Ayah yang Terindah

Dina Aulia

MAJALAH Femina yang bertitimangsa pada 18 Juni 1987 bertajuk “Di mana Kau, Ayah Ideal?” terpatri empat foto sosok laki-laki yang menggambarkan “ayah ideal”. Selain memenuhi tugas pokoknya sebagai pencari nafkah, para ayah ini ikut andil dalam mengurusi buah hatinya. Ebiet G Ade, sang penyanyi dan pencipta lagu, memiliki rasa kesenangan tersendiri saat memandikan anaknya. Goenawan Mohammad, sastrawan dan pemimpin redaksi Tempo tengah menemani Paramita belajar.  

Achmad Hermiadi, karyawan Bank Indonesia, ia tengah menggendong bayinya, cucu dari sastrawan Aoh K. Hadimaja. Hermiadi selalu paham saat anaknya menangis pasti ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, entah pipis atau membutuhkan susu. Begitupun Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog yang tengah memeluk anak bungsunya. Sarlito bertutur soal “ayah gaya baru” seiring bergesernya zaman. Pergeseran peran ayah yang sebelumnya hanya bertugas sebagai pencari nafkah, kini ayah juga dikehendaki agar lebih berperan dalam urusan rumah tangga. Semakin banyak wanita yang bekerja, entah itu desakan ekonomi atau keinginan untuk berkarir menjadi tuntutan pula bagi sosok ayah untuk bisa melakukan segalanya mengganti peran ibu di rumah. 

Matthew yang diperankan oleh Kevin Hart dalam film Fatherhood (2021) untuk memperingati hari ayah, digambarkan dalam film itu sosok “ayah gaya baru” yang diusung oleh Sarlito. Matthew sebagai orang tua tunggal setelah sepeninggal istrinya melahirkan, ia dapat mematahkan perspektif bahwa seorang ayah yang biasanya kurang peka dan tidak memiliki kesabaran dalam mengurus anak, ia dapat membuktikan kalau seorang ayah (orangtua tunggal) dapat membesarkan buah hatinya hingga besar.

Sebagai orang tua tunggal, Matthew tak meninggalkan peran utamanya sebagai pencari nafkah, ia masih tetap bekerja di kantor dengan membawa anak perempuannya. Ia selalu peka saat bayinya menangis dan di rumah pun ia masih harus membersihkan rumah, mencuci pakaian dan selalu terjaga saat anaknya menangis tengah malam. Tidur tenang menjadi kenikmatan yang jarang didapat oleh Matthew. Walau begitu ia selalu senang saat bersama anaknya, mengganti popok bayi menjadi kegiatan yang menyenangkan baginya. Saat membuang popok yang penuh tahi, Matthew melempar popok itu ke ring basket yang akan jatuh tepat di tong sampah laiknya bola basket. Sialnya, sering kali popok yang penuh tahi itu tak tepat sasaran. Alhasil, tahi menempel di dinding rumahnya.    

Berperan sebagai kepala dari banyaknya kepala di keluarga membuat ayah menjadi pemikul tanggung jawab terberat bagi istri dan anaknya. Ayah menjadi cenderung kaku, keras, dan tegas. Anak hanya mengenal sosok ayah sebagai pencari nafkah keluarga. Ayah harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Cinta dan kasih sayang adalah bagian dari sang ibu. Sehingga, tak heran ketika anak menginginkan sesuatu pasti ia akan merengek ke ayahnya karena anak hanya beranggapan sumber uang adalah ayah. Setiap permintaan apapun pasti akan dituruti oleh ayah. 

Jakob Sumarjo dalam Kompas, 18 Januari 1982, menggambarkan peristiwa sebagian ayah tidak lagi dihargai dan disegani oleh anaknya sebagai pribadi orangtua, penghargaan anak terhadap ayah hanya berdasarkan isi kantongnya! Semua ayah, apapun kemujuran dan kemalangan nasibnya dia tetaplah seorang ayah yang pasti ingin dihargai oleh anaknya sebagai sosok pribadi yang dapat dibanggakan, bukan hanya sebagai alat untuk memenuhi tujuan hidup anak. Banyak anak-anak sekarang yang malu mengakui ayahnya di depan umum karena pekerjaan atau fisik ayahnya yang memalukan, sungguh miris. 

Seorang ayah hanya dibanggakan tak jauh dengan iming-iming jabatan, uang, atau tampang saja. Sosok ayah dihargai dan dibanggakan oleh anak bukan karena jabatan, uang atau tampang yang bisa mudah hilang sewaktu-waktu, tapi anak bangga dengan ayah sebagai bagian dari keluarga yang utuh di mana senang dan susah selalu dialami bersama. 

Seorang ayah tidak perlu melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya hanya untuk “diakui” sebagai ayah oleh anaknya. “Diakui” di sini yang berarti dihargai dan dibanggakan. Ayah bukan sesuatu profesi atau pekerjaan yang dapat dipecat jika terjadi kegagalan dan tak memenuhi kualifikasi, ayah akan tetap selamanya menjadi bagian dari keluarga. Ayah harus menjadi kebanggaan karena pribadi dan sikapnya, bukan dari jabatan, tampang dan uang.

V. Lestari dalam Kompas edisi 31 Januari 1982 menyajikan tulisan bertajuk “Ayah yang Ideal”. Dia menjelaskan bagaimana menjadi seorang “ayah yang ideal” dengan dihargai oleh anak dan istri. Sebagai seorang ayah yang ideal, ayah harus selalu meluangkan dan memanfaatkan waktu untuk bersama anak, anak diajari untuk ikut andil dalam berbagai hal seperti membantu menanam pohon atau yang lainnya. Anak harus berperan aktif bukan hanya penerima saja, sistem ini disebut juga gotong royong. Sistem gotong royong akan membantu yang lain sesuai dengan porsi kemampuannya masing-masing, tak ada yang istimewa antara ayah, ibu mapun anak.

Selain waktu dan pola asuh yang harus dilakukan seorang ayah, ibu juga berperan sebagai pencipta pandangan anak kepada ayahnya. Ibu yang cenderung lebih dekat dengan anaknya akan mudah untuk mempengaruhi pola pikir anak, lewat cerita ibu tentang ayah dan cara ibu menghadapi ayah, anak akan memiliki kesan dan pandangan sendiri mengenai ayahnya. 

Pandangan anak terhadap ayah ini pula dapat berubah seiring bertambahnya umur. Ketika anak masih kecil, bisa saja ia membenci ayahnya karena selalu melarang ini itu dan mengatur segalanya. Namun saat dewasa, anak akan sadar bahwa yang dilakukan ayahnya adalah hal yang benar. Sebaliknya, jika ayahnya melakukan korupsi, bisa saja saat kecil anak selalu bangga terhadap ayahnya yang selalu menuruti apapun untuknya. Padahal itu berasal dari hasil korupsi. Saat dewasa ia akan merasa benci terhadap ayahnya karena melakukan hal yang buruk. Bagi V Lestari, ayah yang ideal adalah “ayah yang berusaha giat agar dapat memberi dalam segala kekurangannya.”

Sistem gotong-royong dalam keluarga juga dilakukan oleh Soekarno M. Noer terhadap Rano Karno. Majalah Nova edisi 27 Februari 1986 menceritakan bagaimana saat masa kecil Rano setelah pulang sekolah ia bertugas menggoreng kerupuk untuk membantu ibunya yang berjualan nasi. Soekarno juga mengajarkan kepada Rano agar menjadi orang yang disiplin dan lebih menghargai uang “Kerja keras melawan kemiskinan, mendidik diri kita sendiri untuk menjadi orang yang betul-betul disiplin dan sangat menghargai uang!” ucap Rano Karno.

Soekarno M. Noer saat itu masih menjadi seniman Senen dan belum merambah ke dunia perfilman. Mereka tinggal di kampung GTGT alias Gang Tujuh Gudang Tai di Kemayoran, tepatnya di Kepu Timur, Gang 7 Dalem, RT 7/ RW 3. Gang Kepu termasuk gang dengan padat penduduk, gang dengan panjang 400 m itu diisi oleh 6 RT. Rano tinggal di sana di rumah pavilium yang diisi dengan tujuh anggota keluarga. Cukup menyesakkan di rumah dengan 3 petak itu. Hidup dengan kemelaratan, Soekarno mendidik anak-anaknya dengan keras agar hidup anaknya menjadi lebih baik darinya.

Setelah merambah ke dunia aktor, Soekarno M. Noer mulai mengajak Rano untuk memperkenalkan dunia perfilman hingga akhirnya Rano menjadi bintang film. Bahkan, menjadi sutradara dan produser film Doel yang juga diperaninya. Seorang anak yang mengikuti jejak orangtua ini, tak terlepas dari relasi seorang ayah dalam keluarga. M.A.W. Brouwer dalam bukunya Pergaulan (1986), mengatakan: “Melalui ayah, keluarga mengadakan relasi dengan masyarakat dan dalam keluarga sang ayah mewakili aturan. Kalau ibu melindungi dan mempertahankan, ayah merebut dan membuka jalan untuk berbagai kemungkinan.” 

Selain membuka jalan karier bagi Rano Karno, Soekarno M. Noer juga memiliki aturan pakem bagi Rano agar selalu bersikap sederhana dan tak merasa superior dibanding saudaranya yang tidak bermain film. Di Kompas edisi 15 September 1973, terbaca: “Rano Karno main Si Doel Anak Betawi Mendapat Rp 0,5 Juta tapi tiap harinya hanya boleh bawa Rp 50,- untuk jajan di sekolah.” Walau Rano sebagai seorang bintang film, bukan berarti mengubahbagaimana Soekarno M. Noer dalam bersikap dan mendidik Rano sama dengan saudaranya yang tidak bermain film. Mereka diberikan uang jajan yang sama, sama-sama sekolah dengan naik bus atau bemo dan tanpa perbedaan apapun. Soekarno khawatir kalau ketenaran yang dimiliki Rano akan berakibat buruk pada jiwanya, ketakutan akan merasa lebih hebat dari teman-temannya dan merasa lebih dari saudara-saudaranya. 

Soekarno M. Noer juga mengajarkan kepada Rano, kesuksesannya karena dorongan orang-orang sekitar. Maka, ketika ia menerima honorarium, semua kakak dan adiknya beserta pembantunya pun akan kebagian jatah. Mungkin saja pada saat kecil Rano sangat membenci ayahnya, karena ayahnya sangat pelit dengan memberikan uang jajan yang sedikit. Padahal, saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri yang lumayan besar. Rano masih harus memakai bemo atau angkutan umum ke sekolah di saat dirinya sudah menjadi artis film, dan mungkin saja pada saat itu Rano berpikir bahwa ayahnya tidak adil terhadap dirinya.

Tapi, Rano sekarang paham dan mengerti mengapa ayahnya begitu keras terhadapnya. Rano pun selalu ingat akan pesan-pesan ayahnya: “Rano, kau anaknya orang melarat, tapi kau tidak boleh terlantar dan mati kelaparan karena kemelaratan ini. Kita harus bangkit, tuhan tidak akan menolong kita, kalau kita tidak berusaha menolong diri sendiri, kau harus rajin dan ulet bekerja..!” Hal itu terpatri dalam dirinya saat memimpin sebagai Gubernur Banten pada tahun 2017. Rano menjadi sosok pribadi yang banyak disukai di kalangan masyarakat maupun keluarga.

Dalam buku Si Doel (2016) yang ditulis Rano Karno, banyak menceritakan sosok Rano dan perjalanan kariernya. Rano dikenal sebagai orang yang sederhana, jujur, penyayang, dan lucu oleh orang terdekatnya. Bagi Kinanti, Rano adalah paman yang pendiam, pintar, cerdas, religius, tegas, sabar, penyayang, berkarisma sekaligus lucu. Bagi Yessy Gusman, Rano adalah sahabat yang baik dan jujur. Bagi Mandra, Rano adalah sosok yang sangat sederhana. Saat ia menjadi pemimpin gubernur, ia juga sangat disukai oleh masyarakat. Hal itu semua tak lepas dari pola asuh Soekarno M Noer yang selalu keras menanamkan nilai-nilai moral dan prinsip hidup baginya. 

Brouwer menjelaskan lewat teori Freud mengenai hubungan antara anak laki-laki dengan ayahnya. Kata Freud: “Antara anak laki-laki dan ayahnya terdapat suatu permusuhan yang harus diatasi kalau anak mau berkembang dengan baik.” Permusuhan ini terjadi karena persaingan atraksi afektif antara anak laki-laki dengan ibu dan ayah dengan ibu. Anak cinta kepada ibu dan benci kepada ayahnya yang cenderung menimbulkan konflik. Namun, anak biasanya takut dikebiri oleh ayahnya, mungkin karena ayah harus mempertahankan gengsinya sebagai instansi kekuasaan tertinggi dibanding ibu. Ketakutan itu dapat diatasi setelah anak dapat mengidentifikasikan diri pada ayahnya, agar rasa takut itu hilang dan berkembang menjadi sosok laki-laki sejati pada diri anak. Peristiwa itu banyak terjadi pada masyarakat yang masih menganut sistem patriarkal, ayah menjadi dewa yang maha kuasa.

Peran ayah bagi anak sangat dibutuhkan ketika anak menentang kekuasaan ayah dan mencari jalannya sendiri untuk menguji kekuatannya atau kalau ayah sudah meninggal dunia atau tak mampu mempertahankan kekuasaannya. Hal itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak yang kehilangan ayah akan berkembang dalam keadaan yang kurang aman dan tidak jelas. Anak terlihat mampu berdiri sendiri, tetapi saat menghadapi kesulitan jiwa anak akan rapuh. Anak yatim-piatu sering batinnya rapuh dan cenderung penakut, meskipun di luarnya mereka terlihat kuat dan mampu dalam menghadapi kesulitan hidup. 

Sikap dan pribadi ayah juga dapat mempengaruhi pribadi sang anak. Seorang ayah yang pengecut atau plin plan akan menimbulkan anak laki-lakinya kurang jantan dan anak perempuannya menjadi kurang kewanitaannya. Bagi anak laki-laki pada usia 6-12 tahun, ayah akan menjadi sosok teman atau sahabat yang menemaninya piknik atau bermain agar sifat dan kebiasaanya tak mencerminkan perempuan yang kutu buku, menyendiri, dan kewanitaan. Lalu, pada usia remaja, anak laki-laki akan membutuhkan sosok ayah sebagai penasihat dalam hidup untuk mencari jati dirinya. Bagi anak perempuan, sosok ayah sangat dibutuhkan pada usia 2-5 tahun untuk mengembangkan kewanitaannya. Pada usia remaja kehilangan sosok ayah pada anak perempuan akan lebih terasa karena anak perempuan lebih dekat kepada ayah dibanding ibu. Ayah menjadi jembatan di antara jurang kedekatan anak perempuan dengan ibunya. 

Kita kembali diingatkan oleh lagu “Ayah” dari Ifan Seventeen: Engkaulah nafasku/ yang menjaga di dalam hidupku/ kau ajarkan aku menjadi yang terbaik// kau tak pernah Lelah/ sebagai penopang dalam hidupku/ kau berikan aku semua yang terindah// aku hanya memanggilmu ayah/ di saat ku kehilangan arah/ aku hanya memngingatmu ayah/ jika aku telah jauh darimu.


Dina Aulia, mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s