Taman …

Ghaniey A.

GEMERCIK air dan kicau burung memanjakan telinga. Kumpulan tanaman dan bunga yang berwarna-warni memanjakan mata kala melihat sekeliling tempat nan indah. Begitulah, sedikit gambaran mengenai taman-taman di Indonesia. Taman dibuat guna bersantai, menenangkan diri di tengah hiruk pikuk kehidupan. 

Taman mengalami perubahan makna, ketika secara bahasa diubah terkesan internasional, misal dinamakan park. Makna taman secara bahasa dan imajinasi setiap manusia jadi berbeda-beda. Taman identik dengan hamparan rerumputan hijau. Taman sebagai kumpulan bunga yang ditata rapi.

Bila kita tilik kembali, taman di Indonesia terpengaruh oleh tata kota Eropa kala waktu itu, bangsa Belanda singgah di tanah Nusantara. Di Jawa Tengah tepatnya, namanya Gementee (kota praja) sekarang dikenal sebagai Magelang. Kota dengan sebutan seribu bunga itu, memiliki runtutan sejarah yang menarik mengenai taman.

Taman tak melulu jadi lokasi yang sengaja jauh dari rumah atau tempat tinggal kita. Tetapi, taman itu jadi tempat untuk menenangkan diri agar manusia bisa menyatu dan meresapi alam. Sebab, manusia jadi kesatuan dari alam itu sendiri. 

Oleh sebab itu, peradaban besar di dunia mencatat beberapa sumber literatur: tempat tinggal bangsawan dan orang Eropa pada masa lalu bertanah lapang di depan rumah, ditanami beraneka ragam bunga dan rerumputan hijau yang terawat. Di Bumi Manusia gubahan Pramoedya Ananta Toer, dijelaskan bahwa rumah Eropa identik dengan hamparan taman.

Memasuki abad ke-20, kondisi masyarakat terus mengalami perubahan. Munculnya beribu-ribu informasi membawa kita kepada adopsi kebudayaan dari cara berbusana, berbicara, hingga arsitektur. Hal itu berdampak jua dalan tata kota dan modifikasi taman bagi manusia.

Di Indonesia, taman identik dengan lokasi untuk bersenang-senang dan berpesta pora. Bahkan, taman dialihfungsikan sebagai ajang pertunjukan yang sering berbalut isu atau kerusakan lingkungan. Berserak sampah, hingga bau amis di pojok-pojok taman, menjadi tak menarik kala memaknai taman.

Bahkan, Mochtar Lubis dalam risalah Manusia Indonesia, mengkritik bahwa manusia Indonesia itu kadang keblinger, termasuk memaknai manusia dan alam yang juga tak bisa pernah dipisahkan. Lebih menohok, YB Mangunwijaya menganggap, orang Belanda itu lebih peka terhadap alam dibandingkan orang Indonesia yang selalu kagetan sehingga rela menukar taman menjadi beton-beton. Menelaah kembali pembangunisme, mendirikan bangunan menjulang tinggi dan pabrik-pabrik besar, berisiko mengancam keberadaan taman.

Taman menjadi ruang yang langka. Ketika masuk untuk menikmati komposisi suara alami dari kicauan burung hingga gemercik air yang mengalir, harus terlebih dahulu menyodorkan cuan. Dan parahnya, tanah kosong nan tenang di pinggiran kota itu sudah menjadi lahan industri, tata letak taman terkesan dipaksakan, sehingga luput dari ketenangan pikir.


Ghaniey A., penulis tinggal di Solo 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s