Oleh Sebab Itu, Bertamu…

Yulia Loekito

Tanpa seorang pun tamu yang datang, Ongga merasa terputus dari kehidupan manusia lain. Dalam satu hal memang dia merasa senang dan bebas tanpa ada tamu yangmengganggu, tidak ada lagi beban pikiran atau perasaan yang ditanggung. Tapi, pada sisi lain, keinginan-keinginan untuk mengetahui segalanya tak dapat lagi terpenuhi. (Wisran Hadi, Tamu, 1996)

TOK TOK TOK. Kulonuwun. Permisi. 

Pintu-pintu rumah sering diketuk, salam sering diucapkan dan ditanggapi dengan gembira, gerutu, bahkan marah atau sedih. Rumah-rumah dulu banyak tidak berpagar. Kalaupun berpagar, pagar tanaman. Perjumpaan-perjumpaan terjadi di dalam rumah. Perjumpaan dengan tamu-tamu. Tamu bisa teman, keluarga, rekan kerja, perangkat desa, atau tukang kredit. Orang-orang datang saling berkunjung dan bertamu, belum saling menelepon walaupun sekali waktu berkirim surat atau telegram.

Dalam ingatan kanak-kanakku, ketika tamu datang, seisi rumah bergerak. Sebagian menemui tamu, sebagian menyiapkan suguhan. Minuman hangat paling sering disuguhkan, teh atau kopi. Tentu saja beserta aturan-aturannya. Ujung sendok tak boleh terdengar berdenting menyentuh gelas kaca saat mempersiapkan minuman. Katanya, kalau tamu mendengarnya, mereka akan tersinggung seolah diusir supaya segera pulang. Ora ilok! Kata orang tua begitu. 

Tamu-tamu datang membawa berita, pesan, bisa juga persoalan. Orang-orang berinteraksi, bersosialisasi, mencari jalan keluar, menjaga hubungan dalam kegiatan bertamu. Namun, zaman bergulir silih berganti. Masa kini, dolan itu biasanya bukan dolan ke rumah teman, tapi janjian di suatu tempat. Restoran atau kafe, bahkan tempat wisata bisa jadi tempat bertemu. Walau sama-sama bertemu tapi peristiwa bukanlah bertamu. Bertamu berarti ada tuan rumah dan tamu. Ada melayani dan dilayani. Ada tepa slira atau sebaliknya. Ada proses yang berbeda dan makna yang berbeda dengan peristiwa-peristiwa perjumpaan yang terjadi hari ini. 

Tokoh Ongga dalam buku Tamu (1996) yang dikisahkan Wisran Hadi mengalami segunung peristiwa menerima tamu. Tamu-tamu adalah kaum keluarganya, sebab Ongga seharusnya adalah kepala kaum adat suku Guci di Minang. Ongga memilih untuk tidak menerima waris menjadi kepala kaum adat demi menghindari berbagai macam persoalan pelik dalam kaumnya. Namun, pilihan Ongga tak membuatnya lepas dari persoalan-persoalan—dari perebutan tanah pusaka, perceraian, pembunuhan, sampai hal-hal gaib—silih berganti bertandang ke rumah Ongga lewat para tamu. Ongga tetap jadi tokoh yang dituakan. 

Peristiwa-peristiwa tamu dan bertamu dalam cerita mengaduk emosi dan penasaran. Pelik, ruwet, dan misterius. Puncaknya, ketika Said—adik Ongga—berhasil membujuk dan meyakinkan kaum keluarga mereka untuk berhenti “mengganggu” Ongga demi pertolongan menyelesaikan berbagai macam persoalan mereka, Ongga justru merasa sepi dan hampa. Wah! Bukankah itu yang diinginkan Ongga saat menolak jadi penerus kepala kaum? Justru ketika keinginannya terkabul, saat itulah ia menyadari betapa ia merindukan hubungan dengan manusia lain walau di dalamnya banyak kerusuhan, caci maki, perselisihan, dan perdebatan. 

Oh! Kita kembali ke hari ini. Sungguhkah kita benar-benar hidup? Sungguhkah kita benar-benar berhubungan dengan manusia-manusia lain? Bagaimana rasanya hidup kita? Berisikah? Hampakah? Sepi? Ramai? Apakah ketukan notifikasi dari berbagai aplikasi di telepon pintar bisa menggantikan ketukan di pintu rumah? Apakah perjumpaan-perjumpaan di dunia maya dapat menggantikan salam, pelukan, tatapan mata, intonasi suara dan ekspresi wajah? Apakah kita menyadari ada hal-hal yang hilang? Atau tidak menyadari apapun? 

Apakah ketukan notifikasi dari berbagai aplikasi di telepon pintar bisa menggantikan ketukan di pintu rumah? Apakah perjumpaan-perjumpaan di dunia maya dapat menggantikan salam, pelukan, atatap mata, intonasi suara dan ekspresi wajah? Apakah kita menyadari ada hal-hal yang hilang? Atau tidak menyadari apapun?

Kepekaan, kejujuran, kepolosan barangkali banyak berubah sejak peristiwa-peristiwa bertamu jadi semakin jarang, digantikan kecurigaan dan manipulasi. Manusia membutuhkan peristiwa-peristiwa itu dalam perjalanan hidupnya, demi menemukan dan menyadari bermacam hal seperti pengendalian diri, tepa slira, atau sekedar menjadi manusia yang manusiawi. 

Peristiwa bertamu membentuk sejarah dan pola hidup masyarakat, menjadi penanda pula tentang bagaimana manusia berkomunikasi, bernegosiasi. Kita buka novel Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (2015) gubahan Y.B. Mangunwijaya. Kita menemukan: “Loema-Dara yang mengintip mereka dari dapur melihat rombongan itu datang dari galangan perahu, dan lekas-lekas memanggil dua anaknya membersihkan o halu. Tikar-tikar hias lekas-lekas diambilnya dari ruang dalam dan sebelum para tamu itu sampai pada jarak sepuluh langkah dari o halu, ruang serambi gua sudah ditinggal serba bersih dan cukup tidak memalukan. Telah disiapkan kotak-kotak sirihnya, sedangkan guci berisi arak o daluku telah diperiksa juga dan dipilih yang enak.” O halu  adalah bahasa Tobelo yang digunakan oleh suku Tobelo tinggal di Halmahera, kepulauan Maluku. Latar cerita akhir 1500-an sampai awal 1600-an. O halu berarti bangsal seperti pendapa terbuka, tetapi panjang, pusat pertemuan desa/kampung, tempat orang-orang Tobelo Kao makan petang bersama. Ruang terbaca mirip pendapa di Jawa. Manusia itu memang hidup berkelompok butuh tempat untuk berinteraksi. O halu juga jadi tempat untuk menjamu tamu. Kehadiran tamu membuat tuan rumah membuat persiapan-persiapan: membersihkan tempat, menyiapkan suguhan. Kelak, tamu juga akan menyampaikan umpan balik pada tuan rumah tentang bagaimana mereka diterima dan diperlakukan. Peristiwa-peristiwa disaksikan anak-anak dari generasi berikutnya lalu dicontoh, diperbaiki, dimodifikasi, dan diwarisi. 

Peristiwa bertamu juga bisa mengundang celetuk, celoteh, komentar yang diikuti dengan obrolan. Kita menemukannya pada sketsa Umar Kayam dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul (1995). Suatu sore, ada tamu nyentrik datang ke rumah Pak Ageng. Saking nyentriknya, Mr. Rigen, sang rewang tak sanggup menahan diri untuk tidak berceloteh berkomentar. Tamu adalah Pakde Sosro dari tokoh Ageng. Kita simak celoteh Mr. Rigen: “’Lho, penampilan dan sikapnya itu, to, Pak. Datang-datang salam keras-keras. Rahayu, rahayu. Waras, waras. Lha, kan bengong saya, Pak. Terus bajunya itu hem dikeluarkan, kedodoran, ditulisi Ki Urip Prasodjo. Katanya beliau masih pakde Bapak. Langsung mundhut dahar. Karena melihat lauknya cuma oseng-oseng kacang, tempe, sama sayur asem, beliau mundhut diceplokkan telur dua biji ….’” 

Komentar seperti dicelotehkan Mr. Rigen dalam sketsa tentu mendatangkan obrolan-obrolan, penjelasan, analisa-analisa, dan tentu saja cerita. Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa itulah yang merekatkan hubungan antarmanusia, keluarga, teman, atau tetangga. Dari obrolan kita juga mengenal watak, pemaknaan dan serba-serbi hidup untuk ditiru, dicontoh, atau malah dihindari. 

Tokoh Ongga menemukan semuanya dari berbagai macam peristiwa bersama tamu-tamunya. Bersama Reno, istrinya, setiap malam sebelum tidur ia punya kesempatan mengobrolkannya, mencari jalan keluar, mencari akar penyebab masalah, mencari penerimaan diri. Semua terjadi berkat kedatangan tamu-tamu. Ketika akhirnya tamu-tamu berhenti berkunjung, Reno sang istri memberi saran dengan mesra, “’Jika tak ada tamu yang datang, kenapa Ongga tak bertamu ke rumah-Nya.’” Kedatangan atau nihilnya tamu ternyata juga bisa jadi pengingat akan Tuhan.


Yulia Loekito, penulis mengikut di Kaum Senin, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s