark , 2014)

BAGAIMANA naluri seorang ibu dalam menghadapi fakta bahwa kemampuan anaknya perlahan-lahan lenyap? Sebagai primary caregiver, ibu tentunya menjadi yang pertama menyadari kemunduran perkembangan anaknya. Celotehan bayinya tak lagi terdengar. Sorot matanya yang ceria menatapmu kini menghilang dalam lamunan berkabut dan tatapan mata kosong. “Autisme laksana pencuri. Anakmu direnggutnya …. Pada usia dua setengah tahun, Jake hanyalah bayang-bayang dari bocah kecil yang dulu adalah dirinya. Rasanya sulit menyadari keberadaannya di dalam suatu ruangan. Ia sama sekali berhenti bicara. Ia tidak lagi melakukan kontak mata dengan siapa pun, juga tidak merespons saat diajak bicara,” demikian tutur Kristine Barnett menyaksikan  anaknya Jake yang menghilang ditelan sumur autisme yang dalam  

Tak jarang dilaporkan kasus anak yang mengalami kemunduran perkembangan di usia satu hingga dua tahun dan anak ini pun terus menutup diri dalam dunianya jika tidak dilakukan intervensi lebih lanjut. Naluri seorang ibu yang  ibarat kompas petunjuk mengarahkan tindakannya. A worried mother does better research than FBI, demikian kata ungkapan Amerika. Jangan pernah main-main dengan para ibu yang kuatir memikirkan buah hatinya!

Ketegangan hidup pun meningkat pascakonsultasi sana dan sini. Bagaimana respons seorang ibu saat para ahli melabeli anaknya dengan salah satu dari diagnosa ini: ADD, ADHD, autisme, asperger, down syndrome, dan tak terhitung entah berapa banyak julukan magis lainnya? Yang membuat frustrasi, para ahli pun tak seia sekata dalam menegakkan diagnosis. Beda tempat konsultasi memungkinkan hasil diagnosis yang juga berbeda! Orangtua yang masih berada di fase penyangkalan terhadap realita (bahwa anaknya berbeda), sering tidak puas dengan diagnosis sepihak. Jajan dokter dan jajan terapis menjadi fenomena umum para orangtua di masa-masa awal ketika mulai menyadari ada yang berbeda dengan anaknya. Biaya hidup pun melambung tak jelas, menambah panik dan menipiskan kantong! Terlebih jika orang tua berasal dari status ekonomi menengah ke bawah. Uang yang tak sedikit harus dikeluarkan untuk biaya terapi dan konsultasi. Tak jarang karena keterbatasan ekonomi malah akhirnya memilih pengobatan alternatif ke orang pintar, dukun dan terapi nonmedis seperti bekam, tuina, pijit, herbal, dan sebagainya. 

Orangtua yang masih berada di fase penyangkalan terhadap realita (bahwa anaknya berbeda), sering tidak puas dengan diagnosis sepihak. Jajan dokter dan jajan terapis menjadi fenomena umum para orangtua di masa-masa awal ketika mulai menyadari ada yang berbeda dengan anaknya.

Ketegangan bertambah pelik jika hal ini terjadi di negara berkembang yang belum menyediakan fasilitas penunjang dan subsidi pemerintah untuk mendukung keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Kristine Barnett yang tinggal di Amerika Serikat termasuk keluarga beruntung. Negara bagian tempat mereka tinggal menyediakan fasilitas terapi wicara gratis yang dibiayai pemerintah setempat hingga Jake berumur tiga tahun.  Satu jam setiap hari, selama lima hari dalam seminggu! Kesadaran dan kepedulian pemerintah AS pada keluarga berkebutuhan khusus memang patut dicontoh. Tak heran ditemui banyak orangtua di Indonesia yang anaknya terdiagnosa berkebutuhan khusus di usia dini, berharap jika memang kiranya memungkinkan, bisa hijrah ke negara yang lebih peduli pada anak berkebutuhan khusus(seperti Singapura, Australia, dan Amerika Serikat) karena mengharapkan mendapatkan fasilitas yang menunjang penanganan anaknya. Kurang nasionaliskah para orang tua ini? Naluri orangtua akan membenarkan tindakan ini! Syukurlah jika BPJS kini memberikan juga terapi gratis untuk keluarga yang kurang mampu. Walaupun ada prosedur yang harus dilalui untuk mendapatkan fasilitas ini, namun sebuah kemajuan besar bagi negara kita. Kiranya Indonesia bisa menjadi negara yang semakin ramah bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. 

Menurut Julia Maria von Tiel dalam Pendidikan Anak Terlambat Bicara (2015), di masyarakat Indonesia sering didapati kenyataan bahwa diagnosis anak berkebutuhan khusus bisa berganti-ganti seiring berjalannya waktu. Anak yang awalnya didiagnosis autisme, setelah diterapi maka yang tertinggal hanya gejala ADHD-nya. Stimulasi yang baik menjadikan anak pandai, hanya perkembangan emosi dan sosialnya masih bermasalah dan karenanya diagnosis pun berubah menjadi asperger syndrome. Salah satu hal yang membuat diagnosis berubah-ubah adalah kesamaan gejala yang termiliki berbagai jenis diagnosis tersebut. Anak terlambat bicara dan mengalami gangguan bicara adalah gejala permukaan yang terlihat, namun diagnosisnya bisa macam-macam. Para ahli pun meraba-raba dalam menegakkan diagnosis yang tepat.  Anak gifted, autis, asperger, dan anak retardasi mental seringkali sepintas lalu terlihat sama dalam area terlambat bicara. Perlunya observasi detail dan menyeluruh (multidisiplin) untuk memastikan diagnosis yang diberikan tepat. 

Kembali pada kisah Jake, saat nasihat para ahli mengharuskan Jake menempuh pendidikan khusus, naluri keibuan Kristine malah berkata sebaliknya. Keputusan nekat untuk menuruti hati kecilnya pun diambil oleh Kristine. Sebagai orangtua, rasa gentar tentu ada saat melawan nasihat para profesional. Namun, Kristine punya nyali untuk mengambil keputusan paling menyeramkan dalam hidupnya. Ia menentang apa kata para pakar. Ia hanya bertekad untuk menyulut renjana anaknya, bukan memadamkannya. Bukankah orangtua lebih pakar perihal anaknya sendiri? Jam terbang dalam bersama anak menentukan kualitas kepakaran seseorang dalam mengenali anak berkebutuhan khusus manapun! Mungkinkah seorang terapis yang hanya 2 jam per hari bersama anak, ataukah dokter ahli yang hanya 15 menit memeriksa pasiennya, memiliki pengenalan lebih tentang anak tersebut? Bandingkan dengan 12 jam sehari kebersamaan berkualitas antara orang tua dan anaknya!

 Walau memang banyak juga kasus orangtua yang bermasalah, sehingga tidak bisa hadir penuh secara emosional bagi anaknya. Ada pula orangtua yang tidak bisa hadir dalam hidup anak karena memang harus bekerja mencari nafkah. Tidak ada pilihan jika memang anda orangtua tunggal. Tidak selalu orangtua itu berkesempatan emas menjadi primary caregiver anaknya. Mungkin si caregiver itu tak selalu orang tuanya, walau idealnya demikian. Kondisi keluarga tiap anak itu ragam, bisa saja caregiver-nya adalah pengasuh yang dipercaya, kakek atau neneknya, tante atau omnya. Siapapun orangnya, sang primary care giver (orang yang durasi kebersamaan anaknya paling lama) seharusnyalah yang menjadi sang terapis utama anak! Sebab, kondisi setiap anak itu unik, sehingga perlunya anak memiliki satu orang caregiver yang tetap dan tidak berganti-ganti di usia balita sangatlah penting. Ada satu orang minimal yang mengikuti dan membersamai si anak di masa awal kehidupannya akan memudahkan penanganan emosinya pula. Anak-anak ini perlu seorang caregiver yang bisa menyuarakan isi hatinya selama ia masih belum bisa berkomunikasi dengan sekitarnya. Bukankah hanya orang yang mengenal betul seorang anak yang bisa menjadi penyambung lidahnya?

Kristine Barnett mungkin dianggap nekad saat memutuskan bahwa Jake tak usah ikut pendidikan khusus. Namun naluri keibuannya ini terbukti keputusan yang tepat jika melihat hasilnya kini. Jake mampu menemukan teori astrofisika orisinal di usia 9 tahun! Keputusan Kristine untuk menyulut renjana Jake tepat! Ia adalah primary caregiver yang paling mengenal Jake. Demikian pula keputusan Julia Maria von Tiel untuk undur dari dunia profesi dan memilih mengurus anaknya yang berkebutuhan khusus. Mungkin keputusan meninggalkan karir juga dianggap nekad dan disayangkan bagi sebagian orang, namun tidak demikian jika keputusan itu lahir dari naluri keibuan! Olga Holland dalam bukunya Teaching at Home pun menuturkan bagaimana ia memberanikan diri mengikuti naluri keibuannya untuk menjalani homeschooling di rumah dan mengajar sendiri putranya Billy yang berkebutuhan khusus! Banyak tindakan nekad dan gila rela dilakoni seorang ibu demi anaknya. Kembali mengutip Kristine Barnett: “Satu-satunya kompas yang kuiikuti adalah membiarkan Jake melakukan semua hal yang dicintainya dan memastikan ia mengalami masa kecil yang menyenangkan.”

Ketegangan hidup keluarga berkebutuhan khusus pun memuncak sampai ranah pernikahan. “Jamak diketahui bahwa kans perceraian melambung sesudah seorang anak didiagnosis menderita autis.” Perceraian dan kasus KDRT dalam keluarga bekebutuhan khusus itu umum terjadi. Banyak pasangan yang saling menyalahkan dan terus bergumul secara finansial untuk keperluan penanganan anak berkebutuhan khususnya. Perceraian menjadi marak. Mungkin tak selalu perceraian secara legal, namun suami istri sudah berada dalam kondisi perceraian batin. Tidak ada keseiakataan. Obrolan terkait anak memicu konflik bertubi-tubi. Tidak ada kemesraan lagi. Yang ada tuntutan dan tuduhan. 

“Keluargaku tidak ada gen autis. Pasti keluargamu yang menurunkan gen ini.” 

“Kamu tidak becus didik anak. Kamu tidak jaga pola makan waktu hamil, makan sembarangan sehingga janin jadi begini.” 

“Kamu kualat, karma atau kena kutukan apa kok bisa melahirkan anak macam ini.” 

Jamak pula diketahui bahwa pasangan yang kurang mendukung dalam pengasuhan malah memperparah kondisi anak. Kiranya kisah Kristine Barnett dan Michael suaminya bisa menjadi teladan. Mereka senantiasa menjadi penyemangat satu sama lain dalam perjalanan pengasuhan anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus. Tak hanya Jake, namun adiknya Wesley pun berkebutuhan khusus. Kristine dan Michael bisa melalui badai-badai dalam kehidupan rumah tangga mereka karena menyadari bahwa mereka satu tim. Naluri sebagai orangtua yang sehat niscaya terbentuk dan terasah dalam pernikahan yang (juga) sehat! 


Yunie Sutanto, penulis tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s