Penamaan

Bandung Mawardi

NAMA sudah dipikirkan sebelum pernikahan. Kebijakan milik orang-orang terlalu berpikiran serius tapi pengharapan besar. Ia masih lajang. Ia belum menikah tapi nama menjadi urusan penting. Hari demi hari, nama itu memperoleh pembenaran melalui kamus, film, pengajian, lagu, iklan, mitos, sepak bola, dan lain-lain. Konon, pembuatan nama ingin berbeda dari miliaran orang di dunia.

Pada saat menikah, nama tetap dipikirkan bagi keturunan bakal diperoleh melalui doa dan ikhtiar. Memikirkan nama tak lagi sendirian. Ada pihak “baru” dalam penetapan atau perubahan. Obrolan mungkin menjadikan nama itu penting ketimbang hal-hal berurusan kehamilan dan persalinan. Pembuatan nama membuat bahagia. Hari-hari berlalu, nama itu diinginkan sungguh-sungguh termiliki oleh manusia terlahir di dunia.

Nama ada duluan sebelum manusia. Situasi itu berlaku pada masa sekarang. Kita melupakan kaget atau polemik. Nama untuk anak menjadi pemikiran setelah ada pemberitaan, penerbitan buku-buku nama, percakapan keluarga, atau kemonceran artis-artis baru. Dulu, nama-nama dipikirkan mengacu sejarah keluarga, ruang sosial-kultural untuk hidup bersama, atau pancaran iman-takwa di keseharian. 

Keranjingan tema nama sempat diramaikan dengan buku-buku memuat daftar nama dan makna. Di toko buku, orang mudah membeli buku mengenai nama. Ada ratusan atau ribuan pilihan dalam menentukan nama. Pelbagai referensi dimuat dalam buku: agama, adat, kebangsaan, dan lain-lain. Sekian buku-buku nama malah terjemahan memiliki pendasaran sedang menjadi panduan bagi jutaan orang di dunia. 

Nama terberikan dan tersahkan menentukan si pemilik dalam daftar presensi, pergaulan sosial, pembentukan identitas, pembuktian keimanan, dan selera ideologis. Nama-nama tak lagi mematuhi kaidah-kaidah diritualkan seperti dilakukan para leluhur. Tata cara berubah meski menimbulkan perdebatan-perdebatan. Nama-nama dimiliki orang-orang Indonesia menjadi selebrasi global setelah sejarah dan tatanan hidup mutakhir memperkenankan beragam bahasa digunakan bersamaan.

Pada abad XXI, ilmu nama tak serumit masa lalu. Pengetahuan dan konsekuensi penamaan dengan acuan-acuan baru. Ritual agak berkurang. Pengumuman nama-nama mulai mencipta selera-selera kebaruan terpengaruh pamrih-pamrih kepuasan, senang, atau keumuman. Argumenasi memang dibuatkan tapi jarang berakar dan terceritakan berkesinambungan.

Dulu, ada penerbitan buku berjudul Nama-Nama Indonesia susunan Ki Hadiwidjana. Buku kecil terbitan Spring, Jogjakarta, 1968. Buku pernah menjadi sumber pengetahuan bagi orang-orang memerlukan “kebenaran” dan pertanggungjawaban makna. Pihak penerbit menjelaskan maksud pemberian nama: “Diperoleh nama-nama jang sedap, enak didengar. Diperoleh nama-nama jang sesuai dengan harapan orang tua. Diperoleh nama-nama jang baik artinja dan sesuai dengan kepribadian Indonesia.” Kalimat terakhir itu keseriusan. Negara diakui penting dan berpengaruh bagi orang-orang berpikiran nama. Konon, nama itu kepribadian Indonesia. Kita menganggap itu perkara terlalu besar. 

Ki Hadiwidjana menerangkan hakikat pemberian nama: “Selamat sempurna tak kurang suatu apa. Mendapat kebahagiaan dan kemuliaan dalam hidupnja. Mendjadi orang jang baik-baik, berdjasa dan berbakti kepada masjarakat, memenuhi tugas atau panggilan Tuhan dialam dunia ini.” Hakikat itu berubah pada abad XXI. Buku berjudul Nama-Nama Indonesia kedaluwarsa tergantikan sumber-sumber bukan buku tapi pencarian melalui internet atau pengamatan atas media-media mutakhir. Ajakan ada kepribadian Indonesia masih terdengar tapi lirih. Kemauan dan pamrih orang-orang memberi anak dalam pergaulan global memungkan perjumpaan hal-hal sakral dan profan. Penamaan tak sekolot masa lalu. Nama menjadi pengumuman “kebingungan” bagi orang-orang ingin menemukan pendasaran referensi dan akibat masa depan. Nama-nama rawan tak “bersejarah” tapi kejuatan-kejutan sesaat membasi. Begitu.   


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s