Bunda Maria dan Biografi Ibu

Imaniar Christy

AKU selalu iri melihat temanku yang dipeluk ibunya. Sebetulnya, mamaku selalu ingin memelukku tapi aku menepisnya. Perasaan itu tumbuh seiring keyakinanku bahwa aku anak papa. Deklarasi itu selalu aku ucapkan di depan keluarga besar atau di depan setiap orang yang bilang wajahku mirip mama. Pemikiran itu baru berubah saat aku menjadi ibu. Terkutuklah aku!

Sebelum aku resmi menjadi ibu, aku pernah bertengkar hebat dengan mamaku. Aku memiliki pacar seorang muslim dan hubungan kami ditentang mama karena aku Kristen. Tapi kalau aku ingat-ingat lagi, aku rasa bukan hanya karena agama mama menentang hubunganku dengan pacarku itu. 

Aku ingat dari kecil mama memang selalu melarang apapun yang aku inginkan. Tidak boleh bermain dengan anak laki-laki, memanjat pohon, main kotor-kotor, hujan-hujanan, sepedaan sampai jauh. Singkat kata, sebetulnya ia ingin aku di rumah. Sebaliknya, keinginannya adalah kewajibanku. Menyisir rambut, cantik, kalem! Itu yang ia inginkan.

Tak tahan di rumah dan dikekang, aku lebih suka sekolah. Dari kecil, aku merengek ingin sekolah. Usia 5 tahun aku sudah lulus TK dan ditolak untuk mengulang belajar di TK meskipun mamaku terus memohon pada kepala sekolah. 

Terpaksa orangtuaku memasukkan aku di SD. Aku sangat ingat peristiwa bagaimana aku mencari SD yang mau menerimaku. Perbandingannya adalah saat ini aku sudah punya anak kelas 2 SD. Bagaimana aku bisa melupakan peristiwa itu? Sebab, itu berlangsung beberapa hari. Aku dites membaca, menulis, dan menyanyi oleh guru yang berbeda, lebih dari 5 sekolah. Semuanya menolakku meskipun aku bisa dalam tes. Aturan waktu itu, sekolah negeri hanya menerima siswa dengan usia 6 tahun. Di Pati, sekolah swasta jarang.

Aku dites membaca, menulis, dan menyanyi oleh guru yang berbeda, lebih dari 5 sekolah. Semuanya menolakku meskipun aku bisa dalam tes.

Keputusasaan orangtuaku dan kegigihanku merengek ingin sekolah membawaku menjadi siswa di SD Kanisius. Satu-satunya sekolah yang mau menerimaku. Ya, aku yang Kristen bersekolah di SD Katolik. Haleluya!

Di SD Kanisius membuatku belajar sedari kecil tentang perbedaan kelas sosial, rasisme, dan intoleransi agama. Sama seperti sekolah swasta lain yang memang mengutamakan pendidikan agama di dalamnya, pasti ada kesepakatan dengan orangtua yang menyekolahkan anaknya di sana: anak mereka akan dididik sesuai agama yang digunakan sekolah. Jadi, aku yang Kristen dan beberapa temanku yang Islam harus mengikuti tata cara Katolik. Teman-temanku mayoritas anak orang kaya karena orangtua mereka punya toko-toko yang laris di Pati dan mayoritas keturunan Tionghoa. 

Awal aku menjadi siswa kelas 1, yang aku ingat aku tidak punya teman. Mereka seperti sudah saling mengenal bahkan di hari pertama sekolah. Ada yang sudah mengenal kerena satu gereja, satu TK Kanisius, toko mereka bersebelahan, tinggal di kawasan Pecinan, atau orangtua mereka memiliki usaha di bidang yang sama. Sementara, aku yang lulusan TK Bhayangkari, berbeda gereja, dan tinggal di perumnas tidak mengenal satu pun dari mereka. Bahkan, aku minder untuk berusaha membaur dengan mereka. 

Peralatan yang mereka bawa ke sekolah sangat bagus dan mereka terlihat bersinar di mataku. Aku kerap malu dengan sepatu, tas, dan tempat pensil yang aku pakai meskipun sama-sama baru. Jelas tidak sekeren dengan model sepatu, tas, atau tempat pensil mereka! Aku pernah merengek ke orangtua untuk membeli seperti yang dimiliki teman-temanku. Tapi apadaya, orangtuaku hanya PNS biasa yang gajinya hanya untuk bertahan membayar berbagai macam cicilan. Kira-kira begitu. Aku bertahan dan lama-lama teman-temanku melihatku juga. Aku yang senang bercerita dan bersemangat di kelas membuatku diakui juga untuk bisa berteman dengan mereka meskipun aku tidak kaya, Jawa, dan Kristen. 

Aku bertahan dan lama-lama teman-temanku melihatku juga. Aku yang senang bercerita dan bersemangat di kelas membuatku diakui juga untuk bisa berteman dengan mereka meskipun aku tidak kaya, Jawa, dan Kristen.

Guru-guru di Kanisus sangat ramah. Mereka ramah karena meneladani Kristus. Aku meyakini itu hingga kini. Guru di kelas kerap bercerita tentang orang-orang suci (Santo dan Santa). Kisah mereka luar biasa, dan kemudian teman-temanku bilang kelak ingin dibaptis dewasa dengan nama-nama itu. Sampai di rumah, aku bilang pada orangtuaku bila aku juga ingin menambahkan nama Cecilia di depan namaku jika aku menerima baptis saat aku dewasa. Tapi, kata orangtuaku, di Kristen tidak ada nama baptis yang ditambahkan. Santa Cecilia, seorang yang menjaga kesucian tubuhnya dan martir yang luar biasa keimanannya. Memang kalau aku pikirkan sekarang, jelas aku tidak layak dengan nama itu.

Tumbuh di SD Kanisus membuatku merasa dekat dengan ibu. Aku memanggilnya Bunda Maria. Berbeda dengan mama, Bunda Maria selalu menenangkan. Di Kristen, aku hanya mengenalnya sebagai Maria ibu Yesus. Di Katolik, aku bisa menyebut Bunda, lebih dekat rasanya. Setiap pulang sekolah, kami selalu diajak berdoa Salam Maria. Doa Salam Maria hanya ada di Katolik dan aku sangat menyukai doa itu: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”

Aku betah berlama-lama menatap patung Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus. Raut wajahnya begitu damai, menenangkan, dan membuatku ingin ada didekapannya. Aku begitu terobsesi dengan Bunda Maria. Aku ingin menjadi anaknya yang paling baik dan penurut. Tetapi, aku kerap gagal dan membuat mamaku marah akan semua sikapku. Aku berpikir jika Bunda Maria dapat berbicara langsung padaku apakah ia akan marah seperti mamaku jika aku salah? Pembacaan Lukas 2:19 yang aku dengar saat di gereja melegakanku: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” Aku yakin tidak akan mendapatkan omelan dari Bunda Maria atas semua sikapku.      

Sebelum aku resmi menikah dan menjadi ibu, pertengkaran hebat dengan mamaku membawa pada ingatan raut wajah patung Bunda Maria yang ada di SD. Aku berusaha mencari ketenangan di balik ingatanku itu saat aku berhadapan dengan wajah mamaku yang marah: tahu hubunganku dengan pacarku yang berbeda agama itu masih terus berlanjut. Mamaku marah sambil mengucapkan doa “serapah”. Ia mendoakan aku benar-benar menikah dan merasakan sulitnya perbedaan agama dalam pernikahan. Aku diam tak membantah. Mama lalu mengakhirnya dengan doa, semoga anakku memiliki sifat yang sama sepertiku supaya aku tahu rasanya menjadi dirinya. Duh, Bunda Maria, doakanlah aku yang berdosa ini. Aku anggap doa mama menjadi restu untuk langkahku menjadi istri dan ibu.


Imaniar Christy, penulis tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s