Matematika dan Matilda

Taci

MATEMATIKA sering menjadi salah satu pelajaran yang paling dibenci. Orang-orang seperti memiliki dendam kesumat terhadap matematika. Seakan-akan matematika sebuah hal yang paling menjijikkan, yang pernah ada dalam daftar pelajaran. Kalau ada anak yang pintar matematika akan dianggap jenius atau malah dijauhi teman-temannya karena tidak “selevel” dengan mereka. 

Kenapa matematika harus begitu rumit jika sebenarnya matematika ada di sekitarmu? Seperti ibu berbelanja, biasanya mereka pandai menghitung uang kembalian dengan tepat. Waktu kita kecil mungkin ibu sering menyuruh kita membelanjakan sesuatu. Lalu, hal yang paling menyenangkan, biasanya uang kembalian itu boleh kita pakai atau kita tabung. Dengan semangat, kita menghitung terlebih dahulu.

Barangkali kamu tahu Matilda. Tokoh dalam salah satu buku yang ditulis Roald Dahl, judulnya Matilda. Ia adalah anak yang jenius. Ia sudah pandai membaca pada usianya yang ketiga, sudah membaca buku buku gubahan para penulis terkenal pada usianya yang 5 tahun. 

Otaknya untuk matematika sangat cerdas. Ia bisa mengalikan, membagi, menambah, dan mengurangi, angka berapa saja. Otaknya bekerja seperti kalkulator. Ia berdebat dengan ayahnya karena ia “terlalu” pintar. Ayahnya seorang penjual mobil bekas, sedang menyuruh kakak Matilda untuk menghitung total untungnya hari itu. Matilda menjawab dengan cepat dan tepat. Namun, ayahnya menuduhnya curang! Ia pasti sudah mengintip catatan milik ayahnya. Mereka berdebat panjang tentang ini. Ayahnya tidak percaya Matilda kecil bisa menghitung sangat cepat. 

Pada suatu hari, guru TK-nya memberitahu orangtuanya bahwa ia terlampau terlalu cerdas bagaikan kalkulator. Ibunya menjawab: “Bah! Apa gunanya pandai berhitung kalau sudah ada yang namanya kalkulator.” Barangkali kamu merasa kesal pada komentar ibu ini, begitu pun aku. Namun, setelah kupikir-pikir, apa gunanya manusia jika hanya seperti kalkulator? Kenapa ia tidak belajar hal yang lebih cerdas dari benda kecil itu? Kalkulator hanya bisa menghitung dengan satu cara, cara yang sudah di “beritahukan” kepadanya. 

Manusia, bisa menggunakan cara apa saja. Hebatnya, manusia bisa mencari tahu bagaimana cara itu bekerja, atau menemukan cara baru untuk mengerjakan soal tersebut. 


Taci, pemikir dan penikmat tawa, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s