Negara dan Ruang Keluarga

Diaz Keumala H

ACI mungkin menjadi idiom “baru” pada masa itu. ACI merupakan akronim dari nama tiga anak: Amir, Cici, dan Ito. Alkisah, mereka bertiga pelajar SMP “Kota Kita”, sebuah kota yang letaknya tak jauh dari Jakarta. ACI jadi ikon kelompok pelajar sekolah itu. Lebih dari sekadar nama “geng”, ACI juga singkatan dari Aku Cinta Indonesia. Pemirsa televisi masa 1980-an akrab disuguhi wajah kekanakan para bintang serial ACI. Tayangannya ditunggu setiap sore oleh para anak dan remaja. Selepas pulang sekolah, berduyunlah mereka menghidupkan saluran TVRI di televisi berkonde di ruang keluarga maupun rumah tetangga. Gambar hitam putih yang bersemut pun tak jadi masalah, asal film serial favorit tersuguh depan mata.

Hanya ada satu cinta

Dengan bumbu rindu selalu

Hanya ada satu rindu

tanpa ragu, tanpa cemburu

Hanya ada satu cinta

Bukan tujuh, bukan seribu

Cinta kita, cinta bersama

Da da da da da

ACI

Aku Cinta Indonesia

A, bisa Amir

C, bisa Cici

I, bisa Ito

Tapi ACI

Aku Cinta Indonesia.

Suara milik Tonnie Danoe mengudara seiring film ACI mulai diputar di benda kotak bersuara. Anak-anak hafal betul lagu wajib ACI yang khas dengan nada cerianya tersebut. Segala sesuatu tentang ACI menjadi menarik. Begitupun dengan kehidupan para bintangnya. Pemeran Amir, Cici, dan Ito merambah jadi idola baru. Keseharian yang jadi sorotan pun sempat terekam dalam majalah Nova edisi 12 September 1985. Lembar 58 menyajikan tajuk “Bintang-bintang Film Seri ACI, Apa Saja Kesibukan Mereka?” 

Kala itu, Diah Ekowati yang berperan sebagai Cici tergopoh-gopoh ketika tahu akan diwawancara. Ia lekas mengganti seragam sekolahnya dengan celana jeans dan t-shirt warna kuning. Sikap dan penampilannya biasa, bahkan sangat sederhana selaiknya remaja umumnya. Begitupun dengan Agil Syahrial si pemeran Amir. Lingkup pergaulannya bersahaja. Pergi dan pulang sekolah dilaluinya dengan menaiki bus umum. Tas sekolah yang disandangnya setengah lusuh warnanya. Tapi, kini beberapa hal asing mulai muncul di keseharian Agil. Mulai dari dirinya yang setiap hari dikirimi 200 pucuk surat dari para penggemar, sampai sikapnya di sekolah yang tak lagi sama. 

“Terus terang saja, semenjak main film ini sikap saya di lingkungan sekolah dan di luar agak berubah. Saya harus menunjukkan sikap baik seperti di ACI. Mulanya memang menjadi beban, serba salah,” ucap Agil pada majalah Nova.

Amir, Cici, dan Ito jadi imajinasi sosok remaja ideal pada masanya. Karakter dalam peran diharapkan melekat juga dalam keseharian di dunia nyata. Bukan tanpa sebab ekspektasi itu timbul dari para penikmat film serial ACI. Dalam film dihadirkan sejumlah remaja dengan karakter yang berbeda-beda. Baik itu untuk diteladani atau tidak patut diteladani. Lewat pemeran utama Amir, Cici, dan Ito, mereka mewakilkan remaja bertabiat baik. Sedangkan pemeran pendukung seperti Wati dan Hengki mewakili remaja bertabiat buruk. Semua itu diramu dengan menyajikan celah-celah kehidupan siswa di sebuah SMP. Film jadi alat propaganda untuk memberikan informasi pendidikan yang baik versi pemerintah kepada anak dan remaja di seluruh tanah air.

Kita cerap dalam salah satu episode bertajuk Gatal-Gatal Tenar. Skenario ditulis oleh Djoko Lelono, kisah diawali dengan pertemuan Ito dan Utami yang sedang mencari kodok. Kodok terlepas karena kekagetan keduanya. Akhirnya, mereka harus mencari objek lain untuk diteliti agar tetap bisa mengikutsertakan diri dalam lomba karya ilmiah bagi remaja. Usahanya mendapat dukungan dari Amir dan Cici, tetapi dihadang oleh Wati dan Hengki. Keisengan demi keisengan dilakukan Wati dan Hengki. Mereka menaruh ulat bulu pada laci, hingga Utami kena gatal-gatal. Tetapi, kemalangannya justru mendatangkan ide bagi Utami. Makalahnya tentang “Mengapa Ulat Bulu Gatal” akhirnya mengantarkan Utami pada kemenangan. 

Seluk beluk dunia remaja ACI juga turut hadir dalam lembaran novel. Kita membaca novel seri ACI berjudul Sepeda Kayu (1986) gubahan Arswendo Atmowiloto. Cerita berpusat pada tokoh Sukron, si bocah yang memimpikan punya sepeda sejak SD. Kepapaan hidup membuatnya harus menahan rasa ingin memiliki sepeda. Ayahnya hanya tukang kayu, walau begitu hasil kerjanya sering dipuji langganan. Kemahiran ayah menurun pada Sukron. Sosok Sukron yang polos dan lugu membuat teman-temannya khawatir. Mereka risau kemahiran Sukron akan diperalat oleh Hengki untuk memenangkan lomba seni kriya. Salah paham pun terjadi, tetapi Amir dan kawan-kawan hadir sebagai penengah.

Tak jauh beda, setiap episode dalam film maupun seri dalam novel mengungkapkan kisahnya sendiri. Cerita selalu berganti tiap episode atau serinya. Misalnya dalam film ACI berjudul “Jack Agung”, kisah berfokus pada tokoh Jack si preman di depan sekolah Amir, Cici, dan Ito yang kehadirannya selalu menggangu warga sekolah. Jack dengan tabiat buruknya kerap memalak siswa yang lewat. Kehadiran Amir, Cici, dan Ito dalam setiap cerita adalah sebuah kewajiban. Mereka hadir merepresentasikan remaja kota yang punya jiwa kepemimpinan (Amir), pandai bergaul (Cici), dan rajin belajar (Ito). 

Semua idealisasi sengaja dilekatkan pada ketiga tokoh yang menjadi streotipe remaja idaman bagi institusi sekolah, lingkungan pergaulan dan negara. Para pembuatnya menyajikan kehidupan dinamis kaum remaja dengan segala seluk beluknya, yang kemudian diarahkan pada tatanan yang tertib, toleran, patuh, saling menghargai, serta menjauhi sikap perpecahan. Wacana intergrasi sosial sangat dikedepankan dalam ACI.

ACI menghadirkan warna baru di tengah gempuran dominasi produk impor. Butuh kesungguhan panjang untuk memproduksinya. Ide ini terbit dari Depdikbud dan Deppen. Yang kemudian dijabarkan ide tersebut melalui berbagai pertemuan. Pencetus judul serta salah satu penulis naskah ACI, Arswendo Atmowiloto, mencatatkan dalam Kompas, 19 November 1983:“Bukan Instansi, tapi Masyarakat Penonton”. Mereka merumuskan tiga tema film seri yaitu mengenai sejarah perjuangan, sejarah revolusi dan celah-celah kehidupan siswa. 

Kemudian, sibuklah mereka berembuk. Sampai akhirnya disepakati pembagian kerja sementara, pihak Depdikbud yang ditangani oleh Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) menyiapkan naskah jadi, dan pihak Deppen yang ditangani oleh TVRI dan PPFN yang akan memproduksinya. Dari ketiga tema yang digarap, tema terakhirlah yang sudah melangkah pasti untuk diproduksi. Proyek film seri kali ini istimewa dan Arswendo mengamini itu. Tampak sinergi antara pejabat serta pendidik dalam mengilhami pokok-pokok permasalahan, dan para penulis diberikan keluwesan dalam menggarap dan mengembangkan naskahnya. “Ini termasuk istimewa karena biasanya program-program pemerintah, hampir selalu tampil kaku dan formal,” catat Arswendo.

Menyoal tiga tema film seri yang digarap pemerintah, tema sejarah perjuangan dan sejarah revolusi tak kalah ramai disaksikan. Remaja betah menonton. Terpikat dengan gambaran-gambaran aksi heroik dalam film. Remaja butuh sosok ideal dalam kehidupannya sebagai panutan. Lazimnya remaja punya figur hero entah dalam bentuk nyata ataupun fiksi. Imajinasi tentang kepahlawanan inilah yang coba dihadirkan dalam film-film serial ACI bertema sejarah.

Salah satu episode ACI yang memutar tema sejarah adalah Gerbong Maut. Film berangkat dari kisah nyata yang terjadi pada 23 November 1947. Dalam layar diceritakan peristiwa penyekapan ratusan orang dalam gerbong kereta yang berangkat dari stasiun Bondowoso. Mereka yang berada dalam gerbong adalah pejuang Indonesia yang ditangkap Belanda. Puluhan orang mati dalam tragedi itu. Selain Gerbong Maut, pada masa 1980-an ituACI juga menampilkan judul-judul film lain yang bertema sejarah: Api dalam Sekam, Desaku yang Kutinggalkan, Ledakan Tanpa Suara, Mutiara Kembar, Peristiwa Rengasdengklok, Puteraku Putera Pertiwi dan lain-lain.

Tayangan film ACI bernafaskan sejarah tak bisa lepas dari keberadaan mata pelajaran PSPB di sekolah. PSPB atau Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa diusulkan oleh Mendikbud Nugroho Notosusanto dalam Kurikulum 1984. Banyak polemik yang ditimbulkan sejak kemunculan mata pelajaran PSPB. Bentuk pelajaran PSPB dinilai tumpang tindih dengan materi pelajaran Sejarah Nasional. Oleh para sejarawan yang kritis seperti Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dan G. Moedjanto pelajaran PSPB ditolak secara mentah. Prof. Dr. Sartono (Guru Besar Fakultas Sastra UGM) bahkan emoh terlibat dalam penyusunan materi.

Darmaningtyas dalam Pendidikan yang Memiskinkan (2004) berkomentar: “…karena materi ini dinilai lebih bermatra politis daripada proses percerdasan bangsa, karena fokus ‘perjuangan’ yang ditunjukkan hanya pada perjuangan bersenjata dan itupun secara waktu hanya terfokus pada peran Angkatan Darat dalam menghadapi PKI tahun 1965-1966. Perjuangan kaum cendikiawan melalui diplomasi tidak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.” 

Tegasnya, penambahan PSPB sebenarnya dimaksudkan untuk menyenangkan kekuatan politik dominan masa itu, yakni ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), khususnya Angkatan Darat. Sebelum itu, beban ideologi politik pada pendidikan nasional pun sudah terasa berat semenjak adanya pergantian pelajaran Kewarganegaraan menjadi pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pergantian ini memiliki implikasi politik yang cukup besar. Dalam pelajaran kewarganegaraan murid diajarkan kritis terhadap hak-hak dan kewajiaban sebagai warga negara, dimana itu bukanlah sesuatu yang menguntungkan penguasa. Sedangkan pada mata pelajaran PMP murid ditekankan untuk menjadi orang yang taat dan patuh pada ideologi negara, tetapi tidak diperkenalkan pada hak-haknya. Darmaningtyas memandang pendidikan dalam perihal ini sebagai wahana indoktrinasi ideologi. 

Negara menjelma hadir dalam setiap sendi kehidupan warga negara. Mereka tak hanya hadir di ruang-ruang kelas, tapi ikut duduk bersama di ruang-ruang keluarga: menyelinap dalam budaya populer yang ditonton dengan khusyuk oleh para anak dan remaja.


Diaz Keumala H., Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s