Penambal: Ban dan Nasib

Anggrahenny Putri

DARI waktu ke waktu, kaki-kaki bergerak makin cepat. Lajunya tak lagi bertenaga nasi atau ketela hangat. Kecepatannya berasal kerukan dari dalam Bumi yang diolah hingga ternamai bensin. Dahulu, kaki bertelanjang hingga bersandal karet. Kini, kaki berbentuk roda dan masih berbahan karet. Sebagian besar kaki berkaret hitam itu mendapatkan tempat pada jalan-jalan mulus beraspal. Kaki yang lembut justru berjalan pada tanah yang berbatu. Sungguh ketahanan kulit manusia lebih kuat dibandingkan karet-karet bundar itu. Roda menggelinding bergerak dan kaki melangkah serta berlari dalam keseharian bersama-sama. Roda adalah kaki pada masa kini. 

Jalan beraspal itu nyatanya tak mulus dan tak selembut bayangan. Jalanan itulah yang layak disandingkan dengan peperangan. Manusia yang menunggangi roda-roda karet melesat kencang dan lamban pada permukaannya. Mengeluarkan asap polutan menyesakkan nafas. Mengabukan langit biru, bahkan belalang dan kupu-kupu enggan berada di sekitarnya. Burung-burung sesekali memang terbang, tapi tinggi: ketakutan mendengar cuitan melengking berasal dari ketidaksabaran jalanan. Bising menulikan telinga dan hati. 

Roda si cepat mirip mengamuk, ugal-ugalan. Hidupnya dilajukan bak kesurupan setiap hari, tak sabaran. Bersaing sampai tempat tujuan. Menyalip hingga menikung halangan di muka. Si lamban, beda cerita. Ia ingin bercepat pula tetapi rapatnya penunggang roda lain tak memberinya kesempat melesat secepat angin, akibatnya kesabaran yang melesat jauh. Jauh, hingga tertinggal umpatan dan kemarahan saja yang tersisa di tubuh. Burung makin enggan mendekat. Begitu pula kehidupan lain terkecuali pejuang kacang, kuaci, dan permen penikmat kemacetan jalanan. Petarung-petarung perang lengkap dengan penontonnya. 

Muncul satu sosok sial dalam pertempuran. Menuntun rodanya dengan kakinya sendiri. Rodanya kempes, sebelum sampai ke tujuan. Tengak-tengok pinggiran jalan di depan. Barangkali ada seorang yang dapat mengembungkan asanya akibat ban kempes itu. Wajah pinggiran jalan dengan roda-roda hitam tak berjalan malah menggantung sebagai hiasan. Sempurna! Hanya hiasan itulah yang terindah saat roda tunggangannya kempes, meleyot, dan mengkhawatirkan jika ternaiki. 

Tertulis besar-besar dalam huruf kapital seluruhnya, menggunakan cat berwarna putih. Selalu berwarna putih! Warna itulah yang paling pantas bersanding dengan roda melingkar berwarna hitam, agar tulisan terbaca dengan saksama: “TAMBAL BAN”. Ban berhias tulisan tak cukup, tumpukan roda-roda lain yang menjadi hasil keberhasilannya, merupakan sebuah bukti ketangkasan seorang pengusaha tambal ban. Pengusaha yang selalu berusaha menambal hati para pelanggannya yang dirundung kecamuk amarah akibat baut atau paku yang tak sengaja terinjak oleh rodanya. Melegakan hati yang telah terlambat datang.

“Yesus naik ojek melintasi jalanan lengang di bawah rincik hujan, membawa lima roti dan dua ikan, mau mengunjungi teman-Nya, seorang tukang tambal ban yang sudah lama tak bisa menambal nasib keluarganya karena pandemi virus corona”, begitu penggalan awal puisi Joko Pinurbo yang berhasil menyayat cita. Puisi mendalam yang berjudul Yesus Naik Ojek, menceritakan perjalanan Yesus mengunjungi kawannya tukang tambal ban. Si penambal kesedihan manusia lain ternyata tak mampu menambal kesedihannya sendiri. Bantuan makan masuk dalam rumahnya saat ia  sakit. Sakit tak hanya di dalam tubuhnya tapi dalam saku keuangan keluarganya pula. 

Si penambal kesedihan manusia lain ternyata tak mampu menambal kesedihannya sendiri. Bantuan makan masuk dalam rumahnya saat ia sakit. Sakit tak hanya dalam tubuhnya tapi dalam saku keuangan keluarganya pula.

Menjadi tukang tambal memang tak seberapa upahnya. Untuk berfoto dan kemudian diunggah di media sosial saja ia tak mampu. Tangan bersimbah oli bekas roda rantai kendaraan. Baju seadanya, bernoda tanah dan cairan bermotor. Berswa foto tidak memungkinkan, rasanya tak pantas. Tetapi, bukan dia tak pernah termuat dalam media sosial seperti Facebook dan Instagram. Tentu saja ia pernah tapi ceritanya bukan tentang dirinya. Cerita foto yang termunculkan sebagian wajah dan lengkungan punggung bungkuknya kala menambal ban motor pelanggannya yang bernasib sial di jalanan. Ya, bukan kisah kesialan hidupnya tetapi kesialan hidup orang lain. Ia hanyalah potret yang menumpang tenar pada sosial media seseorang. Berisi keluhan pelanggannya hendak dikasiani sekawan media sosialnya. Padahal hidupnya telah berat benar, tanggungan keluhan pelanggan bukan kali pertama untuknya. Pekerjaannya memang menambal ban. Nyata baginya  juga menanggung kekesalan orang lain.

Ban bocor terkena paku. Tak habis pikir paku bisa tiba di jalanan dengan selamat. Meletakkan tugas takdirnya sebagai pembocor roda yang ditunggangi manusia. Menggiring pasien-pasien yang bocor bannya pada sang dokter tambal ban. Bersiap ia dengan pakaian lusuh dan celana kolor pendeknya mempersiapkan alat-alat tak steril seperti cukit dan kunci pasnya untuk membedah roda bocor sebelum benar-benar kehabisan udara. Pentil ban diposisikan pada persis depan tangannya agar tangannya tak perlu kerepotan mengendalikan pentil dan jeruji roda. Melonggarkan baut yang membuat pentil menempel pada ban. Kemudian cukit beraksi, berusaha mengungkit ban luar agar ban dalam yang lebih tipis itu dapat diperiksanya dengan hikmat. Masih menyangkut ban dalam pada jeruji roda, sang dokter mendonorkan udara dari tabung udara berwarna oranye. Secukupnya saja, sampai menggembung seperlunya. 

Setelahnya adalah waktunya pemeriksaan yang lebih mendalam, dengan bantuan seember air keruh ia memancing buih-buih di bagian mana yang akan keluar dari ban yang sebelumnya kempes itu. Menyenangkan bertemu biang keladi kebocoran ban, dokter pun segera menandai lubang akibat tancapan paku. Memeriksa mungkin tak hanya satu penyakit yang menancap. Operasi tambal ban ini pada satu langkah yang paling penting yaitu menyatukan karet tambalan dengan ban yang bocor. Perlu kesabaran untuk mengerik, menempelkan, mengukur panas denga uap air yang sengaja dicipratkan pada lempengan alat press yang menekan agar kedua karet ini bersatu dan menjadi ban yang langgeng, tak bocor lagi. Operasi kecil dokter tambal ban telah selesai dan berhasil.

Proses pembedahan dan operasi ban lamanya hanya dua puluh menit. Bagi pasien yang sedang terburu-buru, ini bukan main lamanya. Sudah dipastikan terlambat. Mengapa harus resah? Begitu pikir sang dokter tambal ban. Memburu-burunya untuk bergegas tak berguna karena spirtus dan api harus benar melumerkan karet dengan baik agar tak “ngelotok” tambalannya. Agar pasien juga selamat sampai tujuan. Kesialan berguru pada kesialan yang telah tinggi tingkatnya. Kesialan pemilik ban bocor dan kesialan tukang tambal ban yang sudah legowo pada nasibnya. Tak perlu ditambah hidupnya karena bocor hidupnya sudah tak mampu ditambal tapi digantikan dengan ban baru. Ilmu sang tukang tambal ban bukan lagi menerima ban bocor tetapi juga menerima nasib takdir hidupnya sebagai penambal ban yang tak mampu menambal nasibnya.

Penerimaan didahului oleh proses penolakan dan marah. Keikhlasan perlu waktu. Seiring waktu yang terus terkikir seperti saat tukang ban mengasarkan ban. Karet ban tambahan menempel pada ban, yang juga terbuat dari karet, dengan tempaan besi panas. Bersatunya ban pada karet ban tambahan adalah contoh penerimaan. Yang rusak bisa diperbaiki dengan tempaan siksaan yang tak tertanggungkan bagi hidup, dengan sedikit bantuan. Yang rusak bisa jadi baik karena bantuan sehingga dapat melanjutkan menuju tujuan hidup yang dicita-citakan. Itulah jasa tukang tambal ban yang menawarkan bantuan menambal yang bocor. Bantuan tulus di tengah kesusahan nasibnya.


Anggrahenny Putri, penulis tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s