Sekilas Ibu Soed

Setyaningsih

TOKOH itu seorang pencipta lagu anak, Saridjah Bintang Soedibjo atau karib dikenal Ibu Soed. Tulisan panjang di majalah Kawanku, 29 April-5 Mei 1983, menulis Ibu Soed sebagai pelopor pengarang lagu anak-anak, pelopor sandiwara dan operate, penekun seni batik tradisional, dan pelopor batik modern. Pemerintah RI pernah menganugerahi penghargaan sebagai “Perintis dalam Penciptaan Lagu Anak-anak Indonesia” pada 12 Agustus 1969.  Memunculkan ketokohan Ibu Soed di masa pembangunan seperti membuka jeda bahwa tokoh-tokoh “berjasa” bagi perjalanan keindonesiaan dan kebangsaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh tokoh-tokoh dari kalangan militer.

Seperti juga banyak dialami para kaum bumiputera di awal abad ke-20, Ibu Soed juga mendapat semangat bermusik dan pendidikan modern dari orangtua angkat berkulit putih, F. Kramer. Saat itu, F. Kramer berkedudukan sebagai Jaksa Tinggi Sukabumi. Di masa-masa sulit tahun 1952, usai kecelakaan pesawat dialami suami, Bintang Soedibjo, Ibu Soed tertolong oleh batik. Kawanku bercerita, “Ia membatik sendiri dan menjualnya pada para ibu. Bahkan, Presiden Soekarno pun pernah tertarik dan mendorong usaha ini. Ia diberi tempat di Hotel Indonesia dan di dekat Istana untuk memamerkan hasil batiknya itu kepada para turis dan tamu negara. […] Ia pernah melawat ke Jerman Barat sebagai anggota Misi Kebudayaan Seni Batik Indonesia.”   

Pilihan tema-tema lagu Ibu Soed ingin merekam dunia anak yang sederhana, “Harus mampu mengabadikan keindahan alam, hewan/binatang dalam kata-kata yang berbentuk lagu. Selain itu juga harus mampu menerjemahkan harapan, keinginan/impian anak dan tingkah laku mereka ke dalam nyanyian.” Lagu-lagu Ibu Soed mengalihkan anak-anak dari keras situasi politik.

Lagu-lagu Ibu Soed mengalihkan anak-anak dari keras situasi politik.

Tahun 1927, menjadi kali pertama Ibu Soed menciptakan lagu dan setahun kemudian, V.O.R.O (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep) memutar lagu-lagu ciptaan Ibu Soed. Misalnya lagu “Bila Sekolah Usai” dekat dengan emosi dan gerak anak (Lasmidjah Hardi, Sumbangshiku bagi Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran) Buku I: 1982). Ibu Soed mengatakan, “Sesungguhnya lewat lagu anak-anak dapat belajar apa saja. Belajar mengenal keindahan alam, sekolah, orangtua, hewan kesayangan, bunga atau lainnya. Kesadaran untuk mencintai alam, Tuhan, orang tua, nusa dan bangsa, dapat diajarkan lewat nyanyian.”

Setelah kemerdekaan, lagu-lagu Ibu Soed dihimpun dalam buku legendaris Ketilang (1953). Lagu-lagu bertema kecil keseharian merekonsiliasi anak dari keras dunia. Buku ini terus mengalami cetak ulang, salah satunya oleh penerbit Gramedia (1979-1982). Lagu-lagu di antaranya berjudul; “Lagu Gembira”, “Menanam Jagung”, “Burung Ketilang”, “Berkibarlah Benderaku”, “Dirgahayu Indonesia”. Pada banyak lagu-lagu anak berdiksi riang gembira, tetap ada lagu bertema kebangsaan tanpa nuansa patriotik yang terlalu berlebihan. Lagu “Menanam Jagung” mungkin masih bisa diakrabi telinga-telinga hari ini.

Lagu ini sepertinya mampu melintasi tiga zaman: semangat kedaulatan pangan pascakemerdekaan, swasembada pangan Orde Baru, dan kini urban farming dari pekarangan rumah. Cerap, Ayo kawan-kawan kita bersama/ Menanam jagung di kebun kita/ Ambil cangkulmu/ Ambil pangkurmu/ Kita bekerja tak jemu-jemu/ Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam/ Tanahnya longgar jagung kutanam.


Setyaningsih, kritikus sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s