Terceritakan Pohon

Happy Budi

KALAU ingin mengetahui jenis pepohonan yang jamak pernah tumbuh di Indonesia, barangkali cocok membaca gubahan Lesik Keti Ara (L.K. Ara) berjudul Pohon-Pohon Sahabat Kita. Walaupun terkesan sebagai buku dendrologi (ilmu tentang pohon), jangan salah sangka, oleh penulisnya, disebut sebagai sajak anak-anak. 

Buku bersampul ungu yang kumiliki ini merupakan cetakan ketujuh yang dicetak ulang pada 2006, sejak pertama dicetak Balai Pustaka pada 1983. Jadi bisa dikatakan, buku puisi ini cukup bertahan lama melintasi zaman.

Bahasanya cenderung apa adanya. Nyaris tidak ada “kembangan” atau variasi. Isinya menggambarkan morfologi tumbuhan yang lalu dijadikan puisi. Memang cocok untuk anak-anak, persis seperti yang diharapkan penerbitnya melalui kata pengantar: “Bahasa yang dipergunakan sederhana dan mudah dimengerti”. Tapi kalau boleh kukatakan, hal ini tentu akan mudah dimengerti bagi anak-anak yang telah berelasi membangun pengetahuan dengan aneka pohon ini akan “lebih cocok dan mudah tertarik”.

Kuujicobakan buku sajak ini kepada kedua anakku. Si Sulung bilang jika tanaman-tanaman yang ada di sana serasa sedang berbicara mengenai dirinya dan manfaatnya. Kalau Si Bungsu hanya melihat-lihat sepintas dan membalik halamannya dengan cepat, tanda kalau dia belum berelasi dengan pengetahuan yang ada di sana.  Sungguh, si kata pengantar kembali tepat: “Pohon-pohon itu mungkin telah dikenal oleh anak-anak meskipun belum secara akrab.”.

Tapi tidak apa-apa, justru buku puisi ini menunjukkan kegunaannya. Dari 20 kisah pohon, hanya lima saja yang betul-betul kukenali pohonnya. Lainnya pernah tahu buahnya tapi tak tahu penampakan pohonnya. Atau, ya, memang sama sekali tidak paham jika ada nama pohon yang disebutkan di sana.

Sebutlah petai, biji-biji hijau yang berbau khas. Enak sekali dimakan mentah atau digoreng dulu dengan kulitnya lalu baru dikupas dan dipasangkan dengan sambal buatan rumah, disantap dengan nasi pulen panas-panas. Aih-aih, kalau begini sih petai layak masuk daftar tumbuhan surga karena manfaatnya mampu membahagiakan manusia di dunia bahkan menjadi pohon pelindung terutama di kebun-kebun. Mari kita simak, sepenggal sajak “Petai”.

namaku Petai

tubuhku semampai

orang senang buahku

orang gemar daunku

bunga mudaku

enak untuk lalab

Jujur saja, walau kutahu seperti apa penampilan pohon atau untaian buahnya bahkan mengagumi kelezatan bijinya, ternyata aku tak pernah tahu jika daun dan bunga mudanya bisa dimakan sebagai lalapan. Sungguh puisi yang berguna!

Namun kuheran, ada penulis yang sastrawan cum pegiat teater ini meneguhkan pohon sebagai sahabat manusia. Tapi tentu ada alasannya. Nyatanya, hidup kita tak bisa jauh-jauh dari pohon. Tanpa pohon, seperti yang masih segar dalam ingatan, banjir bandang yang melanda Kota Batu yang notabene dataran tinggi dan air yang tak lagi diikat oleh akar pohon, merangsak di sepanjang DAS (daerah aliran sungai) Brantas hingga di Kota Malang. 

Pohon-pohon di atas sana telah berbuah hotel, resort, atau lahan pertanian. Jadi kalau sampai kini kita tak lagi mengenal pohon-pohon yang ada di buku ini, apalagi anak cucu kita, rasanya kita benar-benar telah putus hubungan sebagai sahabat dengan pepohonan.


Happy Budi, Ibu tergabung di Jemaah Selasa, tinggal di Malan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s