Perindu Cicak

Margarita Riana

Cicak-cicak di dinding 

Diam-diam merayap, 

Datang seekor nyamuk

Hap, lalu ditangkap.

KUDENDANGKAN lagu legendaris ini sambil menggendong anakku. Berusaha selembut mungkin agar dia cepat pulas tidur dalam gendongan. Lagu ini berhasil menidurkannya tapi hanya mampu bertahan hingga dia berumur 2 tahun. Selebihnya, dia akan membuka matanya lebar-lebar mencari cicak yang merayap di dinding. 

Di ruang tamu, aku berdendang. Ruang kesukaan para cicak. Lampu terang dengan aneka serangga kecil terbang membuat tempat itu menjadi tempat kongkow para cicak. Mereka bergantian datang menangkap serangga kecil dengan lidah mereka. Layaknya cicak berkumpul di ruang makan. Ramai! Cicak memang binatang dengan daya tarik tersendiri. Dia hewan kecil dengan suara keras. Geli saat mau memegangnya.

Ternyata, cicak tidak hanya dikagumi si kembar. Cicak punya cerita dalam buku tulisan Nick Vink. Kisah perjalanan Sied menggunakan kapal dan singgah di Batavia. Cicak si makhluk segala tempat dan suasana ditemukan juga ditemukan Sied di kamar hotel. Dalam buku ini cicak didefinisikan sebagai kadal kecil: “Yang sangat menarik adalah cecak, kadal-kadal dinding yang kecil. Mereka dinamakan cecak karena mereka bersuara seperti ‘Cecak’, bergitulah mereka berdecak, terkadang beruntun beberapa kali. Konon, jika bunyi ‘cecak’ sudah terdengar tujuh kali berturut-turut, dan jarang terjadi, kau boleh memohon sesuatu.”

Nah untuk kepercayaan ini, belum pernah para orang tua menceritakannya. Cerita lain cicak dikisahkan dari ibu dan simbah. Tentang tai cicak dan jatuhnya cicak. Kejatuhan tai cicak berarti akan terkena sial. Iyalah! Sudah sial saat itu juga, saat tai cicak jatuh di tangan atau di bagian tubuh lain. Tai di tangan tinggal dibasuh. Kalau di rambut? Keramaslah kita supaya hilang baunya. Kesialan lain mengikuti karena perasaan jengkel terkena tai cicak kecing dan bau.

Tai saja membawa sial, bagaimana kalau kejatuhan cicak. Wah sial yang lebih besar akan didapat! Tubuh kenyal cicak menempel di kulit. Iii, geli! Kesialan akan datang saat cicak jatuh tepat di atas kepala. Sudah tidak perlu diceritakan lagi rasa sialnya. Untunglah selama ini aku tidak terkena sial walaupun sudah kejatuhan cicak.

Sisi sial seputar cicak cukup diceritkan. Cicak si pemakan serangga membawa rasa nyaman. Nyamuk-nyamuk yang beterbangan akan disantapnya. Bisa dibilang cicaklah si pemburu handal para nyamuk. Orang-orang tidak sabar dengan ketangkasan cicak. Rasa geli cicak dan didorong dengan rasa tidak ingin terkena sial membuat manusia memakai cara modern. Kata modern mengacu penggunaan alat-alat listrik atau zat-zat kimia pembasmi nyamuk buatan manusia. Obat nyamuk bakar dan obat nyamuk elektrik.

Oh, manusia si pencipta barang modern! Tidak hanya mengusir nyamuk tetapi juga mengusir cicak. Sungguh, anakku kembar kelahiran tahun 2018 menanti kedatangan cicak sebelum mereka tidur. Bagaimana mungkin para cicak akan datang kalau aku memasang obat nyamuk elektrik? Makanan tak ada buat apa berkumpul. Rewel pun terjadi. Mata mereka tidak terpejam sebelum melihat cicak. Cicak di mana kamu?

Sungguh, anakku kembar kelahiran tahun 2018 menanti kedatangan cicak sebelum mereka tidur. Bagaimana mungkin para cicak akan datang kalau aku memasang obat nyamuk elektrik? Makanan tak ada buat apa berkumpul. Rewel pun terjadi. Mata mereka tidak terpejam sebelum melihat cicak. Cicak di mana kamu?

Suatu ketika para cicak ini menjadi topik pembicaraan. Kehangatan saat membicarakan cicak ini tidak tergantikan. Diskusi percicakan menjadi sebuah praktikum menggoda cicak. Dengan sebatang lidi yang ujungnya diberi upo kami ingin membuktikan kegigihan si cicak saat mencari makan. Lidi digerakkan di depan cicak. Barang kecil putih bergerak akan disambarnya. Beberapa cicak mendekat dan mengejarnya. 

Tawa tercipta dengan praktikum kecil ini. Rasa jijik pada cicak menjadi rasa geli. Senyum tercipta melihat gelagat si cicak. Oh, sungguh aku ingin situasi hangat ini tercipta lagi! 

Anakku tidak lagi menikmati gerak-gerik cicak yang lucu. Hanya satu atau bahkan paling banyak tiga cicak mereka lihat di sekitar lampu tidak sebanyak yang kami lihat saat itu.

Maafkan kami cicak yang sudah dengan tega berusaha melenyapkan santapan lezatmu dengan aneka obat nyamuk. Kenyamanan kami saat tidur, bekerja di depan laptop, menonton TV, dan bermain HP membuatmu enggan singgah di rumah kami. Kehangatan tawa kami pun tidak lagi seperti dulu. 

Cicak tetap ada, walau sedikit, tapi memang mereka enggan muncul. Tulisan tentang cecak berlanjut dalam buku berjudul Siedjah. Penggambaran gerak-gerik cicak di dinding diceritakan dengan apik. Nilai kehidupan disampaikan dengan falsafah percicakan: “Jika binatang lain menangkap ekornya, ekor itu akan putus dan cecak tadi melarikan diri dengan ekor yang tinggal sepuntung. Untunglah, nantinya ekor itu akan tumbuh lagi. Manusia harus belajar dari cecak untuk dapat melaskan diri dari kesulitan. Begitulah kata orang di sini. Cerdas sekali.”

Pandanglah cicak dengan bermutu! Hapuskan rasa geli! Ia tidak melulu sebagai predator nyamuk. Dari cicak kita bisa belajar cara melepaskan diri dari kesulitan. Bukan berarti kita akan melepaskan salah satu bagian tubuh kita. Kita harus cerdas mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Tidak hanya pasrah menangis, mengutuk, dan terus mengoceh tentang masalah kita. Hadapi dan selesaikan. Kita harus bisa melepaskan diri dari masalah bukan lari dari masalah.

Kutipan indah tentang cicak yang juga dapat ditemukan dalam buku Siedjah, Melintasi Tapal Batas Kepicikan Kolonial adalah tentang strategi cicak menangkap serangga. Cicak akan diam menunggu serangga datang: “Jika manusia belajar untuk sesekali diam, kita akan mendapatkan kesempatan untuk merenung.”

Kesibukan kita menutup kesempatan untuk merenung. Kesempatan untuk lebih mengenal lebih dalam siapa kita, apa saja yang kita lakukan, apakah semua yang kita lakukan berguna dan penting, dan untuk apa kita hidup. Apakah manusia hidup untuk menjadi sibuk saja dengan rentetan aktivitas?

Kita perlu diam, merenung, mengenali diri sendiri. Apa yang terjadi di sekitar kita. Diam seperti cicak, sabar menunggu mangsanya datang. Cekatan menerkam serangga. Memakannya tanpa pongah. Begitulah cicak.


Margarita Riana, penulis tinggal di Jogjakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s