Bersyukur

Bhellinda I Santoso

SEBUAH kisah nyata yang menyentuh diri kita, yang berdasarkan apa yang kita alami sendiri atau cerita sahabat atau orang lain sangatlah membekas di hati dan pikiran. Terkadang, lewat kisah-kisah seperti inilah kita dikuatkan dalam menjalani hari-hari yang berat. Sebab, kita tidak berjalan sendiri, masih ada sanak saudara. Dan, ada orang lain yang memikul beban jauh lebih berat dari beban hidup kita. 

Seperti cerita dari Lina, yang dengan berat hati menuju ke bank untuk mencairkan deposito terakhirnya karena membayar hutang. Dengan tubuh lunglai dan memberat, Lina harus mengikhlaskan simpanan uang terakhirnya. Tapi, dia harus ikhlas, seikhlasnya. Semua demi keluarga karena uang bisa dicari. 

Dalam kemelut hidupnya, tiba-tiba ada seorang sahabat yang mengirimkan pesan lewat Whatsapp: “Lin, aku pesen pepes bandeng 4 ya, frozen, dikirim ke alamatku, ya, uangku transfer.” Seperti tanaman kering yang tiba-tiba disiram oleh air yang segar. Walau tidak banyak, tetapi berita itu sungguh membuat Lina menarik senyumnya. Bersyukur. Lina pun teringat sebuah lagu yang menghangatkan jiwanya 

Seperti pelangi, sehabis hujan

Itulah janji setiamu Tuhan

Di balik dukaku, telah menanti

Harta yang tak ternilai dan abadi

Dibukanyalah buku berjudul Hadiah Terindah berhiaskan gambar-gambar Kim Donghwa.  Buku yang sudah lama ingin dibacanya, tapi tak kunjung jua. 

Dibukanya buku itu. Beberapa waktu kemudian, Lina larut dalam lamunan bersama buku. Di awal buku, dikisahkan seorang ayah yang ingin mengajak keluarganya untuk menonton sirkus. Ayah ini mempunyai delapan anak. Jadi kalau mau membeli tiket seharusnya 2 orang dewasa dan 8 anak-anak. Sesampainya di loket, ternyata uangnya kurang. 

Ada seoarang bapak dan anaknya yang sedang mengantre di belakangnya. Bapak itu melihat kejadian yang menggelisahkan di depannya. Sehingga, sengajalah bapak dengan anak satu menjatuhkan uangnya. Berkatalah dirinya kepada bapak dengan anak delapan:  “Maaf, uang kamu jatuh.” Ia berkata sambil mengedipkan mata. 

Betapa bersukacitanya bapak anak delapan tadi mendapatkan bantuan dari orang yang tidak dikenalnya. Sambil berlinang air mata,  bapak anak delapan mengucapkan banyak terima kasih: “Uang ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.” 

Ayah itu tahu masalah yang dihadapinya. Ia tidak ingin minta bantuan, tetapi yang pasti ia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi yang menyedihkan, sekaligus memalukan.

Secara tidak sadar, air mata ikut mengalir di kedua pipi Lina. Posisinya yang sama dengan ayah anak delapan tadi. Benar janji Tuhan. Amin. Tuhan dapat menolongnya lewat tangan-tangan di luar prediksinya. 

Tiba-tiba, ada panggilan Whatsapp di gawainya. Panggilan mengabarkan ia mendapatkan rezeki dari penjualan madu di media sosial. Di hati, ia bersenandung bersyukur kepada Tuhan. Hadiah terindah selalu diberikan-Nya. Pada setiap kesusahan, ada jawaban yang terindah.


Bhellinda I Santoso, ibu tergabung di Jemaah Selasa, tinggal di Kudus 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s