Terpikat dan Terwujud

Bandung Mawardi

IA terpikat filsafat. Pikiran lekas mengembara dan “nakal”. Ia telah mengerti dan paham Aristoteles. Hari-hari di rumah digunakan untuk membuat lelucon murahan dan mencipta penghiburan dengan filsafat. Semula, kehadiran di filsafat adalah pelajaran untuk laki-laki, bukan perempuan. Ia terpikat saja, terseret jauh.

Bocah perempuan bernama Alesandra Gilani mudah mengucap nama-nama pemikir. Ia mengingat sekian pemikiran untuk dikagumi. Tokoh-tokoh dari masa silam berdatangan. Perkenalan-perkenalan di rumah, belum di sekolah. Si bocah memang mengerti perhitungan nasib: tak mudah direstui bersekolah atau mengikuti petunjuk-petunjuk diberikan para filosof dalam mengerti dunia. Ia di rumah saja berdalih kepantasan akibat kolot-kolot tersisa di peradaban Barat.

Ia masih beruntung. Bapak mencari nafkah dari membuat duplikat atau salinan buku-buku penting. Di Italia, buku-buku masih terbatas. Orang-orang memerlukan bacaan. Institusi-institusi menginginkan koleksi bermutu dan terbaik. Di rumah, bapak memiliki ruang dalam membuat salinan buku-buku beragam tema: terpenting dan menghasilkan rezeki. Di situ, ada pekerjaan-pekerjaan sulit dan berisiko dalam menjadikan salinan tampak terhormat. Otoritas dan uang menentukan kehadiran buku dan pembuatan salinan. Tata cara kerja berkaitan dengan universitas, gereja, pemerintah, keluarga, dan lain-lain.

Buku-buku atau salinan terbaca. Bocah itu bertumbuh dengan kata-kata dan pameran ilustrasi dalam buku. Ia makin mengerti tapi ingin melihat dan merasakan dunia di luar rumah. Ia mengikuti kakak (Nicco) berkuda dan mengembara di hutan agak jauh dari rumah. Petualangan berbeda dari rimba kata. “Tidak heran kau menganggap Aristoteles membosankan!” kata Alessandra kepada Nicco. Ketakjuban mewujud: “Mengapa harus membaca untuk belajar, saat seluruh dunia membetangkan keajaiban di kaki kita?” Ia terpikat pohon, binatang, air, tanah, batu, dan lain-lain. Di luar buku, dunia itu pesona.

Kita sedang menikmati cerita gubahan Barbara Quick berjudul A Golde Web (2011). Novel mencipta tawa ketimbang getir-getir sebagai drama. Kita tertawa atas tindakan-tindakan demi pengetahuan. Ikhtiar besar memiliki kepahaman kedokteran, terutama anatomi. Sejak bocah, Alessandra telanjur mengenali para ilmuwan dan memuja pengetahuan.

Di Eropa, para ilmuwan bermunculan saat dipengaruhi bacaan-bacaan diterjemahkan kalangan Arab. Kitab-kitab lama terbaca lagi melalui penerjemahan-penerjemahan. Alessandar berada dalam lakon gerakan ide dan buku-buku bersebaran di pelbagai negeri akibat misi besar penerjemahan. Para pendamba ilmu makin mengerti segala derita dan capaian. “Ilmuwan telah mengalami cukup penderitaan akibat pendirian kuat kosmopolitan mereka dan khalayak ramai secara perlahan-lahan telah belajar menjadi toleran terhadap mereka,” tulis H Margenau dan David Bergamini dalam buku berjudul Ilmuwan (1980). Pada suatu masa, ilmuwan dikutuk berdalih agama atau Tuhan. Ilmuwan pun ternantikan memiliki keajaiban-keajaiban setelah takdir-takdir dunia perlahan terbuka dan terbaca. 

Pada masa menjelang dewasa, Alessandra menjadi tanda seru bagi ibu (tiri). Ia tetap ingin dalam kasih bapak dan saudara-saudar. Keinginan makin jelas. Perintah untuk menikah diladeni dengan siasat pergi ke biara, kabur menuju Bologna. Di sana, ia bertaruh untuk studi kedokteran. Diri sebagai perempuan berubah penampilan menjadi lelaki. Barat masih kolot. Ia mengerti dan bermain risiko dengan “kelelakian” buatan demi ilmu dan penghindaran tanda seru dari keluarga.

Di Bologna, Alessandar berubah menjadi Sandro. Ia berkumpul dengan para mahasiswa dan menekuni buku-buku sulit. Ia tampil sebagai sosok pintar dengan misteri-misteri perlahan terkuak. Ia ingin berurusan dengan tubuh manusia. Di tangan ada pisau, ia membedah dan mempelajari beragam hal: kecil dan besar. Ia ingin mengerti anatomi dalam hari-hari studi kedokteran memerlukan duit, kekuatan, dan keberuntungan. 

Pada hari agak murung, Alessandra dalam sengketa tuduhan dan pengaharapan: “Peremuan diciptakan terakhir, setelah semua hewan dan Adam sendiri. Mengapa Tuhan melakukan itu jika Dia bermaksud menciptakan perempuan sebagai sosok yang lebih rendah? Jika memang begitu, mengapa Dia tidak menciptakan perempuan tepat setelah hewan-hewan dan sebelum Adam? Alessandra duduk di sana, dalam keremangan gereja, dikelilingi roh-roh mati yang terkubur. Dia tahu, dia harus melawan seluruh kekuatan di Bumi agar bisa mencapai cita-citanya dengan kemampuan dan ambisi yang Tuhan karuniakan kepadanya.” Pilihan studi kedokteran makin melawan kolot dan keberanian menjadikan Eropa bergolak oleh perempuan.

“Eropa pada pertengahan abad XIV merupakan benua dirundung keputusasaan,” tulis Russel V Lee dan Sarel Eimerl dalam buku berjudul Dokter (1982). Eropa ingin kemajuan dalam ilmu kedokteran. Eropa tak mau lagi menderita oleh wabah-wabah. Eropa ingin para dokter membawa kabar baik. Situasi itu menjadi studi kedokteran terlalu serius, memunculkan gagasan-gagasan besar di pusat-pusat kota dalam melawan pikiran-pikiran kolot bertema kesehatan dan keselamatan. 

Dokter menjadi sosok idaman selain mendapat kecaman-kecaman. Di buku berjudul Dokter, terbaca: “Pada abad XIX, waktu abad kedokteran ilmiah baru mulai, dokter khas waktu itu adalah dokter pribadi dalam arti ini. Ia mengobati pasien dari segala umur dan memperhatikan pasien itu dengan segala penderitaannya. Ia membantu persalinan, membetulkan tulang patah, mengobati gondong dan penyakit jantung, serta menjalankan operasi besar, misal pengambilan usus buntu. Ia menjadi sahabat dan penasihat.” Pada suatu masa, Alessandra bergerak di jalan berikhtiar kesembuhan manusia dan mengerti anatomi. Ia dalam dilema-dilema tapi mengerti takdir ditanggungkan dalam pengetahuan dan peran untuk dunia. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s