Madu (Tak) Selalu Manis

Indri K

TERLIHAT di Jawa Pos, 6 September 2021, sebuah foto pembudi daya lebah sedang mengambil sarang madu yang dihasilkan lebah apis cerana. Di bawah foto, tertulis huruf tebal:  “Belum Bisa Penuhi Pasar Dalam Negeri”. Keterangan  hanya sepotong, memuat data dari Asosiasi Perlebahan Indonesia: permintaan madu tanah air mencakup 150 ribu ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 50% masih dipasok dari luar negeri.  

Data membuat kaget melihat banyaknya madu yang dibutuhkan rakyat Indonesia. Cairan manis lengket dan pliket  itu dicari banyak orang, entah suka atau butuh. Indonesia belum sanggup mencukupi permintaan pasar, penyedia madu masih perlu membeli 75 ribu ton madu dari negara lain. 

Kebiasaan mengonsumsi madu dari lebah sudah ada sejak dulu kala. Madu ditemui dalam kitab-kitab suci dan kisah sejarah. Rasa manis tak sengaja ditemukan, manis itu nikmat, membuat lidah tergoda dan menggugah selera. Manusia  saat itu jelas belum berkutat dengan penemuan tebu dan gula. Dunia masih dikuasai manisnya madu. Manusia minum madu bukan sekedar rasa manis, dia juga berharap agar tubuh terhindar dari penyakit. Madu bukan minuman pokok, tapi menjadi kelatahan bagi penyuka manis dan merindukan sehat. 

Bicara madu, berarti bicara lebah. Dalam buku berjudul Lebah Paman Wawan (1977) garapan Darmawan Tjokrokusumo, kita dapat membaca kisah para peternak lebah.  Seekor lebah harus terbang sejauh 2 km dari sarangnya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi bolak balik pulang pergi, demi menghasilkan beberapa tetes madu.  Umur mereka hanya sekitar 10 minggu.  Madu baru bisa dipanen setelah 3-4 bulan.  

Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya koloni lebah yang harus bekerja dan berkorban demi mengisi sebotol madu bagi manusia. Keadilan tidak berpihak pada lebah. Mereka yang bekerja rekoso, manusia tinggal enak-enakan menuai dan menikmati. Lamanya proses koloni lebah menghasilkan madu menjadikan keterbatasan madu yang dihasilkan membuat tingginya harga madu. Agar lebih terjangkau,  madu dijual dalam bentuk kemasan-kemasan kecil.  

Keadilan tidak berpihak pada lebah. Mereka yang bekerja rekoso, manusia tinggal enak-enakan menuai dan menikmati. Lamanya proses koloni lebah menghasilkan madu menjadikan keterbatasan madu yang dihasilkan membuat tingginya harga madu.

Keragaman cara menikmati madu tergantung kebutuhan. Ada yang suka mencampurnya dengan air, teh hangat atau susu hangat. Ada yang mengoleskan pada roti sebagai sarapan atau cemilan. Ada yang suka menyantap langsung dari suapan sendok. Ada yang lebih suka mengemut langsung dari bungkusnya,  disesap-sesap sampai habis. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai tombo akibat pahitnya jamu. 

Kita melihat di majalah Sarinah, 23 November-6 Desember 1987, sebuah iklan jamu tapi menawarkan madu: “Apa pun jamunya… pasti lebih nikmat, lebih berkhasiat dengan Madu Rasa.” Dilampiri gambar-gambar kemasan madu disandingkan dengan cangkir berisi jamu adukan pegel linu, sehat wanita, sehat pria, terlambat bulan hingga jamu remaja. 

Mengherankan, pada kemasan madu juga tertulis logo “jamu”. Kita tidak mengenal madu sebagai jamu. Keduanya jelas  jauh berbeda. Jamu itu pahit dan madu itu manis. Mungkin karena perusahaan jamu yang memproduksi madu, maka semua disamaratakan, menjadikan madu sebagai keluarga jamu.  

Orang minum jamu takut merasakan pahit meski pahitnya jamu tidak sepahit beban hidup. Madu dijadikan penyelimur dan penawar kepahitan.  Lewat iklan, pembaca memikirkan minum jamu tidak takut pahit lagi dan tetap sehat jika menambahkan madu sebagai campuran pelengkap. 

Melekatnya madu pada benak manusia, tidak hanya sebagai konsumsi, tapi juga meramaikan dunia asmara. Kita akrab dengan istilah honey moon yang dibahasa Indonesiakan “bulan madu”. Sebuah istilah yang ditujukan pada pasangan yang baru menikah supaya membangun keintiman di bulan-bulan awal pernikahan. Bulan madu identik dengan melancong berdua ke suatu tempat yang jauh dari hingar bingar. Menjadikan momen berdua sebagai ajang bersenang-senang, mengenal satu sama lain agar hubungan lebih lengket dan manis  bagaikan madu. Meski mungkin sebagian pasangan justru ada yang mengalami malapetaka saat berbulan madu hingga menyanyikan lagu “Madu dan Racun” seperti dibawakan Arie Wibowo. Bertanya-tanya, madukah atau racunkah yang disimpan oleh pasangannya. Menikah mengharapkan manisnya madu, ternyata getirnya racun yang diterima. 

Para wanita setelah menikah resah jika mendengar “madu”.  Ah, mereka tidak ingin hidup dimadu, tidak ingin diduakan!  “Permaduan” mendatangkan mimpi buruk bagi mereka. Terlalu percaya janji semanis madu hanya mendatangkan nasib sepahit racun.


Indri K., penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s