Satwa

Bandung Mawardi

SEJAK lama, kita dikenalkan istilah klasik dan puitis: margasatwa. Murid-murid SD bisa mengucapkan ulang. Empat huruf a memudahkan pengucapan. Mulut bocah tidak bergantian mengucapkan huruf vokal berbeda. Pengucapan itu semudah pula dengan sebutan tempat ada di pinggiran Solo: TSTJ. Orang-orang mengucap satu kata belakang saja. Dua huruf di depan TJ mudah diucap tapi jarang teringat: taman satwa. Hal terpenting taman itu memiliki satwa, belum terlalu mementingkan tanaman. Ingat taman, ingat satwa.

Kita kembali ke masalah margasatwa. Di majalah Kawanku edisi September 1974, ada tulisan Slamet Soeseno berjudul “Kera Putih”. Para pembaca perlahan ingat bila Slamet Soeseno memang penulis paling rajin menggarap tema satwa di majalah Kawanku dan Intisari. Ia pun menulis buku-buku cerita mengenai binatang atau satwa. Kehadiran tulisan di Kawanku disponsori oleh Pertamina. Bocah-bocah masa lalu mungkin belum mengerti Pertamina. Guru atau orangtua berhak menjelaskan untuk membuat bocah mengerti Pertamina menentukan nasib Indonesia dalam transportasi, industri, memasak, dan lain-lain. 

Nah, logo Pertamina adalah satwa. Logo itu mungkin membenarkan Pertamina menjadi sponsor dalam seri tulisan “Alam Margasatwa” dibuat oleh Slamet Soeseno. Bocah-bocah membaca majalah dipahamkan dengan “Alam Margasatwa” meski ada keinginan untuk memudahkan dengan “Dunia Margasatwa”. Masalah penggunaan diksi “alam” dan “dunia” kadang sulit dijelaskan secara kebahasaan. Sulit hampir sama dengan sebutan tempat di Solo: taman satwa.

Slamet Suseno bercerita kera putih bersumber dari negeri pemilik epos-epos: India. Kita membaca saja: “… yang sampai sekarang pun disegani oleh orang-orang Hindu di India selatan. Sebab, menurut dongeng-dongeng sahibul hikayat, raja kera itu dulu pernah berjasa memberantas kebatilan yang tidak berhak dan menegakkan keadilan yang berhak. Yaitu menolong raja bernama Sri Rama, merebut kembali Dewi Sinta dari tangan raja raksasa Dasamuka, yang tidak bermuka dua saja, tapi sepuluh.”

Di Jawa, kita pernah mendengar lagu berjudul “Anoman Obong”. Lagu berlirik bahasa Jawa bersumber Ramayana. Lagu pernah kondang: Anoman si kethek putih/ Sowan paman, Sinto dijak mulih/ Konangan Indrajit lan patih/ Ning Anoman ora wedi getih// E, lhadalah, Alengko diobong/ Togog Mbilung wao podho pating domblong/ Omah gedhe podho dadi areng/ Dasamuka dadi gereng-gereng. Dulu, bocah-bocah ikut bersenandung sambil mengimajinasikan keberanian kethek putih. Mereka bisa melihat pula di televisi atau panggung pertunjukan untuk mengetahui polah kethek putih. Mereka mengagumi Anoman.

Keampuhan kera putih seperti dijelaskan Slamet Soeseno: “Bagi kera-kera itu, sulur dan batang tanaman menjalar dalam hutan adalah tangga ubin yang licin, sedang batang pohon biasa adalah jalan aspal yang lurus. Tapi yang paling menakjubkan ialah kemampuannya memanjat mundur. Tukang sulap mana di dunia ini yang bisa begitu?” Bocah merasa kagum, lucu, dan penasaran dengan kesaktian kera putih. Hal itu biasa diwujudkan dengan keinginan bocah-bocah mengenakan busana Anoman bila diajak turut dalam panggung seni. Bocah suka menonton pentas seni kadang memilih berfoto bersama Anoman.

Pada masa 1970-an, bocah-bocah diiinginkan terbiasa menggunakan sebutan satwa, sebelum mereka memilih gampang dengan sebutan binatang atau hewan. Pada masa berbeda, buku-buku pelajaran, majalah, dan acara di televisi mengenalkan sebutan fauna. Bocah-bocah memiliki tambahan kata meski kadang agak membedakan citarasa makna. 

Penerbitan buku-buku masa lalu masih mencantumkan margasatwa atau satwa. Pencantuman itu berubah dalam industri penerbitan buku dan pembuatan tulisan-tulisan di media cetak. Kita ingat ada sekian penerjemah novel gubahan George Orwell berjudul Animal Farm. Di terjemahan bahasa Indonesia, judul bisa menjadi Binatangisme. Kita meragu bila diterjemahkan Satwaisme atau Hewanisme atau Faunanisme.

Buku-buku bacaan anak perlahan memilih “binatang” dalam sodoran cerita-cerita memikat. Kita ajukan contoh buku berjudul Kumpulan Dongeng Binatang diceritakan kembali Anne-Marie Dalmais. Buku laris dan berpengaruh terbitan Gramedia, 1981. Buku bila dijuduli Kumpulan Dongeng Satwa mungkin membingungkan bagi bocah-bocah. Buku itu terjemahan dari bahasa Belanda, pernah digemari bocah-bocah di Indonesia. Kini, buku edisi lama itu sudah dicari dan harga mahal: ratusan ribu rupiah.

Kini, kita kangen sebutan satwa. Orang-orang mulai jarang mengucap satwa. Sekian tahun lagi, kata itu mungkin menghilang dari kamus. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, redaksi Majalah Basis, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s