Pesan …

Agita Y

BARANGKALI saya hanya bisa menerka apa yang ada di benak pak guru kala ada muridnya yang tidak hadir saat pertemuan zoom. Zoom oleh pak guru dibaca “zo-om” bukan “zum”. Tahulah sekarang siapa pak gurunya? Nah, itu jawabannya!

Namun, saya tak hendak menceritakan secara lengkap siapa pak guru tersebut. Saya hanya menuliskan catatan saya berdasarkan pertemuan-pertemuan yang terjadi selama kurang lebih 6 bulan ini. Pesan-pesan pak guru. Pak guru itu kalau bicara kadang terdengar ngawur, kadang tidak terstruktur, kadang seperti curhat, kadang lain mengutuk atau mengumpat. Pak guru suka (gila) membaca dan menulis. 

Setiap saat berusaha melakukan 2 kegiatan: olah pikir dan olah rasa. Katanya sebagai wujud persembahan bagi orang-orang, sekalipun badan digerogoti keluhan yang bisa dijadikan alasan baginya untuk tak menulis dan membaca. Pak guru yakin telah berbagi manfaat lewat ocehan dan tulisan hasil investasi jutaan rupiah dan waktu untuk membeli buku dan membacanya. Pak guru berkata ia telah beriman dan bertakwa. Saya mencatat, tertanggal 25 Oktober 2021, obrolan bersama pak guru di Senin malam itu mengandung kutipan: “Sugih crita = pernyataan iman dan takwa.” Saya menganggapnya sebuah pesan penting. Maka, merasa perlu mengingat dan mencatatnya walaupun pak guru tak menyuruh.

Pak guru tak pernah mewajibkan murid-muridnya mencatat. Kadang malah berseloroh agar omongannya tak usah dianggap penting atau tulisannya jangan dipikir jero, nanti mundhak mlebu IGD. Lagi-lagi, beliau berusaha menenangkan ibu-ibu dan mbak-mbak yang menjadi muridnya atau teman ngobrol penting nggak penting di Senin malam, sejak bulan Ramadhan 2021. Jadilah kelompok kami bernama Kaum Senin, tadinya hanya Sinau Ngliping. 

Sesuai namanya, Kaum Senin bertemu setiap Senin malam. Yang diobrolkan macam-macam, seringnya bertema. Pak guru akan menyampaikan tema sebelumnya di grup WA. Kadang beliau juga memberi stimulus berupa tulisan atau foto untuk dicermati sebagai bahan obrolan. Sebab kalau tidak, mungkin obrolan akan menjadi garing, mungkin juga kurang berisi. Kalau saya amat-amati, kelompok kami ini ibu-ibu dan mbak-mbak yang anteng, tidak begitu banyak bicara, tidak ganas. 

Terbukti juga dari pendapat pak guru, anggota kelompok kami jarang ada yang menelepon langsung beliau untuk tanya tulisan atau konsultasi apa saja. Lha, bagaimana sih, saya sendiri bukan tipe orang yang senang menelepon atau ditelepon. Malah bingung mau ngomong apa, kalau tidak, omongan jadi belepotan. Jadi ketika pak guru seolah menyindir mengapa Kaum Senin tak meneleponnya, tak seperti kelompok-kelompok sinau yang lain, ya saya tetap saja ngeyel tidak telepon. Pesan pak guru dalam sindiran itu mungkin pesan penting, agar kami yang sedang kebingungan menulis bisa mendapat pencerahan. Biasanya dari obrolan bisa membantu menemukan apa yang sebenarnya ingin dan harus dituliskan. Sekalipun arti menelepon itu penting, saya masih belum berani dan merasa tidak nyaman jika harus melakukannya. Maaf, saya tak mengindahkan pesan pak guru.

Pak guru pernah bilang, ibu-ibu itu punya peran yang amat besar dan penting dalam sebuah keluarga. Dalam kegiatan sinau ngliping kami periode pertama, temanya adalah ngliping iklan dari majalah-majalah wanita edisi lama. Ibu-ibu berperan dalam kegiatan konsumsi keluarga. Makanan atau benda-benda lain apa yang selama ini dipilih dan dikonsumsi keluarga. Mengapa memakai produk itu? Bagaimana pengaruh konsumsi produk serba instan? Dan semua hal lain yang sepertinya tak pernah kami renungkan, semuanya kami pikirkan ulang. Kami harus menuliskan segala hal yang bisa dikaitkan dengan iklan majalah. Misal saya memilih produk minyak, maka saya bisa menuliskan penilaian pribadi tentang iklan, bahasa iklan, mengomentari produk dari luar sampai dalam (kemasan dan isi), menuliskan segala kenangan masa kecil maupun masa kini. Serta, bagaimana semua memori terbentuk menghadirkan kelucuan, kejengkelan, rasa syukur bahkan mengejek pun boleh kami tunjukkan. 

Pada awalnya, saya merasa sulit mencari-cari, mengingat-ingat, mengait-ngaitkan, memaknai dan bingung menuliskannya dengan bahasa dan gaya menulis yang ciamik. Sebab, saya bukan penulis handal, hanya penulis beraliran buku harian: bebas saja menulis apapun, penting atau tak penting, terlebih untuk diri saya sendiri. Menulis, bagi saya, itu pelepasan. Setelah sebulan mengikuti sinau ngliping iklan ini, lumayanlah, yang seharusnya mengumpulkan 30 tulisan, saya bisa 27 tulisan. Yang 3 tulisan tidak saya paksakan menyelesaikan, takut merasa ini kewajiban dan menulis jadi tidak asyik lagi. 

Pak guru juga berpesan agar tidak mengabaikan tugas-tugas domestik ibu rumah tangga. Yang momong anak, ya, momong anak, yang asah-asah, umbah-umbah ya tetep kudu mlaku kabeh aja ditinggal hanya untuk alasan menulis untuk tugas dari pak guru. Pak guru tidak suka kata “tugas”, saya pun begitu. Menulis itu, ya, mestinya tulus ikhlas, tanpa pamrih, dilakukan dengan pikiran ke masa depan, untuk warisan anak cucu kelak. Kabarnya, tulisan-tulisan dari teman-teman yang sinau bersamanya akan dibukukan. Sabar saja! Tetap menulis saja! Pak guru bilang, saya lumayan sregep dan “patut disayangi” karena mengirimkan tulisan. Sepertinya omongannya terdengar gurauan, tapi saya mencatatnya sebagai pesan penting, agar saya menjaga kesenangan menulis itu.

Pak guru setiap hari mengirimkan tulisan di grup WA. Bisa apa saja. Baru-baru ini pak guru meluncurkan seri tulisan “Cuplik”. Saya, ya, kadang membaca, kadang tidak. Tapi kali ini menarik karena banyak kutipan puisi. Saya tidak banyak tahu dan paham puisi. Tapi, cara pak guru mengemasnya dengan diawali cerita pengalamannya atau cerita dari sumber buku lain yang kemudian dikaitkan, menjadikan puisi-puisi tersebut bolehlah diperhatikan, atau dilirik sedikit. Kasihan pak guru sudah capek-capek menulis, bahkan sakit pun tetap berusaha menyelesaikannya agar tidak ada hari ngeblong tulisan. Hanya saja, pak guru tulisannya kadang harus dibaca beberapa kali agar paham. Mikir gitu, lho! Sok-sok di waktu longgar, ya, saya baca ulang. Kebanyakan hanya lewat saja. Angel, saya sok wegah mikir abot! Tapi, pak guru tidak marah jika tulisannya tak dibaca, pasti tidak. Karena beliau tentu sudah tulus ikhlas tanpa pamrih saat menulisnya. Tahu-tahu nanti jadi buku saja. Lalu, murid-muridnya dapat satu-satu, cuma-cuma pula, pak guru tentu sudah bahagia, tercapai cita-citanya. 

Pak guru sering bercerita tentang kehidupan pribadinya, beberapa juga mengandung pandangan hidupnya (saya anggap demikian), tentang toleransi, tentang hidup bermasyarakat, tentang hidup berkeluarga, tentang pengalamannya dalam bidang kepenulisan, pengetahuan buku-buku, buku apapun, tentang kebiasaan, tentang perilaku, tentang gaya hidup modern, tentang profesi menjadi bapak rumah tangga yang dilakukan sepenuh hati untuk memuliakan keluarga. Namun, tak lupa memberi persembahan hidup berupa tulisan. Pak guru bicara biasa saja tapi cara dan isi dari semua yang beliau sampaikan seolah menyihir murid-muridnya, seperti saya. 

Sekarang, pertemuan Senin malam sudah menjadi rutinitas. Jika saya tak bisa hadir, saya sering merasa ada yang kurang. Saya tidak menerima pesan hari itu. Pesan dari pak guru. Pesannya tersembunyi di balik rumitnya kata-kata atau kesederhanaan ceritanya. Beliau, ya, terus ngobrol saja, meski kadang kami butuh waktu lama untuk berani menanggapi tema yang diobrolkan. “Tiada pesan tanpa kehadiranmu,” barangkali kalimat yang cocok untuk menggambarkan perasaan pak guru jika ada muridnya yang tak hadir. Bisa juga berlaku sebaliknya, jika murid-murid siap namun pak guru berhalangan hadir. Sebab pak guru pun ternyata mengakui belajar juga dari para ibu dan mbak yang sinau bersama. Pak guru merasa lebih rendah derajatnya dibandingkan ibu-ibu yang merupakan “pegangan” dalam sebuah keluarga. 

Kadang-kadang saya terharu juga jika mengingat kata-kata pak guru. Pak guru seperti tidak tahu saja kalau perempuan itu lebih cengeng. Perempuan itu sering memasukkan ke dalam hati apa-apa yang didengarnya, dialaminya, baperan macam habis nonton drakor semalam suntuk lalu tersedu tiba-tiba. Ya, begitulah! Pak guru pasti tahu, tentu tahu. Pak guru pasti mencatat pula dalam benaknya, murid ini punya kebiasaan itu, murid yang itu punya karakter nganu. Nganu-nganu setiap murid pasti sudah direkam pak guru. Pak guru bilang beliau tak bisa menilai tulisan seseorang jika hanya dua atau tiga yang dikirim. Pak guru bilang minimal 50 tulisan dikirim maka beliau bisa menilai tulisan, pasti mengenal orangnya juga kan. Wong tulisan saya misalnya, isinya ya curhat terus. 

Pak guru semoga selalu sehat dan giat. Pak guru tidak suka basa-basi. Bahasanya saat menjawab pesan WA kadang nganyelke. Ya, kaya gitulah saya sudah hafal sekarang. Pak guru tidak akan mengucapkan sama-sama jika muridnya berkata terima kasih. Tidak ada murid sakit hati. Murid-murid juga harus legawa jika pertanyaan tidak dijawab pak guru. Pak guru menganut prinsip hemat kata, tidak perlu berpanjang-panjang jika memang tak perlu. Pak guru juga mengajak murid berpikir, tidak selalu melempar semua kata tanya yang ada di dunia untuk segera mendapat jawaban sedetil-detilnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Pak guru juga mengajak murid untuk mengingat lebih baik, merenungkan lebih dalam, dan tentunya menulis lebih sregep

Pak guru juga mengajak murid berpikir, tidak selalu melempar semua kata tanya yang ada di dunia untuk segera mendapat jawaban sedetil-detilnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Pak guru juga mengajak murid untuk mengingat lebih baik, merenungkan lebih dalam, dan tentunya menulis lebih sregep.

Mungkin saya bukan murid yang paling baik dan paling bagus menulis. Namun dengan tulisan berisi pesan-pesan pak guru yang tercatat di pikiran dan hati saya selama ini bisa menjadi semacam monumen yang dikenang para murid, bahwa ada seorang pak guru bernama Bandung Mawardi. Jika cerita atau obrolan pak guru bisa disamakan dengan ucapan  “terima kasih” pada dunia, murid-murid tidak usah mengucapkan “terima kasih kembali atau sama-sama”. Sebab, pak guru akan lebih berkenan jika murid-muridnya sregep menulis, sebagai persembahan hidup, seperti yang beliau lakukan. 

Pesan pak guru dari obrolan Senin malam yang lalu yang saya ingat, bahwa catatan atau pesan itu merupakan hal yang penting. Mungkin saya tidak bisa ingat buku-buku dan tokoh-tokoh yang diperkenalkan pak guru malam itu, karena saya sendiri nyambi ndolani anak-anak di rumah. Namun, saya tetap ingat beberapa hal. Catatan secara tertulis, bisa berisi hal yang penting atau tak penting. Bisa tulis tangan atau diketik dan disimpan secara digital. Pesan secara lisan pun tak selalu bisa ditangkap, kadang butuh waktu lebih lama untuk dipahami. Pesan bukan hanya soal belanja dan pesan masuk di ponsel kita, sekalipun di zaman sekarang masyarakat lebih memahaminya demikian. Kita tetap perlu mencatat berbagai peristiwa. Dengan demikian kita dapat memaknainya dan menjadikan pembelajaran atas peristiwa dan kenangan tidak berhenti. 

Kita sedang membentuk sejarah pribadi, sehingga orang mungkin mengenal kita dengan mudah, antipenasaran, karena cerita sejarah pribadi kita bagikan begitu saja di media sosial. Kita diajak berpikir ulang dan lebih bijak, hendakkah catatan-catatan keseharian kita umbar atau kita simpan saja di zaman yang serba mudah dan cepat ini. Pesan–yang dulunya diucapkan oleh tokoh-tokoh penting, sehingga menjadi kebutuhan bagi orang lain untuk mencatatnya karena pesan dianggap penting dan akan bermanfaat untuk orang banyak–masih penting pula untuk dituliskan di masa sekarang. 

Yang saya pelajari dari kata-kata pak guru saat melempar pertanyaan pada murid: “Manakah yang lebih dirimu-dirimu percayai? Kata-kata orang secara langsung atau tulisan?” Saat itu jawaban teman-teman lebih banyak yang percaya tulisan. Kata-kata bisa dipercaya jika kita sudah mengenal orang yang mengucapkannya tersebut dengan lebih baik. Ya, saya juga setuju demikian. Pak guru juga bilang bahwa pesan penting akan lebih tinggi nilainya (atau apa saya lupa), jika dituliskan oleh orang yang mendengarnya, bukan yang mengucapkannya. Sebab, tulisan dari yang mendengar pesan itu lebih tidak berpamrih dibandingkan jika ditulis langsung oleh orang yang mengucapkan. Maka, atas dasar itulah, kali ini saya memilih menuliskan pesan-pesan pak guru yang berhasil saya ingat, agar tercatat dan tertancap kuat, tanpa pamrih dan semoga menjadi pengingat.


Agita Y, pedagang mi ayam dan penulis, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s