Sekilas Mandi

Anggrahenny Putri

TAK setiap hari harus berkeramas. Cukuplah sehari sekali badan diguyur air seluruhnya. Dan tugas menyabun merata sebadan hanya sekali waktu saja. Mandi dianggap tak penting. Bukan hal prinsip yang menjadi kewajiban sehari-hari. Yang prinsip adalah menjaga kebersihan. Badan tak begitu berkeringat, seharian dalam ruangan berpendingin, baju masih ringan dikenakan tak keberatan keringat. Cuaca di luar rumah sedang berpihak pada tubuh. Matahari seharian malu-malu. Langit mengabu sepanjang hari, mengandung hujan. Cuaca dan kebiasaan membuat alasan tak mandi menguat. Sehari sekali sekadar terlihat pantas di hadapan penduduk rumah tangga. Badan senantiasa terasa bersih.

Berbeda dengan kebiasaan yang menguat, Joan Tanamal, penyanyi lagu anak yang lagunya selalu dinyanyikan bapak dan ibu dahulu agar anak bersemangat mandi. Joan Tanamal suka mandi. Lagunya yang berjudul “Mandi Pagi” memiliki lirik: Mandi pagi kalau biasa/ sejuk dingin tidak terasa/ sore hari kalau tak mandi/ badan lesu main tak mau. Masalah mandi pagi bukan pada dinginnya air dan udara tapi pada masalah bangun pagi yang telanjur kesiangan, waktu yang serba tergesa-gesa dan tak terbiasa saja. Sedangkan masalah pada mandi sore justru ada pada keasikan bermain yang enggan terganggu. 

Perkara mandi yang menyulitkan ibu dan anak. Setiap hari ibu berkutat pada omelan pada anak untuk segera mandi. Tak pernah bosan walau ia lelah hatinya, tapi tanggung jawab sebagai ibu penjaga kebersihan harus ia tunaikan setiap hari. Anakpun juga tak pernah bosan menunda perintah ibu, memancing omelan keluar. Telinga pengang menjadi kebal akan omelan. Ibu hanya mengomel tak sepenuhnya mengawal perintah. Anak mengenali celah tempat ia akan berdalih. 

“Mandi!”

“Sabunan, gosok gigi dan keramas biar rambutmu tak apek!”

Begitulah setiap hari ibu berkata. Padahal keramas tak perlu setiap hari menurut anak. Akan banyak air yang digunakan jika berkeramas. Padahal, air lebih baik digunakan untuk bermain saat sedang mandi. Ibu pun tak tiap hari keramas menggunakan shampo. Ibu sibuk mengerjakan ini dan itu. Kecepatannya mengerjakan semua yang diperlukan anak dan suami sehingga membuatnya lupa berkaca dan mematut diri. Rambutnya berantakan luput disisir, tergerai hanya saat selesai berkeramas. Setelah kering kembali ia jepit rambut. Meredakan gerah di depan kompor. 

Ibu punya solusi! Menurut ibu, iklan shampo itu membantu masalahnya yang jarang bersisir. Iklan shampo dengan pameran rambut bintangnya yang hitam, berkilat dan tambah bersih. Sejak dahulu, begitulah iklan shampo untuk ibu keramas. Seperti pada iklan Sunslik yang termuat dalam majalah Sarinah, 26 September 1988. Tampak perempuan pada eranya, berambut mengembang dan hitam berkilat-kilat. Dengan gamblang menggunakan huruf kapital, Sunslik berpesan: “MILIKI KEMILAU ALAMI…”. Ibu mempercayakan kemilaunya pada shampo. Setelah berkeramas, ia akan berkilau lebih menawan. Padahal, hatinya penuh kemilau kesabaran mengurusi mandi dan mandi. 

Kemilau hati ibu tersadari saat anak jauh mengejar impian. Melalui kerinduan pada rasa nyaman setelah mandi. Ibu jauh menjadi lebih berharga, ibu dekat tak dipedulikan. Memerlukan asahan lewat kesalahan sebagai orangtua yang terus berlangsung agar kemilaunya sempurna. Alami tentu saja karena melewati kesedihan dan kekhawatiran pada anaknya. Yang selalu ia lakukan setiap hari berharap bermuara pada masa depan dan kebagiaan anak. Kemilau ada pada setiap bagian ibu. Tersedia begitu saja. Imbalan dari Pencipta untuk pengorbanan selamanya.

Masih terpaku pada yang menempel di tubuh yang terlihat. Melihat baju tak keruan, rambut tak tersisir sudah membuat orang enggan mendekat. Menilai dengan mata tapi dimasukkan ke hati. Terlebih, penilaian diri juga ditularkan pada kawan lain untuk bersekutu. Begitu tampak karya, orang semacam tadi yang terkaget-kaget tak percaya. Penampil memang membutuhkan kekuatan tubuhnya berbicara pada khalayak tanpa bersuara. Citra dalam diri tercipta pada kemasan. Bobot isi pada dalam diri bukan menjadi hal utama. Penilaian orang lain menjadi keharusan. Kemudian gaya hidup menjadi naik kelas, walau kantong tetap kempis seperti biasa. Berlomba mendapatkan apresiasi dari sekitar, menjadi paling ulung. Lelahnya tak terkira, mengejar kenikmatan dipuja-puji. Secuplik hati masih berontak, namun kenyamanan terlalu molek untuk ditinggalkan. 

Sedemikan banyak yang berpendapat serupa. Sebagian lagi berbalik pada pendulum yang berbeda. Hidup pada ayunan paling kanan dan kiri. Saling silang pendapat pada tujuannya masing-masing. Seperti mandi yang tergambarkan pada ibu dan anak. Letak tujuan mandi tak jelas. Butuh keseimbangan agar bijak menentukan tujuan mandi agar tak sekadar penampilan. Menaati aturan mandi agar badan yang bersih mendukung jiwa yang pulih. Persoalan mandi yang terencana dan terlaksana bagi kebaikan jiwa dan raga.


Anggrahenny Putri, penulis tinggal di Semarang 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s