Yang Datang dan Hilang

Ratna Hayati

PADA suatu pagi, aku berjalan-jalan pagi bersama anak-anakku dan melewati rumah seorang kenalan yang sedang berdiri di depan rumah menemani cucu perempuannya yang lucu berusia sekitar 2 tahun. Di depannya, menanti seorang penjual susu kedelai. Si nenek memberi tahu bahwa beliau tidak mengerti apa yang diinginkan cucunya karena cucunya ini hanya bisa berbahasa Inggris. Sontak, Chaca bertanya: “Memangnya cucunya orang luar negeri?” Bukan! Neneknya orang Banyuwangi asli dan bapak ibunya juga orang Indonesia  tulen. Hal mulai biasa bila anak kecil lebih fasih berbahasa asing terutama Inggris dibanding bahasa ibunya sendiri atau bahasa Indonesia. 

Bahasa mengiringi kekuasaan. Dalam era yang kian mengglobal dan homogen, bahasa-bahasa yang mendominasi dan perdagangan dunia melampaui batasan  geopolotik dan geografi. Bahasa yang lebih kecil tersingkir ke ambang kepunahan. Di National Geographic edisi Juli 2012, terkabarkan setiap 14 hari satu bahasa punah. Sungguh mengerikan! 

Oktober merupakan Bulan Bahasa dan Sastra yang ditandai dengan peristiwa Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), tonggak awal bahasa yang dianggap bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Hal ini lantas menggelitik benak dan menimbulkan pertanyaan: Apa peran bahasa persatuan dalam punahnya banyak bahasa daerah di Indonesia? 

Bahasa sering dikaitkan dengan hegemoni kekuasaan. Siapa yang berkuasa akan membawa bahasanya. Dulu, di Amerika Serikat sempat terjadi perang pendukung antarbahasa pada awal masa pembentukannya sebagai sebuah negara. Apakah memakai bahasa Inggris yang dibawa oleh kolonial dari negara Ingrris atau bahasa Perancis? 

Demikian pula di Indonesia, pendidikan yang standar mungkin ikut berperan dalam punahnya bahasa-bahasa daerah. Penguasaan bahasa nasional atau bahasa Indonesia menjadi sebuah keniscayaan bagi yang ingin mengkases sumber-sumber daya ekonomi, lantas muncul juga bahasa internasional seperti Mandarin atau Inggris yang juga merangsek semakin menggerus keberadaan bahasa daerah. Orang cenderung fungsional, bahasa daerah dipandang tidak memilki fungsi strategis terutama bila dikaitkan dengan kemakmuran ekonomi. Orangtua berlomba agar anak-anak semakin dini fasih dan menguasai bahasa asing, terutama yang banyak penuturnya agar kelak bisa menjadi bagian dari global citizenship: mampu mengakses sumber-sumber literasi berbahasa asing dan berhubungan dengan masyarakat internasional. Keberadaan teknologi komunikasi semakin menghilangkan batas-batas negara apalagi kedaerahan atau kesukuan, semua melebur menjadi masyarakat internasional.

Indonesia sering dianggap sebagai laboratorium bahasa terbesar di dunia dengan 746 bahasa etnik dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian telah punah atau terancam punah. Sebuah bahasa dianggap bisa bertahan adalah jika memiliki paling tidak sekitar 1000 penutur dan bahasa-bahasa tersebut memiliki jumlah penutur minimal 500 orang. Punahnya sebuah bahasa artinya hilangnya jejak menuju kebijaksanaan masa lalu. Lenyapnya suatu bahasa berarti lenyap pula pengetahuan yang sama berharganya dengan “obat ajaib masa depan” yang mungkin raib ketika ada spesies yang punah. 

Bahasa daerah sering menyimpan kunci untuk membuka rahasia alam karena penuturnya yang cenderung hidup akrab dengan alam tumbuhan dan satwad i sekitar mereka. Pembicaraan mereka mencerminkan pengamatan serta pengalaman hidupnya berdampingan bersama alam. Ketika komunitas kecil seperti suku meninggalkan bahasa daerahnya dan beralih menggunakan bahasa nasional atau bahkan bahasa internasional seperti Inggris, Mandarin, Spanyol, dan lain-lain, maka banyak kekayaan tradisi yang menjadi tak terwariskan ke generasi selanjutnya. Misal, pengetahuan tentang tanaman obat, budi daya tanaman pangan, teknik irigasi, sistem navigasi, dan kalender musiman. Hilangnya suatu bahasa berarti kehilangan satu perspektif dalam memandang dunia, alam raya dan seisinya, hilangnya pengetahuan prasejarah dan pengetahuan ekologi tradisional.

Isu bahasa menjadi masalah yang cukup pelik karena di satu sisi tanpa bahasa persatuan maka peluang terjadinya disintegrasi bangsa karena ego kedaerahan yang tinggi rentan terjadi. Stabilitas bisa dicapai salah satunya lewat keseragaman yaitu antara penyeragaman bahasa nasional agar ada perasaan bersatu di antara ratusan suku bangsa yang hidup di Indonesia. Sumpah Pemuda 93 tahun silam mencanangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia semua lebur menjadi satu. Namun, dampak negatifnya adalah semakin terpojoknya khasanah budaya dan bahasa lokal yang semakin ke sini semakin ditinggalkan oleh penuturnya karena dianggap tidak fungsional, tidak bisa membantu mencapai akses terhadap sumber daya ekonomi. Lambat laun bahasa daerah akan menjadi punah   ditinggalkan terutama oleh generasi muda yang bahkan lebih suka berbahasa internasional sejak dini dibanding berbahasa Indonesia apalagi berbahasa daerah. Orang tua dengan penuh kebanggaan menyatakan betapa fasihnya anak-anak balita mereka berbahasa asing dibanding berbahasa Indonesia. Artinya, semakin banyak generasi muda yang bagaikan pohon tercerabut dari akarnya, tanpa akar yang kuat menopang maka pohon akan mudah roboh, rapuh tak punya pegangan. 

Orangtua dengan penuh kebanggaan menyatakan betapa fasihnya anak-anak balita mereka berbahasa asing dibanding berbahasa Indonesia. Artinya, semakin banyak generasi muda yang bagaikan pohon tercerabut dari akarnya, tanpa akar yang kuat menopang maka pohon akan mudah roboh, rapuh tak punya pegangan.

Kebijakan pendidikan yang carut marut berkelindan dengan merangseknya penggunaan media sosial seperti Youtube membuat anak-anak yang melek teknologi terpapar dengan bahas asing lebih dahulu dibanding bahas ibu. Peran pengasukan orangtua sudah tergantikan oleh gawai. Anak-anak lebih banyak mendengar kanal-kanal Youtube berbahasa asing yang “bertutur bak pengasuh”. Mereka sejak dini dibanding mendengar orangtuanya berbicara karena mungkn orangtuanya juga lebih akrab dengan gawai dibanding memandang wajah anaknya masing-masing dan makin ironis alih alih merasa bersalah mereka malah bangga karena merasa anak-anaknya akan menggenggam dunia dengan penguasaan bahasa asing sejak dini.

Kegelisahan tentang posisi bahasa daerah di tengah arus globalisasi dituangkan dalam buku Membangun Nasionalisme Melalui Bahasa dan Budaya yang diluncurkan hari ini 28 Oktober 2021. Yohanes Manhitu menyebutkan: “Pamor bahasa daerah sudah kalah (jauh) dibandingkan dengan bahasa nasional kita, apalagi dengan bahasa Inggris yang dijuluki bahasa internasional. Upaya mengurusi bahasa daerah ibarat mengutak-atik gerbong tua yang diharapkan berjalan di rel baru. Turunnya pamor bahasa Indonesia maupun daerah juga bisa terlihat dari tersedianya Fakultas-fakultas jurusan bahasa daerah dan sastra Indonesia yang semakin hari semakin minim peminat, bandingkan dengan Fakultas Bahasa Korea yang makin berkembang pesat seiring dengan gelombang Halyu yang makin mengganas menyerang dan makin mengaburkan budaya nasional.”

Mungkin 10 tahun ke depan kita akan semakin biasa melihat keluarga-keluarga yang 100% Indonesia tulen secara garis keturunan (bukan Indo atau mengalami perkawinan campur antarnegara) tapi menggunakan bahasa asing sebagai bahasa percakapan sehari-hari mereka. Kita akan menjumpai anak-anak yang semakin merasa asing dengan bahasa negerinya sendiri.


Ratna Hayati, pengasih dan pengasuh tanaman, tinggal di Jakarta                                                            

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s