Tetap (Lari) ke Pantai

Setyaningsih

MAJALAH Kawanku, 23-29 November 1985, mendatangan perhelatan seru dunia di pantai berjudul “Mengukir di Pasir: Dibuat Sangat Indah Lalu Dibiarkan Hancur”. Terutama di Barat, kegemaran membentuk bentuk-bentuk dari pasir sangat lumrah. Berwisata ke pantai selalu memiliki maksud keceh air dan keceh pasir. Anak-anak diajak menunaikan urusan yang sangat penuh upaya sekaligus kerelaan ini. 

Membentuk pasir telah menjadi agenda internasional: “Dalam sebuah kontes membuat patung pasir (mengukir pasir) di Pantai Cannon, Oregon, mampu menarik 20.000 penggemar ke kota itu setiap musim panas. Sekitar 700 peserta mulai pagi-pagi benar. Mereka boleh menggarap pasir menjadi bentuk sesuka hati mereka. Namun, mereka harus bekerja cepat. Penilaian akan dilakukan paling lambat 6 jam setelah pekerjaan dimulai.” Waktu lomba berkait dengan gelombang pasang siang hari. Alam menentukan waktu akurat untuk berlomba.

Di tempat lain, dampak dari lomba terlihat begitu baik dan berwawasan lingkungan—menyinggung dua tempat piknik paling penting di muka bumi: pantai dan kebun binatang. Begini: “Kontes mengukir pasir lainnya diadakan di Ala Moana Beach Park, Hawaii. Para seniman pasir hanya boleh membuat binatang. Para pemenang hadiah pertama setiap kategori akan menjadi orang tua angkat bagi seekor binatang di Kebun Binatang Honohulu. Salah satu sponsor konon akan menyumbang dana untuk memberi makan binatang-binatang yang diasuh tersebut. Nama-nama pemenang akan dipancang di kebun binatang tersebut.” Abaikan dua kata ‘tersebut’ di dua kalimat terakhir! Di Indonesia, membentuk pasir sepertinya belum jadi perlombaan akbar. Dasar orang darat, melihat pantai pasti langsung ingin keceh, ciblon, dan slulup

Di Indonesia, membentuk pasir sepertinya belum jadi perlombaan akbar. Dasar orang darat, melihat pasti langsung ingin keceh, ciblon, dan slulup.

Awal-awal wisata dirintis di masa Indonesia setelah kemerdekaan, kedekatan dengan alam mengasah naluri mencinta alam dan kebangsaan. Orang-orang diajak mencintai negeri dengan romantis daripada militeris. Ingat buku Melantjong di Indonesia (PT Rio, 1957) susunan Poerbo Ngr. Buku memuat banyak tema dari beberapa penulis—dari warung sampai kesenian lokal. Sekretaris Jendral Kementerian RI saat itu, M. Harjoto, mengatakan: “Guna mempertebal rasa tjinta tanah air perlu kita mengetahui hal-ihwal jang serba bagus, serba indah dan serba baik dari tanah air kita. Pemandangan jang indah permai ditepi laut, dipegunungan dan dilembah ngarai. Bangunan adat kebiasaan, adat-istiadat dan lembaga adat jang menggambarkan keluhuran budi-pekerti tinggi didalam tata-tjara hidup dikota maupun didesa-desa. Hasil kebudajaan, kesenian, kesusastraan jang menggambarkan kemadjuan alam fikiran bangsa Indonesia didjaman kuna maupun sekarang.”

Film Kulari ke Pantai (Riri Riza, 2018) menunjukkan cara termutakhir manusia modern menghadapi pantai. Pantai adalah tujuan setelah mengalami peristiwa di darat: berkendara dengan mobil, makan kuliner khas setempat, mampir homestay, menyusuri Bromo, bertengkar dengan sepupu. Sam, tokoh utama yang tumbuh di Rote, tampil sebagai anak yang tumbuh di sekitar pantai. Sam harus merampungkan tantangan bepergian dengan ibu dan Happy, sepupu paling menyebalkan, demi menampakkan kaki di pantai (lagi) bersama peselancar idola, Kailani Johnson. Seolah yang khas dari film (keluarga) Indonesia, rekonsiliasi hubungan-perasaan antaranggota keluarga akhirnya harus terjadi di pantai. 

Jadi tidak salah saat Rangga di film Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002) menempuh penemuan dan pencarian mental dengan cara membikin puisi gabut dan melo ihwal pantai. Kapan-kapan Rangga harus belajar bahwa ke pantai itu bertamasya agar hati riang dan pemerintah pun senang.


Setyaningsih, kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s